Tak ubahnya seperti film blue produksi JAV, sepak bola juga memiliki gaya. Bukan gaya bercinta, melainkan gaya permainan yang diterapkan masing-masing tim sesuai dengan strategi dan tradisi.

Ada yang bermain defensif, offensif, maupun ball possesion. Masing-masing mempunyai nama yang unik di setiap negara. Gaya bermain akan menentukan dan mendukung sistem formasi yang dijalankan oleh para pelatih.

Banyaknya strategi dan gaya permainan menjadikan sepak bola sebagai tayangan untuk dewasa. Anak-anak juga boleh nonton, tapi biasanya belum paham betul, palingan yang dilihat hanya gol-golnya saja.

Berikut beberapa gaya permainan di dalam sepakbola:

Total Football

Hasil gambar untuk total football
Total Football karyanya Belanda. (SoccerPro)

Ciri khas permainan sepakbola Belanda. Filosofi permainan yang intinya bertahan dan menyerang harus dilakukan oleh semua anggota tim secara bersamaan, kecuali kiper tetap di area gawang. Hadirnya playmaker pandai, Johan Cruyff, di tubuh aduhai timnas Belanda, menjadikan gaya bermain ini sangat cocok diterapkan. Maka tidak heran, formasi 4-3-3 yang menyerang menjadi senjata ampuh bagi timnas Belanda. Filosofinya “Menyerang adalah cara bertahan yang terbaik.”

Jogo Bonito

Hasil gambar untuk jogo bonito
Jogo Bonito khas Brasil. (Goal)

Jogo Bonito adalah permainan khas dari Brasil yang memadukan skill individu dan kerja sama tim. Tapi lebih banyak skill individunya. Mereka memperlihatkan sebuah kemampuan individu yang lincah nan indah bagai bentuk bodi Sora Aoi.

Makanya, pemain-pemain Brasil rata-rata punya skill individu menggocek yang tinggi. Dari yang goceknya ribet sampai yang standar-standar saja tapi mampu melewati adangan pemain lawan.

Tiki-Taka

Hasil gambar untuk Tiki taka spain
Gaya Tiki-Taka mampu membawa Spanyol juara Eropa dua kali dan juara Dunia. (The Telegraph)

Tiki-taka bisa dibilang anak dari Total Football. Dia memang lahir tanpa ayah. Selepas pensiun, Cruyff menjadi bagian dari mantan klubnya yaitu Barcelona. Melalui akademi La Masia, sang maestro mengembangkan gaya permainan Total Football. Gaya tersebut lalu disempurnakan Pep Guardiola dengan menambahkan unsur penguasaan bola dan triangle player yang dinamis, hingga akhirnya tenar dengan sebutan Tiki-Taka.

Disebut Tiki-Taka karena penguasaan bola dari kaki ke kaki, bukan kaki ke tangan. Menghasilkan sebuah keindahan dan pesona pada permainan sepak bola yang menghibur. Hebatnya, melalui gaya permainan ini Guardiola berhasil merengkuh 14 gelar selama berkarier di Barcelona. Filosofinya, “Karena anda menerapkan bola sebagai dasar permainan, Anda tak perlu bertahan, karena hanya ada satu bola di atas lapangan.”

Gegenpressing

Hasil gambar untuk gegenpressing
Gaya baru dalam sepakbola ala Klopp. (The Football Philosophy)

Gegenpressing sudah menjadi trademark Juergen Klopp baik saat melatih Borussia Dortmund maupun Liverpool. Gaya ini mengandalkan fisik pemain untuk melakukan pressing tanpa laminating, ketat secara bersamaan, agar para pemain lawan menjadi panik sehingga membuat kesalahan di area pertahanan sendiri.

“Kami akan mengejar bola, berlari lebih banyak, bertarung lebih sengit. Kami akan bekerja sama dengan lebih baik. Kami akan memiliki organisasi pertahanan yang lebih baik dari kesebelasan-kesebelasan lain,” ujar Klopp. Tak heran rata-rata para pemain menempuh jarak tertinggi di kancah Liga Primer Inggris.

