Oleh: Paundra Jhalugilang

Cristiano Ronaldo sudah resmi meraih gelar kelimanya untuk Ballon d’Or. Prestasi yang sangat membanggakan bagi pria yang sejak kecil suka main bola di Portugal itu. Dia menyamai perolehan Lionel Messi yang juga sama-sama lima trofi.

Gelar individu sudah bukan lengkap lagi, tapi cenderung berlebih. Lima kali, ya lima kali tampaknya sudah berlebihan bagi seorang pemain bola. Sholat Zuhur saja rakaatnya cuma empat, ini Ronaldo dan Messi bisa sampai lima.

Tinggal satu gelar lagi yang belum diraih Ronaldo, yakni Piala Dunia bersama Portugal. Sama ada beberapa trofi lagi yang belum pernah diraihnya, macam Liga 1 GO-JEK-Traveloka dan Liga Champions Asia atau Afrika.

Jika dilihat pemetaannya, Messi dan Ronaldo sudah menguasai Ballon d’Or dalam 10 tahun terakhir. Ganti-gantian saja mereka, 2008 dipegang Ronaldo, lalu tahun berikutnya selama empat kali berturut-turut dipegang Messi.

Lalu pada 2013 dan 2014, Ronaldo menggugurkan kedigdayaan Messi. Pada 2015 Messi nyempil sekali, sebelum 2016 dan 2017 dikuasai Ronaldo lagi. Kalau dilihat-lihat, seolah dunia hanya milik mereka berdua. Yang lain mengontrak.

Pertanyaannya, bosankah kita pada Ronaldo dan Messi? Pemenang Ballon d’Or itu-itu lagi. Dia lagi, dia lagi. Seperti tidak ada pemain lain saja. Padahal pemain bola di dunia ini ada banyak banget. Jauh melebihi jumlah napi yang ada di LP Cipinang.

Itu belum termasuk pemain terbaik Eropa, yang tetap saja mereka lagi-mereka lagi. Skuat terbaik Eropa ya juga sama. Lini depannya sudah pasti diisi mereka berdua sejak 2008.

Cuma gantian satu orang saja, kadang Fernando Torres, kadang David Villa, pernah juga Wayne Rooney, Arjen Robben, Zlatan Ibrahimovic, Luis Suarez, dan terakhir yang mulai member adalah Neymar.

Pertanyaan berikutnya, apakah tidak ada pemain yang bisa mengalahkan hegemoni mereka berdua? Perlu diakui bahwa tahun dua-ribu-belasan, entah bagaimana menyebutnya dekade ini, memang dekadenya mereka berdua.

Kalau bukan Messi ya Ronaldo. Kalau bukan Ronaldo ya Messi. Dari segi statistik tak usah ditanya dan dijabarkan, sudah banyak banget gol, assist, dan piala yang segudang. Melebihi gudang Sarinah. Persaingannya sudah ketat banget, makanya suka tercipta meme-meme indah mengenai mereka berdua.

Intinya, ya memang mereka berdua itu jago banget. Sudah bukan legend lagi, tapi alien. Entah berasal dari planet mana. Kalau mesti melawan Planet Namec juga pasti menang. Setidaknya kalau Planet Bumi ikut Piala Antariksa, Bumi cukup aman punya mereka berdua.

https://twitter.com/SportPesa/status/939083100545601536

Sayangnya, dominasi Ronaldo-Messi, mungkin bisa disingkat “Rossi” atau “Nasi”, semacam tak ada yang bisa mematahkannya. Pemain lain ke mana?

Entah karena “Rossi” yang terlampau jago dan hebat, atau karena pemain lain terlampau lemah syahwat. Selalu gagal menandingi Ronaldo-Messi. Padahal main bola itu kan gampang, tinggal tendang bolanya saja.

Coba lihat Ronaldo dan Messi, cuma gitu-gitu doang main bolanya. Gocek sedikit, menendang ke gawang lalu gol. Enggak ada yang sampai terbang atau berlari di udara kayak film-film kolosal macam Tutur Tinular. Apalagi, mereka sama-sama makan-makanan manusia, bukan makanan khusus yang didatangkan dari manusia bawah tanah.

Inilah yang jadi pertanyaan, kenapa tidak ada yang bisa mengalahkan Ronaldo dan Messi? Padahal banyak pemain yang sama jagonya dengan Messi. Sebut saja pemain-pemain Barcelona atau Real Madrid.

