Oleh: Paundra Jhalugilang

Kabar pembelian gila Cristiano Ronaldo oleh Juventus masih menghiasi layar kaca dan layar HP warganet sedunia. Masih pada tak menyangka dengan kabar ini. Sebagian tak menyangka kalau Juve ternyata mampu membeli pemain yang punya nama akun @cristiano tersebut.

Hampir sebagian memuji langkah “I Bianconeri” merekrut Ronaldo dari Real Madrid. Katanya pembelian itu bakal menggairahkan kembali persepak bolaan Italia yang saat ini sedang meredup macam lampu-lampu warung rokok.

Mimpi jadi kenyataan. Juventini yang tadinya enggak kebayang punya pemain macam Ronaldo di klub kesayangannya, kini girang tak ketulungan. Bikin iri klub-klub Seri A lainnya.

Sudah pasti kedatangan Ronaldo makin menambah kekuatan mereka. Di mana risikonya Seri A jadi makin enggak seru lagi. Ditambah ada isu mogok kerja dari para buruh pabrik FIAT yang merupakan salah satu pemilik Juventus.

Gosipnya di media sosial gaji Ronaldo ditalangi oleh FIAT. Itulah yang membuat kaum buruh iri berat alias jealous melihat gaji tinggi Ronaldo, padahal gaji mereka selama 10 tahun enggak naik-naik. Miris memang, tapi biar lah itu jadi tugas makalah petinggi-petinggi Juve dan FIAT. Buat kita yang ada di Indonesia enggak ada urusannya.

Namun sisi positifnya, kekuatan DNA Eropa mereka bertambah. Lumayan siapa tahu bisa juara Liga Champions yang sudah lama mereka idam-idamkan sejak zaman Soeharto ‘masih enak zamanku tho’.

Bukan cuma dari sisi kekuatan skuat, tapi juga dari hitung-hitungan uang. Meski Juve harus membayar mahal dan menggaji besar, sepertinya sudah dihitung dengan cermat oleh Direktur Keuangannya Juventus.

Waktu ada kabar Juve mau beli Ronaldo selama tiga hari saja, harga saham mereka sudah naik berlipat-lipat. Setelah pengumuman, jersey Ronaldo langsung diserbu fans. Bahkan situs Juventus dikabarkan sempat down. Otomatis market size Juve makin luas seiring pemain besar macam Ronaldo sudah pasti punya die hard fans-nya.

Kabarnya, kalau dihitung-hitung Juve sudah balik modal hanya dalam satu tahun. Jadi sepertinya memang perekrutan Ronaldo ini murni bisnis bagi Juve. Pasalnya, gaya perekrutan seperti ini memang bukan Juve banget.

Instan Ala Indomie

Ya, Juve memang jarang banget beli pemain mahal mega bintang macam Ronaldo. Tim berkostum belang-belang macam zebra cross perempatan Pancoran itu lebih suka membeli pemain mentah atau setengah jadi.

Mereka lebih mengutamakan memproduksi pemain bintang ketimbang beli pemain yang sudah jadi bintang. Oleh Juve, pemain yang berpotensi jadi bintang dibeli dan diolah jadi pemain super. Tidak apa-apa rada mahal, tapi potensial jadi bintang. Contohnya Alessandro Del Piero, Zinedine Zidane, Gianluigi Buffon, Pavel Nedved, sampai Zlatan Ibrahimovic.

Sedangkan pemain bintang yang sudah jadi, yang pernah dibeli Juve dengan harga mahal bisa dihitung dengan jari. Paling-paling Roberto Baggio, dan belakangan adalah Gonzalo Higuain.

Bagaimana dengan Paulo Dybala, Miralem Pjanic, Alex Sandro, Federico Bernadeschi, dsb? Mereka memang dibeli mahal, tapi statusnya belum bintang-bintang amat. Secara pengalaman masih minim.

Namun belakangan Juve lebih suka dengan cara yang dipakai Indomie untuk membuat perut kenyang dengan instan. Cukup masak air sampai mendidih, jadilah mie goreng yang wanginya ngajak berantem itu.