Body Crash Football

Hasil gambar untuk football africa foul
Main keras ala Afrika. (Chroniclelive)

Body Crash Football adalah permainan dengan gaya keras yang menjurus kasar meski tak sampai berbuat cabul. Mereka biasanya punya pemain-pemain yang bertubuh besar dan fisik yang keras, sekeras tiang beton monorel. Gaya permainannya pun seradak-seruduk, “Bola bole lewat, tapi lawan jangan sampai lewat, kalau perlu diembat.

Adalah tim-tim asal Afrika yang biasanya memakai gaya ini. Ditambah pemain-pemain mereka pun punya fisik yang mumpuni. Gaya ini pernah diterapkan Nigeria saat Piala Dunia 1994. Kemudian negara-negara skandinavia macam Denmark dan Swedia juga mengadopsi gaya ini.

Catenaccio

Gambar terkait
Bertahan total ala Italia. (Sports.vice)

Terkenal sebagai produk asli gaya bermain khas klub italia. Terilhami dari sistem Verrou atau gerendelnya Karl Rappan, pada saat Swiss menjadi kejutan pada Piala Dunia. Nereo Rocco yang melatih Triestina pada 1950-an pertama kali memperkenalkan ini di Italia. Kemudian dipakai lagi oleh Internazionale pada 1960-an oleh Helenio Herrera.

Jika Anda pernah nonton kartun kapten Tsubasa, terkenal dengan taktik kandang burung, ini serupa dengan Catenaccio. Pada intinya, para pemain lawan dibiarkan merangsek ke pertahanan, lalu dengan timing yang tepat melakukan serangan balik.

Triestina arahan Rocco dulu membentuk formasi 1-3-3-3 atau 1-4-4-1. Hasil dari sistem ini memunculkan pemain Libero/Sweeper seperti Armando Picchi, Franco Baresi, Gaetano Scirea, Paolo Maldini, Ciro Ferrara, dan terakhir Leonardo Bonucci. Belakangan formasi yang mengadopsi gaya ini adalah 3-5-2, 5-3-2, atau 5-4-1.

Kick and Rush

Hasil gambar untuk kick and rush england
Kick and rush, tendang dan kejar khas Inggris. (The Telegraph)

Kick and Rush merupakan gaya bermain sepakbola Inggris yang cepat sangat menarik untuk ditonton. Gaya bermain Kick and Rush mengandalkan pemain tengah yang cepat dan akurat mengalirkan bola ditujukan ke para pemain-pemain cepat di kedua sayap.

Makanya wajar jika pemain Britania Raya punya speed kencang di game PES. Sebut saja Theo Walcott, Alex Oxlade-Chamberlain, Joel Campbell, Ryan Giggs, hingga striker lawas Michael Owen. Formasi yang sering digunakan adalah 4-4-2.

Pe-Pe-Pa

Hasil gambar untuk Timnas u-19 indra sjafri
Pendek, Pendek, Panjang. Apanya yang panjang? (Bola.net)

Pe-Pe-Pa merupakan singkatan dari Pendek-Pendek-Panjang. Ini merupakan gaya baru dalam permainan sepak bola. Bukan di Eropa, melainkan di Indonesia yang diperkenalkan lewat timnas U-19 karya Indra Sjafri. Coach Indra mencoba bermain umpan-umpan pendek dalam 2-3 umpan pertama kemudian memberikan long pass ke depan yang siap dikejar pemain-pemain cepat macam Maldini Pali.

Gaya ini sukses mempersembahkan Indonesia meraih gelar juara Piala AFF U-19 dan lolos ke Piala Asia U-19. Siapa tahu saja, pelatih sekelas Jose Mourinho atau Pep Guardiola berminat mencobanya usai nonton Youtube pertandingan Indonesia versus Vietnam yang ada komentator “Jebret”-nya.

Main photo credit: edTPA Tip

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here