Napoli tampak berduka sedalam-dalamnya atas kepergian legenda mereka, Diego Armando Maradona, yang baru saja berpulang. Alhamdulillah, pada laga melawan Rijeka, mereka mampu memberikan kemenangan 2-0 untuk Maradona.

Maradona pasti tersenyum gembira dengan kemenangan ini. Menjelang kepergiannya ke liang kubur, masih mendengar tim kesayangannya meraih kemenangan.

Sebelum dimulai, para pemain Napoli memberikan penghormatan sebesar-besarnya kepada Maradona dengan mengenakan kostum bernama dan nomor punggung Maradona. Mereka berikan penghormatan terakhir yang diikuti dengan kemenangan.

Di luar Stadion San Paolo, yang rencananya akan diganti menjadi Stadion Diego Armando Maradona, sebagian warga Napoli ikut memberikan penghormatan terakhir dengan menyalakan flare. Merinding melihatnya.

Wajar jika warga Napoli sangat menghormati Maradona. Seumur-umur, Napoli tidak pernah berprestasi selain pada era Maradona selama 1984-1991.

https://twitter.com/FabrizioRomano/status/1332030933671825415

Yang menarik, Maradona yang namanya ketika itu mulai naik daun, bahkan sebelumnya main di Barcelona, mau-mau saja ketika dijual ke Napoli.

Napoli juga terbilang nekat. Mereka membelinya dengan uang cukup mahal ketika itu, seharga 13 juta pounds! Sekaligus memecahkan rekor transfer. Tak ada yang menyangka Napoli mampu membelinya dan tak ada yang menyangka Maradona mau menerima tawaran Napoli.

Padahal, Napoli ketika itu adalah tim non-unggulan. Masih menghuni papan tengah agak ke bawah. Saat itu baru meraih dua trofi Coppa Italia saja. Kedatangannya pun disambut bukan hanya sebagai pahlawan, tetapi juga juru selamat.

Dia tidak memandang klub Napoli sebagai gurem. Dia justru menjadikannya sebuah tantangan. Dan berhasil!

Sejak kedatangan Maradona, Napoli berangsur naik ke papan tengah hingga akhirnya meraih Scudetto pertama kalinya pada musim 1986/87. Sekaligus memutuskan dominasi klub Italia utara ketika itu.

Bersama Napoli lah masa keemasan Maradona. Selain mengantarkan Napoli juara Scudetto, sebelumnya dia membawa Argentina menjuarai Piala Dunia 1986.

Wajar jika orang tua zaman itu banyak yang menamai anaknya “Maradona”.

Wajar pula jika mendengar kata “Napoli” yang diingat adalah Maradona. Begitu juga sebaliknya. Mendengar kata “Maradona” pasti yang diingat adalah “Tangan Tuhan”, “Juara Dunia”, “Argentina”, dan tentu saja “Napoli”.

https://twitter.com/Football__Tweet/status/1331973736212422657

Tribun Stadion San Paolo tetap kosong tanpa penonton karena aturan selama pandemi Covid-19. Namun, di luar stadion ribuan fans berkumpul di luar stadion, sebagian besar membawa bunga duka cita, untuk memberi penghormatan kepada sang legenda klub.

Pada laga melawan Rijeka, Napoli mencetak dua gol lewat gol Matteo Politano dan Hirving Lozano.

“Saya punya banyak kenangaan indah bersama Diego. Kami beberapa kali makan malam bersama. Dia meninggal, tapi tak akan pernah meninggal. Dia orang yang luar biasa. Dia melakukan beberapa kesalahan, tapi semua orang juga begitu,” kata pelatih Gennaro Gattuso, seperti dilansir Football Italia disalin dari Bola.com.

“Bahkan kemarin berkendara di sepanjang kota, Anda bisa melihat suasananya benar-benar berbeda. Maradona datang dari planet lain dan dia akan hidup selamanya, seperti semua legenda. Saya berharap dia menyapa halo kepada saudara perempuan saya di atas sana,” imbuh Gatusso. 

Sekali lagi, selamat jalan, Maradona! Si legenda Napoli, Argentina, dan dunia!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here