Oleh: Paundra Jhalugilang

Juventus sudah menyelesaikan tugasnya dan lulus ujian untuk menjadi member anggota tim epic comeback di Liga Champions. Jika musim lalu cuma ‘hampir’ comeback, kini telah melakukannya.

Seperti diketahui, Juve mengejar ketinggalan 0-2 di kandang Atletico. Artinya, “Bianconeri” wajib menang minimal selisih tiga gol di Turin. Soalnya kalau cuma 2-0 masih belum bisa. Kalau 3-1, 4-2, 5-3, 6-4, 7-5 dan seterusnya, sudah pasti mereka tidak bisa lolos karena kalah agresivitas gol tandang.

Tiga pekan lalu, sekitar 90 persen warga dunia optimistis bakal tersingkir atau pesimistis bakal lolos. Angka itu memang bukan dari perhitungan survei, apalagi perhitungan suara, dan tak bisa dipertanggung jawabkan. Soalnya memang asal njeplak saja melihat banyaknya pem-bully-an di media sosial ketika itu. Kajian itu juga diperkuat dengan pernyataan gelandang Blaise Matuidi.

“Hanya tiga pekan yang lalu, semua orang mengira kami tersingkir dari Liga Champions. Jadi, mari pergi secara perlahan sebelum berbicara tentang final,” ujar Matuidi yang berwajah tampan idealis itu.

Musim lalu, Juve mengejar defisit 0-3 dari Real Madrid. Apalagi mereka wajib melakukannya di Santiago Bernabeu. Selama 90 menit, Juve sukses menyamakan kedudukan ketika unggul 3-0. Masih belum comeback, karena belum menyalip secara skor. Baru menyamai kedudukan saja.

Massimilliano Allegri ketika itu sudah menyiapkan strategi khusus di babak perpanjangan waktu. Mereka masih punya dua pergantian, sedangkan Madrid sudah habis. Allegri yakin betul mereka bisa menang di babak perpanjangan waktu apalagi melihat Madrid mainnya butut banget kayak Vespa gembel.

Cuma sayang, rusak nila setitik rusak susu sebelangga. Rusak konten sekali datang bully massal netizen satu negara. Satu kesalahan Medhi Benatia bikin penalti pada Injury Time, mengakibatkan gol Cristiano Ronaldo lewat penalti pada menit kesembilan delapan. Ciyan.

Tahun ini, misi epic comeback sebenarnya relatif lebih mudah karena pada leg kedua mereka main di rumah sendiri. “Lebih baik di sini, rumah kita sendiri…” bak lagunya God Bless.

Namun, semudah-mudahnya main di rumah sendiri tetap saja lawannya adalah Atletico Madrid. Tim yang lagi di peringkat kedua di La Liga, yang punya pertahanan salah satu terbaik di Eropa saat ini.

Satu dari empat tim di kompetisi lokal yang kebobolan di bawah 20 gol adalah Atletico (17 gol). Sisanya Juventus, Liverpool (17 gol), dan PSG (15 gol). Namun PSG enggak usah masuk hitungan wong lawannya saja enggak ada.

Tentu saja menang 3-0 atas Atletico tak semudah Atta Halilintar menjadi viral. Atletico tampil solid banget di leg pertama bahkan Juve hampir enggak bisa menyerang. Pada leg kedua, mereka tinggal bertahan total saja, jangan sampai kebobolan dua gol.

Kalau pun kebobolan dua gol, Atletico cukup mencetak satu gol saja, kelar urusan. Soalnya Juve harus bikin dua gol lagi.

Selain itu, segala hal bagai tidak berpihak pada Juve. Mulai dari fakta “Si Nyonya Tua” yang tak pernah mampu comeback di Liga Champions sejak musim 2005/06 silamsampai kenyataan bahwa mereka tak punya sejarah comeback usai tertinggal 2-0 di leg pertama. Begitulah pembahasan dari Goal. 

Namun, ternyata Juventus sudah menyiapkan laga comeback ini dengan sangat baik. Selain latihan, menyiapkan strategi, istirahat, nge-bully santai teman setongkrongan, dan makan-minum secukupnya, ditambah sholat lima waktu bagi Sami Khedira, Emre Can, dan Miralem Pjanic, Juve juga melakukan kampanye komunikasi di media sosial dalam mengemban misi epic comeback.

Juve sudah layaknya Perseroan Terbatas (PT) atau perusahaan-perusahaan profit yang memanfaatkan media sosial untuk kegiatan promosi. Namun, khusus Juve, media sosial bukan sekadar dipakai buat promosi, tapi juga motivasi. Kampanye komunikasi disusun sangat terencana dan begitu rapi.

