Partai final Liga Champions tinggal hitungan detik lagi. Jarum jam mulai berjalan mendekati waktu final di Cardiff, Wales, yang jaraknya jauh banget dari Indonesia. Dua pelatih kekinian, yang lagi populer dan diperbincangkan di dunia maya, turut meramaikan komentar laga final.

Kedua pelatih memberikan pandangan laga final di Cardiff nanti. Mulai dari calon lawannya masing-masing, sampai situasi terakhir yang ada di timnya. Semoga aman terkendali, tanpa persekusi.

Massimilliano Allegri, pelatih Juventus kelahiran 1967 seangkatan Ahok, mengaku lebih tenang menghadapi partai final Champions keduanya. Jika sebelumnya mereka keok 1-3 dari Barcelona. Beda dengan kali ini.

Allegri meyakinkan anak asuhannya agar tak memedulikan rekor negatif yang selama ini diterima Juve. Maklum, delapan kali masuk final, Juve cuma bisa menang dua kali. Bahkan empat partai final terakhirnya berujung kekalahan dengan sedikit keikhlasan.

“Ini adalah laga penting dan kami harus melakukan apa yang telah kami lakukan sepanjang musim ini. Hal yang negatif bisa menular. Ketika saya mengambil-alih tim saya merasakan ada hal negatif yang sangat menakutkan dan saya bisa merasakan itu juga sekarang ketika mendengar orang-orang membahas tentang kekalahan kami di laga-laga final,” ucap Allegri.

Dibandingkan dengan final di Berlin dua tahun lalu, Allegri yang makin hari makin banyak kerutan di dahinya itu merasa timnya yang sekarang jauh lebih kuat. Apalagi punya tambahan pemain yang pernah berpengalaman juara Liga Champions macam Sami Khedira, Dani Alves, dan Mario Mandzukic.

“Hanya empat atau lima pemain yang masih berada di sini. Kepercayaan kami meningkat, kesadaran kami akan kemampuan kita sendiri telah meningkat, atmosfir telah membaik. Kali ini Kita harus meletakkan tangan kita di atas piala,” sambungnya di-copas dari Liputan6.

infografis allegri vs zidane

Bukan cuma Juve yang punya kutukan, Real Madrid juga sama. Sejak namanya berubah jadi Liga Champions, belum ada yang berhasil mempertahankan gelar juara berturut-turut. Apalagi, Juve juga ditambah mitos tren tujuh tahunan klub Italia. Di mana klub Italia memenangkan Liga Champions tiap tujuh tahun.

Dimulai dari Juve pada 1996, Milan pada 2003, dan Inter pada 2010. Apakah mungkin trennya kembali ke Juve? Wallahualam. Namun, Zidane menegaskan bahwa mematahkan kutukan itu tak menjadi targetnya. Targetnya adalah juara, entah juara pertama atau kedua.

“Tidak, motivasi kami datang dari fakta bahwa kami kembali bermain di final Liga Champions. Sesuatu yang luar biasa buat kami. ni akan menjadi final yang sulit dan kami harus bekerja keras dan mencoba menemukan energi ekstra untuk menunjukkan performa yang baik. Saya kira kami akan siap,” kata pelatih botak tanpa paksaan itu.

Zidane memang akan menghadapi kenangan terindahnya itu, meski akhirnya yang jadi istri adalah Madrid. Namun, pelatih kelahiran 1972 yang seangkatan dengan Aceng Fikri itu mengaku masih sayang dengan Juve.

“Saya pernah berada di Juve selama lima tahun dan memiliki kenangan indah, itulah mengapa final ini spesial. Saya tak bisa katakan kalau serangan Madrid lebih baik dari pada Juve, ataupun pertahanan Juve lebih bagus daripada Madrid. Tak ada perbedaan antara kedua tim dan kami tak akan mengubah cara bermain kami,” lanjutnya.

Begitulah komentar kedua pelatih kekinian jelang laga final tersebut. Dua pelatih yang belum tua-tua amat, tapi cerdas dan super saat menangani klub-klub kelas dunia. Selamat bertanding, kawan-kawan.

Main photo: Sporting News

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here