Ada yang namanya Xavi, Andres Iniesta, Iker Casillas, Gareth Bale, Sergio Ramos, Gerard Pique, Sergio Busquets, dan Karim Benzema. Semua juga pemain-pemain mutan bintang lima. Tapi kenapa yang kepilih lagi Ronaldo atau Messi?

Jika kita bandingkan sebelum era Ronaldo dan Messi, pemenang Ballon d’Or selalu bergantian. Johan Cruyff dan Franz Beckenbauer pernah mendominasi kayak Ronaldo-Messi sekarang, sekitar tahun 1970-an. Anak-anak Milenial belum pada lahir, dibuat saja belum. Wong masih zamannya generasi Baby Boomers.

Tapi dominasi mereka tidak sampai 10 tahun kayak sekarang. Cruyff cuma tiga kali dapat Ballon d’Or, dan Beckenbauer cuma dua kali. Di sela-sela mereka masih terselip nama Oleg Blokhin, Allan Simonsen, Kevin Keegan, dan Karl-Heinz Rummenigge.

Michel Platini pernah tiga kali berturut-turut dapat trofi serupa, tapi tidak lebih. Begitu juga dengan Marco van Basten yang cuma tiga kali, tapi tidak secara beruntun. Masih diselingi Lothar Matthaeus dan Jean-Pierre Papin.

Pada era 1990-2000-an, ada Ronaldo ‘botak’ dan Zinedine Zidane yang dulu jadi Ronaldo-Messinya era tersebut. Tapi tidak sampai mendapatkan Ballon d’Or berkali-kali.

Lalu muncul nama Kaka, Rivaldo, Pavel Nedved, Andriy Shevchenko, dan paling fenomenal adalah Fabio Cannavaro. Pertama kali dan satu-satunya sampai sekarang Ballon d’Or diraih oleh seorang bek.

Barulah pada 2008, era Ronaldo-Messi dimulai sampai saat ini. Jadi idolanya kids zaman now. Kalau ditanya anak-anak SD zaman sekarang, rata-rata menyebutnya antara mereka berdua.

Lantas, kenapa bisa berbeda dengan zaman 2000-an dan sebelumnya. Dulu trofi Ballon d’Or bisa diraih bergantian. Beda sama sekarang yang cuma dua manusia itu saja. Padahal, banyak kok pemain bagus yang berderet saat ini.

Mungkin kalau diajak main data, ya memang Messi dan Ronaldo datanya sudah segambreng. Bisa jadi itu yang membuat mereka berdua terus-terusan meraih gelar individu. Datanya tidak bisa dikejar pemain lainnya.

Pertanyaan berikutnya, kenapa mereka bisa menciptakan data sebanyak itu? Gol, assist, passing, menciptakan peluang, shot on goal, dan tetek bengek lainnya itu. Kenapa bisa segitu mudahnya?

Padahal, main bola itu tidak bisa sendirian. Pasti ada bantuan rekan-rekannya sehingga mereka bisa membuat gol dan assist sebanyak itu. Tapi kalau tak ada rekan-rekannya, Messi dan Ronaldo hanyalah remahan sayap-sayap laron pada musim penghujan.

Enaknya disapu lalu dibuang ke tong sampah karena tak ada gunanya. Ya siapa juga yang bisa main bola sendirian, tanpa bantuan 10 pemainnya. Kalau main bola sendirian malah bisa dianggap gila.

Messi dan Ronaldo memang jago, skill-nya tak usah diperdebatkan lagi, sudah jago. Malah cenderung berlebihan jagonya. Belum lagi kesehatan fisiknya yang konsisten, jarang cedera. Mereka tak seperti Robben atau Franck Ribery yang meski jago, tapi rentan cedera. Makanya jarang main bola, cuma duduk di rumah saja sambil nonton drama Korea.

Tapi lagi-lagi, kenapa Messi dan Ronaldo lagi yang jadi sorotan? Apakah di tim mereka, Barcelona dan Madrid, terlalu Messi-sentris atau Ronaldo-sentris? Semuanya dikasih ke Messi atau Ronaldo, selesai perkara.

Tendangan bebas kasih ke Messi dan Ronaldo. Penalti kasih ke mereka, tendangan sudut kasih ke mereka, kalau perlu suruh mereka jadi kiper juga. Apakah ini ada hubungannya dengan personal branding yang dibangun keduanya?