Higuain adalah contohnya. Dengan cuek bebek, tanpa ada kabar sebelumnya, Juve tiba-tiba membeli Higuain dari rival terdekat, Napoli, sekaligus memecahkan rekor transfer di Seri A.

Cuma bertahan dua tahun saja, Juve memecahkan rekor transfernya sendiri dengan merekrut Ronaldo. Nama Ronaldo ini semua orang sudah pasti tahu. Bahkan ibu-ibu di grup What’s App sudah pasti tahu siapa itu Ronaldo. Pemain sepak bola terbaik di dunia.

Memang tidak ada sejarahnya Juve membeli pemain terbaik di dunia dengan harga mahal. Baru kali ini saja.

Nama Pemain Lebih Besar

Yang kedua, Juve merupakan klub yang tak pernah mengutamakan pemain bintang. Status bintang terjadi begitu saja, tak dibuat-buat atau diberikan hak spesial, atau dianak-emaskan.

Kalau sudah jadi pemain Juventus, ya namanya adalah ‘Juventus’, bukan Buffon, Del Piero, Zidane, Nedved, Dybala, atau Higuain. Mereka selalu berprinsip bahwa nama pemain tidak boleh lebih besar dari nama klubnya. Tidak ada satu pemain yang keseringan jadi sorotan.

Hal itu untuk membentuk kekompakan dan kesolidan tim. Tidak ada yang namanya pemain bintang. Semua disama-ratakan. Supaya tidak ada yang egois, mau jago sendiri.

Itu yang pernah terjadi di beberapa tim contohnya Madrid pada era 2000-an. Jor-joran beli pemain bintang, dikumpulkannya jadi satu tim bertajuk “Los Galacticos” nyatanya pemain-pemainnya malah enggak kompak. Bintang-bintang itu ingin aksi dan caper sendiri yang akhirnya merusak kekompakan tim. Juve tidak seperti itu.

Tapi dengan kedatangan Ronaldo, jelas bahwa sepertinya ini bukan Juve banget. Pemain berwajah ganteng permanen itu datang ke Juve dengan status pemain bintang. Dia bakal mendapat sorotan jauh lebih besar dari teman-temannya.

Bahkan dengan gaji yang jauh lebih besar berlipat-lipat. Jika lima pemain Juve bergaji paling tinggi dikumpulkan semua, Higuain, Dybala, Khedira, Pjanic, dan Douglas Costa, tetap Ronaldo lebih gede macam otot pahanya.

Bukan tak mungkin ada kecemburuan sosial timbul di ruang ganti mereka. Semoga saja tidak.

Tak Ada Lagi DNA Italia

Ambisi besar Juventus menjuarai Liga Champions membuat mereka mulai kehilangan DNA Italianya. Pemain-pemain yang dibeli dalam beberapa musim terakhir merupakan TKA alias Tenaga Kerja Asing.

Memang, di Turin sana tak ada isu ketenagakerjaan asing kayak di sini. Tapi itu menggeser kebiasaan mereka dalam merekrut pemain-pemain asli Italia.

Juve merupakan tim yang Italia banget. Bahkan salah satu julukannya saja “La Fidanzata D’Italia” yang artinya kekasihnya Italia. Jumlah fans Juve di Italia paling banyak, begitu juga dengan representasi mereka di timnas yang dikenal banyak menyumbang pemain.

Sayangnya, kalau kita melihat skuat Juve saat ini sudah mulai minim nama-nama Italianya. Cuma ada 11 pemain saja yakni De Sciglio, Chiellini, Marchisio, Barzagli, Pinsoglio, Perin, Rugani, Sturaro, Bernadeschi, Spinazzola, dan Caldara. Yang langganan jadi starter mungkin cuma Chiellini saja.

Kehadiran duo Portugal, Cancelo dan Ronaldo, sudah dipastikan mengisi tempat di kursi utama. Makin mengikis nama-nama Italia yang sudah jadi DNA mereka.

