Oleh: Muhammad Ghozy Ihsan

Peristiwa keberhasilan Denmark merengkuh trofi Euro 1992 mungkin menjadi salah satu penyesalan terbesar yang telah dilakukan oleh Michael Laudrup dalam karier sepak bolanya. Ketika itu Michael Laudrup dan Brian Laudrup adalah sepasang kakak beradik penuh talenta yang amat dielu-elukan publik Denmark tetapi tidak terlibat dalam keberhasilan Tim Dinamit memenangi turnamen tersebut.

Michael yang berposisi sebagai attacking midfielder yang bahasa kampungnya adalah ‘penyerang lubang’ memang amat berperan sebagai pengatur tempo permainan dan serangan sekaligus upstream aliran bola tim.

Pemain berpostur 183 cm ini seringkali dianggap salah satu talenta terbaik sepakbola skandinavia abad ke-20. Permainannya bagaikan fusi antara kecerdasan Zinedine Zidane dipadu dengan kelincahan Andi Oddang.

Berawal dari kesuksesan di tim lokal Brondby, ia pun merapat ke berjuluk La Vecchia Signora di warsa 1983, namun di klub berkostum hitam putih tersebut berlangsung singkat hingga akhirnya ia dilego ke klub ibu kota Lazio tanpa sepengetahuannya. Kurang ajar memang Juventus ini, diam-diam main belakang walau kadang main belakang enak juga.

Sebelum akhirnya ia kembali ke Juventus dan menyabet titel Scudetto 85/86, berselang 3 tahun ia pun pindah ke Spanyol dan berlabuh di skuat besutan Johan Cruijff, Barcelona. Di Barcelona ia berhasil merengkuh 4 gelar liga berturut-turut, tak ketinggalan, satu piala Copa del Rey, serta trofi Super Copa de Espana, dan Piala Champions berhasil menghiasi kabinet trofi milik bintang yang tak pandai berbahasa Manado tersebut.

Pada musim 1994, ia pun memutuskan untuk hengkang dari klub katalan tersebut ke seteru abadi mereka, Los Merengues. Ini pula menambah senarai pemain sempat berkostum dwitunggal penguasa La Liga sebelum Samuel Eto’o, Ronaldo ‘bener’, serta Luis Figo mengikuti jejaknya.

“Kami kubur jejaknya, kita membangun bersama tuhan yang baruu, dunia yang berani semua orang berseru…” Begitulah kata sebuah grup Indie yang paling edgy.

https://twitter.com/FootyHumour/status/1269587393155338242

Kala itu Los Galacticos Dihuni oleh para mega bintang seperti Ivan Zamorano, Emilio Butragueno, juga Fernando Hierro, dengan komposisi pemain yang rancak Real Madrid berhasil merusak hegemoni Barcelona dalam raihan gelar La Liga setelah empat kali beruntun Los Blancos meraihnya.

Michael pun terpilih sebagai pemain asing terbaik Liga Spanyol versi Marca dan torehan itu menyempurnakan seluruh capaian yang pernah ia gondol di Negeri Matador tersebut.

Di balik kegemilangan sang pemain ia juga memliki semburat hitam dari cetak biru bahtera kariernya dan agak kurang tepat apabila kita membaiat dirinya sebagai potret sempurna dari ikon sepakbola.

Prolog dimulai ketika Tim Dinamit gagal lolos untuk melaju ke putaran final Euro 1992 kala itu. Kendati demikian takdir berpihak untuk Denmark. Yugoslavia sebagai negara yang seharusnya berlaga di turnamen tersebut  diganjar penalti dari UEFA berupa larangan untuk berlaga di turnamen euro 1992 karena perang saudara.

Bagai dapat durian runtuh ditambah adsense Youtube yang melimpah, Denmark mendapat kesempatan menggantikan Yugoslavia dan berhak lolos untuk berlaga di putaran final sebab ia berada di posisi kedua dalam klasemen grup kualifikasi Euro 1992.

Kendati demikian Michael memilih untuk tak bernaung dalam skuat asuhan Richard Moller Nielsen. Sebenarnya Michael Laudrup merupakan langganan tim nasional, tapi memilih untuk mangkir dalam keikutsertaan di Euro 1992 karena perselisihan dengan pelatih kepala kala itu, Richard Moller Nielsen.

Michael memonten bahwa Tim Dinamit tak memiliki skuat yang cukup kompeten untuk berlaga di turnamen Euro 1992, sekaligus ia berpandangan bahwa Nielsen tak cukup cakap sebagai cartaker tim, sebab ia tidak begitu dihormati oleh para anak asuhnya dalam tim. Sehingga Michael memutuskan untuk melanjutkan masa cutinya.

https://twitter.com/EURO2020/status/1267758355008946176

Apa lacur, Tim Dinamit berhasil keluar menjadi kampiun di turnamen tersebut setelah di partai puncak berhasil mengalahkan Der Panzer dengan skor 2-0 berkat ukiran gol dari Kim Vilfort dan John Jensen, kemenangan itu akan menjadi salah satu kejutan terbesar dalam sejarah sepak bola, kemenangan tersebut pun ditahbiskan menjadi prestasi olahraga terhebat yang dimiliki Denmark.

Kejadian tersebut pun diamini oleh salah seorang jurnalis olahraga Denmark, Jan Kjeldtoft, “Kami mungkin tidak akan pernah memenangkan gelar bersamanya di tim. Tanpa keraguan, ia adalah salah satu pemain terbaik di dunia pada waktu itu. Tetapi cara tim bermain sepakbola sangat berbeda. Itu membela dan serangan balik.”

“Dengan dia di antara sebelas, saya pikir kami akan kehilangan banyak tekel dan mungkin kami tidak akan menang. Jadi ini adalah cerita yang aneh karena Anda dapat memiliki pemain terbaik di dunia dan menjadi tim terbaik tanpa dia,” sambungnya lagi.

Apapun yang terjadi kala itu bak fiksi mahsyur gubahan Hans Cristian Andersen membuat seantero Denmark mengernyitkan dahi “eh, serius nih” dan seakan tak percaya akan hal itu. Memang ini bukan sekadar kemenangan sebuah tim dalam kejuaraan sepakbola, tapi lebih dari itu.

Ini adalah kemenangan akan seluruh rakyat Denmark dalam pola pandang terhadap diri sendiri yang tak lagi menganggap sebagai bangsa inferior dan menggelak atas kesengsaraan mereka. Mungkin sama halnya saat Yunani menjuarai trofi serupa pada 2004.

”Denmark memiliki pemain terbaik di dunia pun mampu menjadi yang terbaik di dunia meski tanpa pemain terbaik di dunia,” pungkas Kjeldtoft, dan ia berpikir bahwa ketidakhadiran Michael Laudrup adalah berkah tersembunyi. Ya mungkin akan lain ceritanya jika Laudrup ada di tim Denmark saat itu. Bisa-bisa rekan-rekannya jadi tidak lepas mainnya.

Buat Laudrup, kalau ente baca ini dengar cakap orang tua, “jangan kau jumawa bila dah berjaya dalam kerjanya”. Sekarang ente lebih cocok mendengar lagu Young Lex feat. MASGIB, “sekarang lo nyesel kan…”


Muhammad Ghozy Ihsan

Meninjau sepak bola dari kacamata lumba-lumba secara bernas, aktif menyokong Atletico de Madrid

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here