Seolah Messi dan Ronaldo punya karakter yang kuat. Tim yang ada Messi dan Ronaldonya pasti bisa juara. Padahal, bukan itu prinsip dasar sepak bola. Bukan mengandalkan satu orang saja.

Jika kita selalu beranggapan bahwa data lah yang menjadikan keduanya itu sebagai pemenang Ballon d’Or. Nyatanya tidak juga. Kita bisa menengok tahun 2000-an. Saat Cannavaro meraih gelar tersebut, yang sudah pasti data gol dan assist-nya sangat sedikit.

Ada lagi Matthias Sammer yang memenangkan 1996, seorang gelandang bertahan yang kerjaannya menciduk bola. Boro-boro bikin gol, kerjaannya mengangkut kaki orang.

Lalu apa? Prestasi kah? Bisa jadi. Ronaldo dan Messi mempersembahkan gelar kepada timnya tiap tahun. Minimal gelar liga domestik. Kalau Barca dan Madrid juara Liga Champions apalagi. Tak perlu ditanya, Ballon d’Or pasti milik mereka. Ditambah Ronaldo menjuarai Piala Eropa 2016 bersama Portugal. Mutlak lah pasti.

Tapi jika lagi-lagi kita berkaca pada 2000-an, ada nama Michael Owen, Pavel Nedved dan Andriy Shevchenko yang sebenarnya secara prestasi tak spesial-spesial amat. Kalau acuannya hanya prestasi membawa timnya juara, tidak berlaku pada mereka bertiga.

Owen tahun 2001 cuma memenangkan Piala FA bersama Liverpool. Ya, trofi Piala FA sudah mampu membawa pemainnya menjuarai Ballon d’Or zaman segitu.

Nedved tahun 2003 gagal menjuarai Liga Champions bersama Juventus. Dia cuma dapat satu gelar Scudetto saja. Begitu juga dengan Shevchenko yang juga meraih gelar Scudetto bersama Milan, tapi memble di Liga Champions musim itu.

Secara negara, Ceko dan Ukraina masih jauh dari kata juara. Seolah masuk Piala Eropa dan Piala Dunia cuma jadi pelengkap saja.

Lalu jika prestasi Liga Champions jadi acuannya, kenapa saat Inter, Chelsea dan Bayern Muenchen jadi juara pada 2010, 2012, dan 2013, tidak ada pemainnya yang menjuarai Ballon d’Or.

Padahal saat itu banyak nama yang layak seperti Wesley Sneijder, Didier Drogba, Manuel Neuer, Andres Iniesta, Franck Ribery, dan Arjen Robben. Tahun 2010 dan 2012 paling parah, tak ada nama satu pemain Inter dan Chelsea pun di dalam nominasi tiga besar Ballon d’Or.

Hey, ada apa ini? Mungkinkah zaman sekarang apa-apa selalu dilihat berdasarkan data individu? Walaupun yang juara Champions adalah Bayern, juara Eropa adalah Spanyol, bahkan juara dunia adalah Jerman, pokoknya yang juara Ballon d’Or tetap Ronaldo atau Messi karena data individunya.

Ya jadi balik lagi ke Cannavaro. Sekitar 10 tahun lalu, bisa kok memilih orang tidak berdasarkan data individunya. Atau apakah ini karena pengaruh media sosial yang terlalu mengagung-agungkan Ronaldo dan Messi? Bisa jadi.

Perlu diketahui, pemilihan Ballon d’Or dilakukan oleh voting dari sekian ribuan pelatih dan kapten timnas, serta jurnalis olahraga di negara anggota FIFA. Ya, semua ditentukan oleh voting.

Jadi logikanya, selama 10 tahun terakhir orang-orang begitu terkesima dengan kehebatan Ronaldo dan Messi seolah tak ada nama lain selain mereka di sepak bola. Itulah mengapa ada pertanyaan, apakah ada pengaruhnya dengan kehadiran media sosial?

Kehadiran media sosial memang mengubah kehidupan bermasyarakat di dunia. Elit-elit politik pun menggunakan media sosial untuk bahan kampanye, menarik dukungan massa.

Sama seperti Ronaldo dan Messi, mungkin tidak di-generate oleh mereka berdua, tapi pasukan-pasukan cyber idola Ronaldo dan Messi seolah “bekerja” dengan baik untuk memengaruhi sekian ribu kapten, pelatih, dan jurnalis olahraga.

Tiap hari kita disuguhi banyak data gol dan assist Ronaldo dan Messi. Ditambah gol-gol indah dan skil-skill ala Tsubasa yang videonya banyak sekali di Youtube. Belum lagi dari media-media mainstream yang terus mengangkat kisah Ronaldo dan Messi.

