Oleh: Paundra Jhalugilang

Arsenal jadi klub ke-17 di Inggris yang mengimplementasikan formasi dengan tiga bek musim ini. Hal itu mereka lakukan dengan aman, damai, jujur, dan adil saat mengalahkan Manchester City di semifinal Piala FA.

Arsenal jadi klub ke-17 yang pakai tiga bek, apakah ini pertanda sepak bola Inggris mulai mengadopsi gaya pertahanan ala Italia? Apa karena ulah Antonio Conte yang secara frontal mengubah Chelsea?

Inggris memang dulunya dikenal sebagai negara sepak bola “Kick and Rush“, tendang dan lari. Kecepatan jadi andalan mereka dengan mengeksploitasi dari sisi sayap. Makanya formasi yang sering digunakan adalah 4-4-2 atau 4-3-3.

Belakangan, fenomena tiga bek mulai menjalar ke klub-klub Inggris. Formasi itu langsung digandrungi, bak film-film drama Korea yang digandrungi para cewek kekinian.

Beberapa musim lalu, Wigan Athletic karangan Roberto Martinez pernah menggunakan formasi serupa. Tapi nyatanya tidak sukses-sukses amat, mungkin karena kurang buku-buku kuliahnya.

Berbeda dengan Conte yang datang merantau ke London mencari nafkah sesuap nasi dan sebutir berlian. Dia mampu mengubah Chelsea menjadi tim yang solid dan sekarang bertengger di puncak klasemen Seri A plus lolos ke final Piala FA. Mantap jiwa.

Tidak perlu didetailkan kenapa Wigannya Martinez tidak sesukses Chelseanya Conte. Nyatanya kedua tim itu memang beda nasib dan rezekinya.

Tapi jika mau dilihat-lihat, Conte belajar memakai formasi tiga bek ini sudah lama di Italia. Mulai dari masa-masa jadi pemain saat sedang lucu-lucunya, sampai jadi pelatih dan sukses bersama Juventus. Artinya, ilmunya sudah khatam, tak perlu diragukan. Makanya ketika ilmunya dia bawa ke Chelsea, Conte menerapkannya dengan sangat tepat dan cermat.

Formasi 3-4-3 sepintas terlihat gampang ditembus, gampang dirobek kayak kertas-kertas HVS di tukang fotokopian. Beknya cuma ada tiga orang, secara kuantitas masa kalah dengan tim yang pake empat bek.

Nyatanya tak semudah mengucap “Alhamdulillah”. Formasi tersebut jadi formasi yang fleksibel dan efektif. Tiga bek tengah akan disokong dua bek sayap yang sangat mobile sehingga pertahanan menjadi lima bek. Belum lagi ditambah dua gelandang bertahan macam Nemanja Matic dan N’Golo Kante yang seperti macan Biskuat.

Dua bek sayap itu juga ikut membantu lini serang sehingga ketika menyerang Chelsea seperti memakai lima striker. Itulah yang membuat tim berkostum biru macam kostumnya Superman itu tampil solid dan efektif.

li
Gambaran formasi Chelsea ala Conte. (Source: Sepakbola)

The Blues” bisa menang terus-terusan, cenderung hobi. Conte juga akan jadi pelatih tim Inggris pertama yang sukses menjuarai Liga Primer dengan formasi tiga bek pada abad ini.

“Semua pelatih di Inggris sedang mencari cara melawan formasi tiga bek Chelsea. Saya belum pernah melihat ada satu tim di sini yang mampu juara di akhir musim dengan menerapkan tiga bek terus menerus, menang terus menerus. Conte benar-benar tahu luar dalam formasi ini,” ujar David Moyes, pelatih Everton kepada Guardian beberapa bulan lalu.

Rupanya, rasa penasaran mengalahkan Chelsea juga bikin tim-tim lain ikut pakai formasi tiga bek. Sebut saja Tottenham Hotspur, Hull City, dan Watford. Bahkan menjalar sampai ke tim nasional Inggrisnya. Pelatih Gareth Southgate turut memakai tiga bek saat uji coba melawan Jerman bulan lalu.

“Saya yakin kami akan menggunakannya lagi. Ini merupakan opsi bagus untuk kami miliki. Saya rasa banyak pemain memainkan pola ini di klub mereka, yang mana membantu,” ujar Southgate yang namanya punya makna Gerbang Selatan itu, dikutip Detik.