Mungkin memang pemain-pemain Italia saat ini mengalami krisis. Sudah tak ada lagi yang punya level kejagoan tingkat dunia seperti zamannya Buffon, Cannavaro, Pirlo, Del Piero, Gattuso, Maldini, dan Totti. Buktinya, lolos ke Piala Dunia 2018 saja enggak.

Perlu diapresiasi langkah Juve merekrut Perin, De Sciglio, Spinazzola, dan Caldara. Belakangan mereka juga mengincar Matteo Darmian, Lorenzo Pellegrini, dan Alessandro Florenzi.

Sepertinya ada keinginan kembali meng-Italiakan Juventus seperti zaman keemasan 1996 di mana cuma ada enam pemain asingnya. Memang seharusnya itu yang Juve lakukan, menciptakan pemain bintang Italia seperti yang biasa mereka lakukan.

Dulu, nama Angelo Di Livio, Ciro Ferrara, Angelo Peruzzi, Del Piero, Christian Vieri, Alessio Tachinardi, Gianluca Pessoto, sampai belakangan ada Zambrotta, Camoranesi, dan Buffon, bukanlah pemain bintang macam Ronaldo ketika direkrut oleh Juventus.

Tapi Juve mengolahnya jadi pemain-pemain super. Sehingga membuat Italia jadi punya pemain-pemain bintang kelas dunia. Itulah yang harusnya Juve, juga Milan, Inter, dan Roma lakukan. Kualitas pemain di timnas akan terangkat lewat level permainan di klub.

Sama-sama Humble?

Meski perekrutan Ronaldo ini bukan Juve banget, tapi patut kita lihat juga sisi positifnya. Bukan dari sisi kekuatan dan finansial. Tapi Juve dan Ronaldo ternyata punya banyak kesamaan. Mungkin itu bisa jadi chemistry baik buat mereka berdua supaya langgeng jalannya.

Ronaldo merupakan sosok yang terlihat arogan, tapi sebenarnya dia adalah orang yang sangat humble dan rendah hati. Seperti halnya dengan Juventus.

Ronaldo kelihatannya songong, tapi banyak video di Youtube menunjukkan kerendahan hatinya. Bagaimana dia menyambut fans, jadi ayah angkat Martunis, sampai tak pernah mentato tubuhnya dengan alasan donor darah secara rutin.

Juve juga dikenal humble. Humble di sini maksudnya punya sisi personal yang tidak macam-macam dan saling menghargai. Baik dari staf klub atau pemainnya. Tidak ada sejarahnya Juve punya pemain berperilaku tengil macam Antonio Cassano atau Mario Balotelli, meski pernah menyatakan minat.

Itulah mengapa Juve selalu punya pemain-pemain yang loyal. Kerendahan hati dan saling menghargai selalu jadi yang utama di tim mereka. Itulah mengapa, mereka menendang Leonardo Bonucci dan Dani Alves karena gosipnya sudah tak ada lagi rasa “saling menghargai” di tim mereka.

“Di saat kami mencari seorang pemain. Hal yang pertama yang akan kami lihat adalah karakter dari pemain tersebut, bukan potensi atau bakat yang dimilikinya,” kata Antonio Conte, beberapa tahun lalu.

Juventus selalu minta pemainnya untuk rendah hati. Jangan sombong jika baru menang sekali. Bisa jadi karena mereka pernah merasakan pahitnya lembah hitam degradasi. Jadinya enggak mau berucap yang macam-macam.

“Musim 2010-2011 adalah tahun keuangan terburuk dalam sejarah Juventus. Tapi kami memulai lagi dari sana. Kami meminta semua orang rendah hati dan dedikasi. Itu adalah prinsip dasar sejarah klub. Sekarang kami ingin membuatnya menjadi tujuh, delapan scudetto beruntun,” kata Andrea Agnelli, tahun lalu.

Hal itu juga terlihat dari fans Juventus saat memberikan standing applause untuk Ronaldo. Tak semua tim bisa bersikap gentle semacam itu, dibantai 0-3 di kandang sendiri, tapi memberikan apresiasi tinggi buat pemain lawan. Itulah yang bikin Ronaldo turut jatuh hati kepada Juventus.

