Kabar mengejutkan tak hanya datang dari Ahmad Dhani yang gagal di Bekasi, tapi juga datang dari negara nan jauh di sana, Inggris. Tepatnya di klub Leicester City yang secara mengejutkan memecat pelatih Claudio Ranieri.

Pemecatan memang kerap terjadi di kota-kota besar, macam Jakarta dan Surabaya. Gelombang PHK rupanya juga sampai ke kota Leicester yang rada kecilan. Apalagi terjadi di sebuah klub sepak bola. Jadi pemecatan merupakan hal yang wajar-wajar saja bagi seorang pelatih.

Tapi yang bikin orang kecewa sekaligus kesal adalah ketika manajemen Leicester memecat pelatih yang sudah memberikan gelar juara Liga Primer sekaligus sejarah besar dalam klub berlambang rubah itu. Leicester telah mengambil sikap dan keputusan yang bulat, sebulat punyanya Sora Aoi.

Ranieri memang mampu bikin cerita dongeng yang tak kalah dengan Cinderella atau Snow White. Tim yang pada 2014 masih ‘unyu’ di Divisi Championship tiba-tiba berubah menjadi galak pada tahun berikutnya. Dari yang cuma jadi remahan rengginang di kaleng Khong Guan, mendadak jadi Indomie Goreng yang disukai semua orang.

Pada musim pertamanya di King Power, Ranieri secara mengejutkan membawa “The Foxes” menjadi tim kuda hitam sekaligus menjuarai Liga Primer pada 2015/16. Bahkan sukses menjadikan Jamie Vardy, striker yang tadinya cuma kelas tarkam bisa naik kelas sampai ke tingkat nasional, bahkan global.

Piala dan strip biru itu kini tinggal kenangan. (Twitter: @DonRanieri)

Sayangnya, cerita itu hanya bertahan pada musim 2015/16 saja. Musim ini, Ranieri yang bangga banget bisa bahasa Italia itu tidak mampu mempertahankan gelar juara. Boro-boro gelar juara, bisa berada di Liga Primer saja sudah bagus.

Pasalnya, mereka kini hanya berada satu tingkat di atas garis kemiskinan alias zona degradasi. Mereka cuma menang lima kali, bahkan masih lebih banyak kemenangan Thailand di Piala AFF kemarin.

Sisanya, mereka seri empat kali dan kalah sampai 16 kali. Kekalahan sepertinya jadi hobi baru Vardy dan kawan-kawan.

Leicester sebenarnya masih punya asa di Liga Champions. Mereka sanggup menempuh babak 16 besar dan masih punya kans untuk lolos ke babak berikutnya. Itulah yang disayangkan para pecinta sepak bola, termasuk pendukung Leicester sendiri.

Namun, manajemen Leicester sepertinya tak mau tahu. Meski sempat galau dalam mengambil keputusan, mereka akhirnya tetap memecat pelatih yang mukanya mirip pemeran film The Pink Panther itu. Ranieri macam jas hujan sekali pakai Indomaret yang sempat berjasa menahan hujan, tapi tak lama kemudian langsung dibuang.

“Ini jadi keputusan yang paling sulit sejak hampir tujuh tahun King Power mengambil kepemilikan Leicester City,” kata wakil presiden Aiyawatt Srivaddhanaprabha, yang namanya susah dieja itu.

Lebih lanjut, pria yang sepertinya dari Thailand itu menambahkan, “Bagaimanapun kita berkewajiban untuk mendahulukan kepentingan jangka panjang klub di atas semua perasaan pribadi.”

Ranieri Si Playboy

Yang jelas, pemecatan ini makin memperjelas Ranieri sebagai pelatih ‘playboy‘. Maksudnya adalah pelatih yang hobi banget gonta-ganti tim. Selama kariernya sebagai pelatih sejak zaman Iwan Fals masih gondrong, dia sudah 16 kali menangani klub yang berbeda.

Masa jabatan Ranieri biasanya juga tak lama. Paling lama cuma empat tahun saat menangani Fiorentina dan Chelsea. Masih lebih lama masa jabatan seorang presiden di Indonesia. Untunglah, saking seringnya gonta-ganti pasangan dia tak sampai tertular penyakit berbahaya.

Prestasinya memang tak sehebat jumlah tim yang dilatihnya. Tapi dia dikenal sebagai pelatih yang mampu memoles sebuah tim pesakitan jadi tim yang perkasa. Mirip-mirip dengan dokter yang mampu menyembuhkan pasiennya.

Bolatory Ranieri Infografis (1)

Sebut saja Chelsea yang kurang bagus-bagus amat pada akhir 1990-an kemudian mampu dipolesnya hingga memudahkan langkah Jose Mourinho mengubah Chelsea jadi tim yang cukup disegani.

Atau ketika menangani Valencia sampai bisa bikin mereka tembus Liga Champions, juara Piala Intertoto, dan La Liga. Begitu juga dengan Juventus yang sempat diangkatnya balik ke Liga Champions usai degradasi di Seri B.

Ranieri kini resmi berstatus pengangguran. Namun tak perlu kecewa karena Go-Jek, Uber, dan GrabBike sepertinya masih butuh pengendara. Setidaknya, dia sukses menciptakan sejarah yang tak pernah lekang oleh waktu. “Tak seorang pun yang bisa menghapus sejarah yang kau tulis,” ucap Jose Mourinho yang dengan tegas memberikan dukungan kepada Ranieri.

Arrivederci, Don Ranieri. Semoga sukses di klub selanjutnya.

Main photo credit: Mirror

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here