Yang terakhir adalah Arsenal, mencoba peruntungan nasib siapa tahu bisa sukses. Hasilnya cukup mengagumkan, mereka mendapat pujian. Khususnya Arsene Wenger yang berani memainkan formasi tersebut demi kemenangan yang kerap suka dilupakan.

Maklum, mereka kalah tujuh kali dari 12 laga sebelum Wenger memutuskan memakai formasi tiga bek. Bek Laurent Koscielny pun mengaku nyaman dengan pola baru tersebut. Dia merasa lebih solid dan tampil percaya diri mirip model-model iklan parfum.

“Sistem ini cocok dengan beberapa pemain tertentu tapi juga bagus untuk keseluruhan tim. Saya pikir kami juga telah menemukan kepercayaan lebih pada sistem ini dengan tiga bek. Kami lebih solid, komitmen, dan membantu tekad buat menang,” kata Koscielny.

Ilmu dari Italia

Yang menarik, Arsenal merupakan tim paling sukses menggunakan formasi tiga bek. Lho? Kapan? Juara saja jarang-jarang.

Nanti dulu, “The Gunners” ternyata pernah melakukannya saat periode 1931-1939 saat mereka menjuarai Piala FA lima musim berturut-turut. Saat itu Arsenal menggunakan formasi 3-2-2-3 yang jadi bahan modifikasi Italia ala Vittorio Pozzo menjadi 2-3-2-3.

Meski begitu, bukan Arsenal yang menemukan formula tersebut. Formasi itu juga berakar dari formasi 2-3-5 yang digunakan Uruguay saat jadi kampiun Olimpiade 1924 dan 1928 serta meraih Piala Dunia 1934.

Sejatinya, Inggris bukan hanya sekadar mengadopsi permainan tiga bek ala klub-klub Italia, tapi secara tak langsung mengakui cara bermain mereka. Gaya kick and rush memang masih ada, tapi tidak dominan seperti dulu. Perlahan berubah jadi permainan cerdas dan ‘mikir’ ala sepak bola Italia yang katanya membosankan.

Ya, formasi 3-4-3 jelas tak bisa ditembus gaya permainan kick and rush yang serba terbuka. Formasinya cenderung tertutup, menumpuk di kotak penalti sehingga lawan perlu memutar otak untuk membongkar pertahanan mereka, layaknya grendel yang jadi andalannya Italia.

Jika Chelsea terbukti sukses, siap-siap saja tahun depan klub-klub besar Liga Primer memakai formasi serupa. Lalu siap-siap juga klub-klub Eropa lainnya menggunakan hak yang sama.

Memang harus diakui bahwa ilmu-ilmu formasi sepak bola banyak datang dari Negeri Pizza. Banyak pelatih mumpuni dari sana yang memang digembleng dalam sebuah akademi kepelatihan.

Permainannya terlihat kuno, tapi jangan salah, mereka juga yang memperkenalkan formasi 4-2-3-1 yang sedang kekinian itu. Formasi 4-2-3-1 telah diperkenalkan Marcello Lippi saat menjuarai Piala Dunia 2006, jauh sebelum digunakan Spanyol.

Menariknya lagi, formasi tiga bek ini belakangan juga dipakai oleh Barcelona, penganut sepak bola modern. Luis Enrique menempatkan Gerard Pique, Samuel Umtiti, dan Javier Mascherano dengan beberapa modifikasi.

Hasilnya? Secara keseluruhan tidak sukses-sukses amat, meski dikatakan daya serang Barca jadi lebih agresif. Terbukti keberhasilan mereka bisa membuat Paris Saint-Germain (PSG) jadi sayur asem.

Itulah mengapa, jika formasi tiga bek sudah makin populer maka formasi 4-2-3-1 yang lagi kekinian punya pesaing ketat. Formasi tiga bek, 3-4-3 atau 3-5-2, juga bisa jadi formasi yang tak kalah kekiniannya.

Main photo credit: Mirror


Paundra finPaundra Jhalugilang

Penulis adalah pemuda harapan bangsa yang biasa-biasa saja. Bekas wartawan tanpa pengalaman yang melihat sepakbola dengan penuh pesona. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here