Mengacu pada teori komunikasi bernama Agenda Setting, di mana media massa memiliki kemampuan untuk mengarahkan kesadaran publik pada isu-isu yang dianggap penting. Jika media selalu membahas Ronaldo dan Messi setiap hari, maka publik lama-kelamaan akan terbentuk pola pikirnya akibat kena terpaan informasi Ronaldo-Messi.

Coba saja Anda lihat portal-portal berita yang Anda kenal, pasti ada 1-2 berita soal Ronaldo atau Messi dalam satu minggu. Semua bercerita soal kehebatan sampai isu soal transfer dan gosip-gosip ruang ganti yang belum bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Cuma pakai  kutipan dari “menurut sumber The Sun” atau “orang dalam Mirror” dsb.

Alhasil, saat ada pemain lain yang lebih berprestasi ketimbang Ronaldo dan Messi, bahkan menjuarai Piala Eropa, Piala Dunia, atau sekadar Liga Champions, tetap saja yang dipilih adalah Ronaldo dan Messi dengan alasan data individunya.

Brand yang dibangun Ronaldo dan Messi juga sangat kuat. Ronaldo digambarkan sosok pahlawan yang agak antagonis (pahlawan tapi antagonis?), songong, banyak gaya, playboy, tengil, tapi pekerja keras dan peduli terhadap kegiatan-kegiatan sosial. Bahkan tato saja dia tidak punya karena sangat disiplin memerhatikan fisiknya.

Sedangkan Messi digambarkan sosok protagonis yang kalem, tidak banyak omong, lugu, polos, cinta sesama manusia, baik hati, tidak foya-foya, rajin menabung, dan tidak sombong. Jika digabungkan keduanya akan tercipta dua kutub yang berbeda.

Yang satu tengil belagu banyak gaya tapi jago. Yang satu kalem tapi juga jago. Netizen dan penikmat bola lalu disuruh memilih mana sosok pahlawan yang mereka sukai. Pilihannya Ronaldo atau Messi, tak ada yang lain.

Jangan-jangan, mereka pakai agency atau konsultan media dan media sosial untuk terus bikin kampanye di media, supaya kedua nama mereka terus eksis. Seperti yang dilakukan para kandidat presiden atau kepala daerah.

Media sosial apalagi. Kolom-kolom komen dikuasainya untuk menciptakan framing positif terhadap kandidat tertentu. Belum lagi soal Trending Topic yang mudah sekali diciptakan. Jasanya murah, modal Rp 500 ribu juga sudah bisa bikin Trending Topic di Twitter.

Tentu ini cuma “mungkin” saja, masak iya sekelas Ronaldo ata Messi pakai konsultan receh hanya demi menaikkan derajat mereka di warganet.

Penulis pribadi mengakui kalau Ronaldo dan Messi layak jadi yang terbaik di muka bumi ini. Tapi yang agak disesalkan, masih banyak pemain lain yang layak untuk dipilih. Singkat kata, bosan!

Jangan cuma melihat pada data individu saja, tapi juga pada sosok bagaimana mereka membangun tim dan membawa juara timnya. Seperti yang terjadi pada Sammer, Owen, Nedved, Shevchenko, dan Cannavaro pada masa lalu.

Tak ada yang melihat data secara individu, melihatnya secara obyektif kalau mereka mampu membawa timnya juara. Atau bisa juga sebaliknya, melihat data secara individu baru melihat timnya juara apa enggak.

Makanya, gelar Ballon d’Or ini mulai banyak yang menyangsikan. Bagaimana sistem pemilihan voting-nya, lalu bagaimana bisa muncul nominasi-nominasinya.

Ya tapi itulah risiko voting. Ketika semua pelatih, kapten, dan jurnalis sudah ter-framing dengan nama Ronaldo dan Messi, maka kedua pemain itu yang akan terus dipilih sampai Ballon d’Or punya anak namanya Bangor.

Ballon d’Or sudah tidak asyik lagi seperti dulu. Tidak ada rasa penasaran lagi siapa yang akan memenangkan trofi itu kayak zaman dulu.

Main photo: Football_Tweet


Paundra finPaundra Jhalugilang

Penulis adalah pemuda harapan bangsa yang biasa-biasa saja. Bekas wartawan tanpa pengalaman yang melihat sepakbola dengan penuh pesona. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here