Tentu saja kampanye ini tak seperti kampanye Internet Sehat yang digalang pemerintah dalam membasmi tayangan-tayangan enak. Kampanye bertujuan untuk menebarkan rasa optimisme kepada seluruh stakeholder Juventus.

Di saluran media sosial, mereka aktif menebarkan kampanye dengan tema “#GETREADY TO COMEBACK”. Selama sepekan terakhir, admin media sosial Juventus rajin meng-upload video-video keberhasilan comeback mereka di laga-laga Liga Champions sebelumnya. Meski tak ada yang sampai epic banget.

Lalu foto-foto latihan menjelang pertandingan Atletico juga di-share untuk memperlihatkan semangat mereka dalam melakukan comeback.Setiap posting foto pemain yang tak ada hubungannya dengan pertandingan Liga Champions, juga tetap menyelipkan pesan “pantang menyerah” atau “we never give up“.

Bahkan, tim kreatif Juventus sampai membuat video khusus yang tak memakai talent pemainnya. Intinya, di video itu memperlihatkan kalau mereka belum menyerah. Sebelum peluit akhir leg kedua, maka mereka belum kalah.

https://twitter.com/juventusfc/status/1105589943714414592

Juve juga menggelar wawancara khusus Cristiano Ronaldo sehari sebelum pertandingan. Ronaldo bicara tentang motivasi dan rasa optimistis sekaligus meminta dukungan suporter di laga ini.

Berhubung Ronaldo yang ngomong, maka banyak yang yakin Juve bisa lolos. Berhubung Ronaldo ini sudah khatam Liga Champions, maka dia dimanfaatkan jadi endorser untuk menebar rasa positif dan keyakinan suporter Juventus untuk mendukungnya secara all out. 

Terbukti, efeknya sangat luar biasa. Hal itu membuat suporter Juventus tergerak untuk tampil gila di tribun penonton. Mereka tak sesunyi biasanya. Mungkin karena bosan di Seri A tak ada lawan. Jadi melihat Juve main bawaannya sudah yakin menang.

Namun kali ini terasa beda. Tak ada keraguan dari suporter Juve untuk mendukung tim kesayangannya buat menang. Seluruh elemen Juventus kompak untuk mencapai target comeback.

Dimulai dari koreografi yang dibuat penonton Juve untuk menghitam-putihkan Stadion Allianz. Lalu gemuruh dimulai saat nama pemain disebut satu per satu, sampai peluit kick off  babak pertama ditiupkan. Semua tampak yakin dan bersemangat.

Sepanjang laga, mereka sangat gaduh dan berisik. Memberikan dukungan mental kepada Ronaldo dkk hingga membuat mereka main kesetanan.

Lalu memberikan tekanan berupa cemoohan kepada pemain Atletico saat mereka menguasai bola hingga membuat mereka gemetaran dan salah-salah passing. Itu merupakan tindakan balasan saat Juve main di Wanda Metropolitano di mana pemain Juve disiuli sepanjang laga ketika memengang bola. Terutama Ronaldo.

Setelah melakoni pertandingan satu jam setengah lebih sedikit, Juve akhirnya mendapatkan apa yang ditargetkan. Lolos ke perempat final meski melalui situasi sulit bahkan nyaris mustahil.

Namun itu baru perempat final. Jangan senang dulu, memangnya setelah ini lawan-lawannya di babak selanjutnya itu SPAL, Atalanta, atau Chievo Verona. Tidak sama sekali.

Yang pasti, sisi positif yang bisa dipetik dari pelajaran epic comeback ini adalah motivasi. Juventus melakukannya dengan sangat baik secara teknik bermain dan unsur-unsur di luar lapangan.

Media sosial digunakan sebaik-baiknya untuk menebarkan optimisme, bukan menyebarkan hoax atau ujaran kebencian macam periode Pemilu zaman sekarang.

Mungkin belum banyak klub yang seniat Juventus dalam memanfaatkan media sosial untuk ‘kombek’. Di mana-mana kalau mau kombek ya latihan dan pikiran taktik dengan tepat. Berkaca dari Juventus, media komunikasi khususnya media sosial ternyata bisa dimanfaatkan untuk comeback dan sangat memengaruhi penampilan di lapangan.

Main photo: juventusfc


Paundra Jhalugilang

Penulis adalah pemuda harapan bangsa yang biasa-biasa saja. Bekas wartawan tanpa pengalaman yang melihat sepakbola dengan penuh pesona.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here