Dua hari lalu, Inggris mencetak prestasi membanggakan. Namun, prestasinya bukan dicetak oleh timnas seniornya, melainkan timnas junior U-20. “The Young Three Lions” itu juara Piala Dunia U-20 yang berlangsung di Korea Selatan.

Gelar juara itu diraih usai Inggris mengalahkan lawannya di final karena memang itulah syarat utamanya jika mau juara. Dalam aturan FIFA, tim yang mengalahkan lawannya di final sampai pertandingan berakhir dinyatakan sebagai juara.

Inggris pun memenuhi persyaratan tersebut. Mereka mampu mengalahkan Venezuela dengan skor tipis saja, tak perlu banyak-banyak, 1-0. Pasalnya, mau menang banyak atau sedikit, tidak akan berpengaruh dalam sistem gugur. Yang penting menang.

Gol semata wayang Inggris dicetak pemain muda berbakat bernama Dominic Calvert-Lewin. Tentu saja berbakat karena kalau tidak, pasti tak akan dipanggil timnas.

Itu merupakan penampilan kedua Inggris di babak final turnamen antar-negara sejak mereka mengalahkan Jerman Barat, 51 tahun silam. Tepatnya tahun 1966 saat Indonesia lagi panas-panasnya dengan PKI.

Meski juara, pelatih Paul Simpson tak mau buru-buru menyebut timnya sebagai generasi emas bertabur intan permata. Memang, timnas Inggris U-20 ini memiliki pemain-pemain bertalenta yang kalau dalam bahasa game Football Manager (FM) dinamakan Wonderkid.

Sebut saja Dominic Solanke, Ademola Lookman, Calvert-Lewin, Adam Armstrong, sampai Lewis Cook yang artinya memasak. Semuanya pemain-pemain kelahiran 1997 yang seangkatan dengan Awkarin. Sungguh hebat, masih muda sudah pada bisa cari uang sendiri.

“Sekarang kami nikmati dulu pencapaian Inggris. Para pemain melakukan sesuatu yang luar biasa, karena menang di level junior sungguh tidak mudah,” ucap Simpson yang tak ada hubungan saudara dengan keluarga Simpson itu, seperti Bart dan Hommer.

Pencapaian Inggris di Piala Dunia U-20 memang sangat memukau. Mereka tak pernah kalah dan cuma sekali seri saat melawan Guinea. Itupun golnya Guinea gara-gara bunuh diri Fikayo Tomori.

Puncaknya saat menghadapi Italia di semifinal. Italia yang skuat mudanya juga lagi bagus-bagusnya, mampu mereka tekuk dengan skor 3-1 meski sempat tertinggal lebih dulu. Itulah mengapa, banyak yang bilang kalau tim U-20 ini disebut-sebut sebagai masa depan timnas senior Inggris.

“Kami lihat saja apa yang terjadi ke depan dan berharap mereka terus lebih baik. Para tim pelatih di level klub berharap bisa memimpin dan membimbing mereka ke tahap selanjutnya dalam karier agar mereka sukses,” sambung Simpson.

Memang tidak jaminan kalau sukses di timnas junior bakal terus meningkat kariernya di tim senior. Kesempatan bermain yang kurang jadi salah satu faktor meredupnya para pemain muda.

Sekitar 2007, BBC pernah merilis nama-nama pemain muda berbakat di Inggris saat itu. Seperti Ben Amos, Sam Hutchinson, Micah Richards, Gavin Hoyte, Michael Johnson, Jose Baxter, dan Theo Walcott. Namun hanya Walcott yang menembus timnas senior saat ini.

Belum lagi para darah muda ini darahnya para remaja yang selalu merasa gagah tak pernah mau mengalah seperti dalam lirik lagunya Bang Rhoma. Godaan dari teman-temannya mulai dari bolos sekolah, trek-trekan di jalan, sampai dugem di klub malam bisa jadi batu sandungan.

Main photo: Sports Illustrated

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here