Real Madrid boleh menang atas Napoli pada leg kedua babak 16 besar Liga Champions di rumah sewanya, Stadion San Paolo. Namun, selalu saja ada kurangnya bagi para warga. Trio BBC kabarnya tetap mendapat kritikan. Gara-gara apa?

Madrid sukses melangkah dengan nyaman dan asyik ke perempat final dengan skor 3-1, skor yang sama dengan leg pertama. Mereka sepertinya janjian dengan Bayern Muenchen yang entah gimana skornya juga sama dengan leg pertama.

Napoli tampil kesetanan di babak pertama karena main di depan warganya. Fans Napoli sempat mekar hidungnya saat Dries Mertens mencetak gol lebih dulu dan menciptakan beberapa peluang lainnya. Ada harapan kalau Napoli bisa menang 2-0 dan lolos ke perempat final. Kapan lagi bisa mengalahkan klub sekelas Madrid, sang juara bertahan.

Namun, keunggulan mereka pelan-pelan sirna seperti harapan pada gebetan yang tak kunjung didapatkan. Bek yang hobi mencetak gol lewat sundulan, Sergio Ramos, dua kali membobol gawang Napoli di babak kedua. Namun, gol satunya dianggap bunuh diri Mertens karena sundulan Ramos terkena kepalanya Mertens yang ganteng itu.

Gol ketiga dicetak pemain yang tak kalah gantengnya, Alvaro Morata, yang wajahnya cocok jadi foto model kacamata di optik-optik. Para pemain Napoli akhirnya terkulai lemas, mengakui keperkasaan para pemain Madrid.

Namun, namanya warga ada saja kekurangannya. Meski menang, Madrid masih mendapat kritikan yang lebih tepatnya ditujukan kepada Trio BBC. BBC bukan ‘Bobo-Bobo Cantik’, melainkan trio Karim Benzema, Gareth Bale, dan Cristiano Ronaldo.

Trio BBC dianggap kurang maksimal karena pada laga itu tak ada yang mencetak gol. Ronaldo hanya kasih asis saja. Bahkan, Ronaldo belum mencetak gol lagi dalam enam laga terakhirnya di Liga Champions.

Gara-gara kritikan itu, Benzema pun sedih, cukup frustrasi, meski tak sampai mengganggu rohani. BBC jadi merasa serba salah kayak lagunya Raisa. Giliran mencetak gol tapi cuma seri disalahkan, giliran memenangkan timnya tapi tak mencetak gol juga disalahkan.

Namanya warga maunya yang perfeksionis. BBC harus mencetak gol dan meraih kemenangan. Padahal pencapaian itu tak semudah membalikkan telor dadar di penggorengan.

“Tentu saja kritikan itu mengganggu kami. Kami memang tidak mencetak gol, tapi kami bekerja keras untuk kepentingan tim. Lalu saat kami meraih hasil buruk, media selalu menyalahkan kami,” ucapnya dengan nada kesal, dikutip soccerway. 

Biarkan saja mulut-mulut asem warga berbicara. Yang penting teruslah berkarya demi masa depan yang lebih baik. *tamat

Main photo credit: Goal

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here