Bagi sebagian anak muda masa kini, jadi vlogger merupakan mimpi dan kebanggaan buat mereka. Bahkan ada yang menangis di depan kamera untuk menambah sensasi. Jelas berbeda dengan Manuel Locatelli. Pemuda harapan bangsa Italia itu menangis tersedu-sedu saat timnya meraih kemenangan menegangkan 4-3 atas Sassuolo.

Ya, tentu ini tak ada hubungannya dengan vlogger dan Locatelli juga mungkin tak ada niat menjadi seorang vlogger. Yang perlu dicatat adalah kegembiraannya bagaikan seorang pemuda yang berhasil menyatakan cinta dan diterima sang wanita.

Mimpinya sejak kecil menjadi pemain Milan dan mencetak gol di San Siro akhirnya menjadi kenyataan. Itulah yang membuatnya menangis di lapangan saat melakukan selebrasi gol penyeimbang 3-3 saat baru bermain 13 menit menggantikan Riccardo Montolivo.

Locatelli tangis-tangisan di lapangan. Credit by Goal.com
Locatelli tangis-tangisan di lapangan. Credit by Goal.com

Golnya pun bukan biasa-biasa saja. Locatelli yang baru seumur jagung itu mampu mencetak gol cantik usai menerima bola sapuan bek Sassolo. Melalui tendangan first time, bola yang berbentuk bulat tersebut menghantam gawang Andrea Consigli tanpa alasan.

Pemain yang lahir pada zaman reformasi itu kemudian berlari dan berteriak histeris seperti saat sedang bertemu artis Korea. Air matanya tak kuasa ditahan, kemudian jatuh menetes di pipinya yang menggemaskan itu. Sembari dipeluk Mbaye Niang.

Gelandang bernomor punggung 73 itu juga kembali menangis saat diwawancara Mediaset. Dia meladeni wawancara itu masih berurai air mata bak Miss Universe. Tangisannya bahagia ditambah ucapannya yang terbata-bata seperti  saat ijab kabul.

Menurutnya, gol itu merupakan mimpinya sejak masih bocah. Sebuah mimpi yang sangat keren. Di mana pada saat bocah-bocah lain masih sibuk main rautan kaca untuk mengintip rok anak perempuan, dia sudah berpikir bagaimana caranya bisa mencetak gol di San Siro.

Tendangan tanpa alasan. Credit by @acmilan
Tendangan tanpa alasan. Credit by @acmilan

“Gol ini saya dedikasikan untuk keluarga serta semua orang yang percaya dengan saya. Ini adalah momen yang ditunggu bagi semua bocah dan saya masih tidak mempercayainya. Bagaikan mimpi,” ujarnya kepada Mediaset. “Ketika saya mendengar sorakan penonton saya masih tak percaya. Saya kemudian berlari dan ternyata ini benar terjadi. Bukan mimpi.”

Jelas itu bukan mimpi, apalagi mimpi basah. Wajar jika Locatelli amat senang karena ini merupakan gol perdananya bagi seragam merah bergaris hitam atau hitam bergaris merah itu. Pemain berusia 18 tahun itu mulai dipercaya oleh pelatih Vincenzo Montella yang sudah memainkannya empat kali musim ini meski dengan status pemain pengganti.

Jika mampu bermain secara reguler, bukan tak mungkin dirinya dapat menjadi harapan bangsa untuk menggantikan peran Claudio Marchisio, Daniele De Rossi, Riccardo Montolivo, atau mungkin sang legenda Andrea Pirlo.

Pemain seumur Locatelli memang perlu bersabar untuk bermain di Italia. Semoga Locatelli tidak seperti “telli-telli” lainnya di Italia yang gagal bersinar. Sebut saja Mario Balotelli dan Cristiano Lupatelli.

Simak wawancaranya jika mengerti bahasa Italia!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here