Laga dramatis tersaji di Anfield kala Liverpool menjamu Atletico Madrid pada laga leg kedua babak 16 besar Champions. Bermain selama 120 menit, kegemilangan Jan Oblak dan Marcos Llorente membantu Atletico menyingkirkan juara bertahan dengan kemenangan 3-2 untuk tim tamu.  

Juara bertahan, takluk dari tim yang bermain bertahan. Mungkin itu kalimat yang tepat menggambarkan jalannya laga antara Liverpool kontra Atletico Madrid tadi malam.

Liverpool sendiri sebenarnya punya catatan bagus menghadapi tim asal La Liga di leg kedua Champions di Anfield. “Corner taken quickly”.

Namun melawan tim yang bermain bertahan dengan kiper yang sedang pasang mode tangan delapan, ternyata Liverpool tak mampu untuk melangkah lebih jauh.

Jago sekali Oblak di laga itu. Macam Joe Hart di iklan Big Cola yang tangannya ada delapan seperti Paul Si Gurita Peramal.

Ibarat pintu rumah orang kaya, Oblak ini sepertinya pintu yang dikunci pakai finger print dan pakai verifikasi bola mata segala. Ada CCTV pula di atas pintunya. Aman sekali.

Sementara Adrian yang menggantikan Alisson Becker berbanding terbalik. Performanya di laga itu hanya bagaikan pintu toilet di terminal yang hanya diganjal pakai kayu yang diikat pada tali. Digedor juga langsung buyar itu pintu.

Dari menit awal pertandingan, Liverpool yang tidak kebagian tendangan tepat sasaran di leg pertama, bermain sangat agresif. Atletico langsung set Park the Bus dalam dua babak. Bertubi-tubi dihajar-hajari oleh para pemain Liverpool. Sampai salto-saltoan segala.

Sebegitu rapatnya saja masih dibobol dua gol oleh Liverpool, apalagi diumbar ke mana-mana itu gawang.

Atletico memang sudah selayaknya main bertahan dan mengandalkan serangan balik. Mereka tahu diri, kalau bermain terbuka bakal dibantai oleh Sadio Mane dkk. Itulah strategi. Bukan asal “yang penting menyerang atau main cantik” seperti filosofi seorang Coach asal Indonesia.

Atletico soalnya bisa lolos andai mereka bermain imbang dengan skor berapapun juga. Mau 0-0, 2-2, atau 12-12, sudah pasti Atletico yang lolos.

Sayang Oblak akhirnya kebobolan lewat gol Georginio Wijnaldum dua menit sebelum turun minum. Sundulannya membuka asa fans Liverpool layaknya mereka menyingkirkan Barcelona musim lalu.

https://twitter.com/Sporf/status/1237880054928965632?s=20

Pada babak kedua Liverpool terus melakukan serangan bertubi-tubi. Namun Oblak sepertinya kesurupan setan kiper dari tim Shaolin Soccer. Kombinasi kejagoannya dan tiang gawang beberapa kali menggalkan peluang Liverpool. Tangannya bisa saja menggapai beberapa tendangan maupun sundulan para pemain Liverpool. Seolah bola memang mengarah ke tangannya.

Skor 1-0 membuat laga dilanjutkan pada babak tambahan. Baru tiga menit berjalan, Roberto Firmino sudah menggandakan keunggulan Liverpool. Fans Liverpool makin pede bakal memenangkan laga. Lupa kalau itu bukan mode golden goal.

Soalnya selang tiga menit kemudian, kiper Adrian malah kesurupan setan Karius. Kesalahan sepele dari Adrian membuat Joao Felix mampu memotong bola dan langsung memberikan kepada Llorente. Tendangan Llorente dari luar kotak penalti tak mampu dihalangi Adrian.

Skor 2-1 tetap masih terbuka peluang buat Liverpool untuk bikin gol lagi jadi 3-1. Lagi-lagi, Atletico menutup rapat semua celah. Bola langsung disapu ke depan, tak memberi kesempatan. Hasilnya, mereka justru sukses mencuri gol lagi.

Serangan balik Atletico di masa injury time babak tambahan pertama kembali menghasilkan gol dari Llorente. Kemudian di akhir babak kedua perpanjangan waktu, Atletico benar-benar mengunci kemenangan lewat gol Alvaro Morata di penghujung laga. Kemenangan 3-2 Atletico meloloskan mereka ke delapan besar.

https://twitter.com/_kibra_/status/1237946740793380864

Inilah yang dinamakan strategi. Meski main bertahan tapi bisa bikin tiga gol itu sebuah anomali. Hal itu sempat dikeluhkan Juergen Klopp, tapi mungkin itu keluhan seorang pelatih yang kalah saja.

“Saya tidak mengerti dengan kualitas yang mereka punya, mereka bermain sepak bola seperti ini. Saya tidak memahaminya. Tapi pemenang memang selalu benar,” komentar Klopp terkait dengan taktik Atletico, dikutip dari Detik.

Komentar Klopp seolah tim seperti Atletico harus ikutan main menyerang. Padahal ya tidak harus begitu juga. Atletico tahu kalau main terbuka, Liverpool akan leluasa membobol gawangnya.

Justru itu sebuah hal yang luar biasa ketika mereka sukses comeback ketika sudah ketinggalan 0-2. Musim lalu, Atletico tak mampu melakukannya ketika dibobol 0-2 oleh Cristiano Ronaldonya Juventus. Malah akhirnya kebobolan lagi jadi 0-3 karena mental sudah down.

“Saya sangat senang. Kami kembali ke fase delapan besar klub terbaik Eropa sekaligus mengalahkan lawan yang luar biasa,” ucap Simeone selepas pertandingan dikutip Goal.

“Liverpool adalah tim brilian, apalagi mereka bermain di depan fans mereka. Tetapi, kami tidak menyerah meskipun sempat tertinggal dua gol.”

Main photo: @championsleague

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here