Tekad, Disiplin, dan Kerja Keras

Kesamaan kedua, Juve dan Ronaldo sama-sama memiliki personal kuat. Mereka memiliki tekad kuat, pekerja keras, kedisiplinan tinggi, serta sistem yang rapi. Ronaldo, meski sudah berusia 33 tahun, tapi penampilannya masih seperti pemain 23 tahun.

Ronaldo lahir dari keluarga miskin, jalan hidupnya penuh kisah pilu. Mungkin sama juga kayak Juve yang pernah pilu didegradasi dan jadi bahan per-bully-an jagad maya.

Ronaldo memiliki tekad kuat jadi orang sukses. Setelah sukses, dia tidak berhenti begitu saja. Tapi tetap melanjutkan kesuksesannya itu tanpa mengurangi porsi latihan, bahkan malah menambah porsi latihan.

Dia melatih otot tubuhnya untuk meningkatkan kebugaran dan meminimalisir kemungkinan cedera. Wajar kalau badannya itu bidang banget, otot pahanya juga sudah seperti beton penyangga MRT.

“Ronaldo jadi hebat karena latihan keras. Dia jadi yang terbaik di dunia karena dia berlatih untuk itu. Dia terus memacu diri,” kata Luiz Felipe Scolari.

berita
Perkembangan otot Ronaldo. (Source: TopSkor)

Bukan cuma tekad kuat, tapi juga kedisiplinan dalam kehidupannya. Ronaldo jarang tergoda untuk beralkohol-ria. Banyak pemain terbuai dengan dunia malam, sampai mabuk-mabukan yang sudah pasti mabuk dengan bir-bir mahal, bukan level minuman Intisari. Ronaldo tidak begitu-begitu amat.

Ronaldo sebisa mungkin beristirahat yang cukup. Selalu teratur makan ikan, di restoran cenderung memesan salad. Gaya hidupnya saja disiplin, apalagi kalau latihan di tim.

“Makan teratur. Jika Anda berlatih secara teratur, penting untuk menjaga tingkat energi tetap tinggi untuk mengisi tubuh Anda untuk kinerja yang lebih baik. Saya terkadang makan hingga enam porsi kecil sehari untuk memastikan saya memiliki cukup energi untuk melakukan setiap sesi di tingkat atas,” kata Ronaldo, dikutip dari TopSkor, April 2018.

Juventus? Tak usah ditanya. Mereka merupakan klub yang memiliki sistem begitu rapi. Kedisiplinan dan kerja keras jadi hal yang utama. Kalah menang hal belakangan, yang penting usaha dulu, jatuh bangun sampai berdarah-darah jika perlu.

Semua pemainnya dipantau ketat. Tidak boleh sembarangan pergi, atau berbicara dengan media. Semua sudah diatur dalam sistem yang rapi. Wajar kalau Cassano pernah menolak mereka.

“Saya pernah tiga kali menolak ke Juve, mereka hanya menginginkan seorang prajurit. Mereka ingin pemain yang mau mantaati arahan mereka tanpa pengecualian,” ucapnya, pada 2012.

Mungkin itulah sedikit opini mengenai kabar heboh datangnya Ronaldo ke Juventus. Satu sisi, ada gaya yang bukan Juve banget dalam mendatangkan pemain ke tim mereka.

Tapi di satu sisi, sebenarnya Juve dan Ronaldo ini memiliki gaya yang sama. Kemiripan keduanya sudah ada, tinggal menunggu bagaimana chemistry-nya setelah ini.

Ronaldo mungkin tak mencetak gol sebanyak yang ia lakukan di Real Madrid. Maklum, sepak bola Italia lebih tertutup dan lebih kejam dibandingkan sepak bola Spanyol. Tapi menarik menantikan aksi-aksinya musim ini. Semoga sukses di Juventus, Ronaldo!

Main photo: BBCSport


Paundra finPaundra Jhalugilang

Penulis adalah pemuda harapan bangsa yang biasa-biasa saja. Bekas wartawan tanpa pengalaman yang melihat sepakbola dengan penuh pesona. 

4 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here