Menjelang Piala Dunia 2018, beberapa negara sudah bersiap diri. Tak cuma uji tanding, tapi juga membuat kebijakan demi memperlancar urusan kenegaraan. Salah satunya tim nasional Korea Selatan (Korsel). Mereka membuat kebijakan frontal dengan melarang penggunaan media sosial kepada para pemainnya. Nah lho!

Hal itu diutarakan pelatih Shin Tae-Yong dalam sesi konferensi pers di Kantor Asosiasi Sepak Bola Korsel (KFA) atau PSSI-nya Indonesia yang tak seperti PSSI di sini. Shin memang masih memperbolehkan para pemainnya memegang ponsel, tetapi dengan syarat menjauhi larangannya. Yakni bermedia sosial.

Itu artinya, Son Heung-Min dan kawan-kawan tidak boleh mainan Instagram, Twitter, Facebook, Youtube, Friendster sampai Bigo. Perlu dicurigai jika ada pemain Korsel lagi asyik liat HP-nya lama sekali di pojokan. Dia pasti sedang Bigo Live.

Jika itu terjadi bisa-bisa diciduk oleh staf timnas dan dilaporkan ke pelatih Shin. Memang tak mengenakan jadi pemain timnas. Tapi itulah syaratnya. Jadi kemungkinan selama pergelaran Piala Dunia sebulanan itu mereka tak boleh update-update status.

Memang tidak disebutkan secara detail sampai sejauh mana larangan mengakses media sosial. Apakah benar tidak boleh sama sekali atau boleh mengakses tapi ada batasannya.

Misalnya kalau cuma stalking-stalking mantan saja asal tak ketahuan kan tidak apa-apa. Asal jangan sampai kepencet tombol Like bisa-bisa muncul tanda hati warna merah. Hal itu bisa saja ketahuan staf timnas karena meninggalkan jejak. Apalagi kalau yang di-like adalah akun-akun IGO.

IGO
Pemain Korsel enggak boleh buka akun-akun beginian selama Piala Dunia.

Shin mengungkapkan bahwa timnya tak akan mengikuti jejak timnas curling Korsel di Olimpiade Musim Dingin PyeongChang 2018. Saat itu, pelatih timnas curling “menyita” semua ponsel para pemain agar lebih fokus dalam bekerja. Hasilnya mereka mendapat medali perak.

Shin tak mau sampai seketat itu. Bagaimanapun, para pemainnya sudah dewasa untuk menggunakan ponsel. Sekadar kangen-kangenan sama keluarga masih boleh. Apalagi mereka harus menempuh perjalanan naik pesawat, kereta, atau bus dari kota ke kota.

“Saya tak berpikir tim curling bisa berhasil karena atletnya tak memegang handphone. Mereka punya keuntungan karena jadi tuan rumah dan punya banyak cara mengisi waktu luang mereka. Tapi, pemain kami akan berada di jalanan selama beberapa waktu. Mereka akan mencari cara masing-masing untuk mengisi waktu istirahat dan menjaga kondisi di antara pertandingan,” ucap Shin, dikutip Liputan6. 

Shin hanya meminta anak asuhnya menjauhi media sosial agar tak terpengaruh dengan komentar-komentar sok tahu dari para warganet yang budiman. Memang, kolom komentar public figure itu isinya aneh-aneh.

Ada yang memuji, mengecam, memaki, sampai komentar tak penting seperti perbandingan satu gelas susu dengan tujuh permen Milkita, atau mau nitip ke Indomaret. Malah kadang ada yang promo akun-akun peninggi badan atau situs judi. Kalau yang aktif Instagram, pasti paham.

Kalau sampai para pemain melihat komentar-komentar tersebut, dikhawatirkan mereka bakal terganggu konsentrasinya. Belum lagi nanti mainnya jadi banyak gaya biar dapat foto bagus untuk diunggah ke IG.

Komen

Main photo: Sumberbola

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here