Kisruh Juventus-Napoli akhirnya selesai. Pihak Seri A memutuskan dengan tegas dan dalam tempo yang kurang singkat-singkatnya, Juventus menang WO alias walk-out atas Napoli.

Napoli memang enggak datang ke Turin pada dua minggu lalu. Mungkin pas sampai bandara disuruh putbal alias putar balik kayak tim Indonesia yang putar balik di Tol Cipularang.

Sebenarnya Napoli bisa jadi untung karena cuma kalah WO 0-3. Siapa tahu saja kan, siapa tahu, kalau memaksa main malah bisa kalah 1-6, 2-7, atau 2-8. Siapa tahu.

Otoritas Seri A menilai kalau situasi force majeur yang dijadikan alasan oleh Napoli tidak memenuhi persyaratan. Jadi ada kemungkinan Napolinya sendiri yang lalai tidak menerapkan protokol kesehatan sehingga dilarang oleh pemda setempat buat bepergian.

Soalnya, Milan dan Inter saja saat ini memiliki lebih dari 3 pemain yang terkena COVID-19. Keduanya pun bersiap melakoni derbi akhir pekan ini dan tidak ada ngemis-ngemis minta ditunda.

Gerardo Mastrandrea, hakim yang bertugas menangani kasus ini, menilai sikap Napoli salah. Napoli harusnya tetap datang ke Turin dan menjalani laga sesuai protokol kesehatan yang ditetapkan.

“Menurut hakim dari olahraga ini, kasus force majeure tidak terbukti,” bunyi pernyataan dari otoritas liga seperti dikutip Goal.

“Protokol yang ditetapkan oleh Federasi Sepakbola Italia [FIGC] memuat ketentuan yang memungkinkan Napoli melakukan perjalanan ke Turin untuk laga tersebut,” kata Mastrandrea dikutip dari AS.

Mastrandrea merujuk pada Pasal 55 dari Peraturan Internal FIGC. Di situ di atur secara rinci apa saja yang membuat laga bisa ditunda dengan status force majure. Napoli dinilai tidak memenuhi aturan itu.

https://twitter.com/socios/status/1316430827220328454

Keadilan Sosial Bagi Juventus?

Bukan cuma kalah WO saja, Napoli juga dikenakan hukuman penalti minus 1 poin gara-gara ini. Jelaslah Napoli ini makin bete dengan situasi yang menurut mereka enggak ada rasa sila kelimanya. Mungkin pikir mereka, keadilan sosial bagi seluruh warga Juventus.

Makanya, I Partenopei berniat banding ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) dan kemudian ke CONI, otoritas olahraga tertinggi di Italia.

Namun yang menarik, pegangan Napoli soal larangan dari ASL atau otoritas kesehatan daerah Naples memiliki celah. Soalnya Napoli membatalkan reservasi pesawat pada hari Sabtu, sedangkan ASL baru menerbitkan larangan pada hari Minggu.

Artinya, Napoli memang sudah tidak berniat pergi sejak hari Sabtu. Entah karena takut atau apa. Kalau memang benar begitu, sudah jelas keadilan memang layak diberikan kepada Juventus.

Pihak Juventus yakin kalau Pemda setempat melarang Napoli pergi karena kesalahan Napoli sendiri. Soalnya baru terjadi kasus ini saja, sedangkan klub-klub lainnya masih diperbolehkan pergi jika ada 1-2 pemainnya yang kena COVID.

Menurut Presiden Juve, Andrea Agnelli, ASL (otoritas kesehatan daerah) akan ikut campur jika Napoli tidak menerapkan protokol kesehatan.

“Setiap industri memiliki aturannya sendiri dan kami perlu menghormatinya. Saya tidak berpikir ASL [otoritas kesehatan lokal] Napoli dapat ikut campur tangan jika Protokol FIGC, yang mengacu kembali pada surat edaran pemerintah, tidak dipatuhi di sejumlah titik. Jika protokol berubah, kami akan kembali mematuhinya,” kata Agnelli.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here