Monaco boleh saja punya kekuatan fisik lebih prima dibandingkan Juventus. Tapi sejatinya, pengalaman lebih berbicara. Bermain di level Liga Champions tak hanya dibutuhkan skill serta stamina yang bagus, tapi juga kematangan dan pengalaman seperti yang dimiliki para pemain tua “The Old Lady“.

Banyak yang bilang kalau pertandingan Monaco dengan Juventus di semifinal Liga Champions ini pertarungan anak muda lawan orang tua. Skuat starter “Les Monegasques” bermaterikan pemain-pemain belia yang hitungannya masih layak jadi mahasiswa atau baru lulus kuliah.

Sebut saja Fabinho (23 tahun), Jemerson (24), Tiemoue Bakayoko (22), Bernardo Silva (22), Djibril Sidibe (24), Thomas Lemar (21), dan Kylian Mbappe (18). Yang rada senior hanya yakni Danijel Subasic (32), Radamel Falcao (31), Kamil Glik (29), dan Nabil Dirar (27).

Tujuh dari 11 pemain starter mereka berusia 20 tahunan. Jika dirata-rata, usia skuat starter mereka hanya 24,8 tahunan.

Hasil gambar untuk mbappe buffon
Ngalah sama yang tuaan, nanti kualat. (Source: Sofoot)

Sebaliknya, tujuh dari 11 pemain starter Juve berusia 30 tahunan dengan rata-rata usianya 30,4 tahunan. Perbedaan angkanya memang begitu tinggi sampai enam tahunan.

Yang paling tua tentu saja Gianluigi Buffon (39 tahun), disusul Andrea Barzagli (35), Dani Alves (33), Giorgio Chiellini (32), Claudio Marchisio (31), Mario Mandzukic (30), dan Leonardo Bonucci (30). Hanya Paulo Dybala yang usianya terpaut jauh yakni 23 tahun.

Maka memang cocok kalau laga ini seperti golongan tua yang dipimpin Soekarno cs melawan golongan mudanya Wikana, BM Diah, Sukarni, dan kawan-kawan lainnya pada Peristiwa Rengasdengklok.

Hasilnya? Ternyata yang muda kalah sama yang tuaan. Dari segi semangat dan skill mungkin Monaco masih unggul. Itulah mengapa mereka bisa mengalahkan Manchester City dan Borussia Dortmund.

Tapi dari segi mental, kematangan, dan pengalaman, Juve lah yang memegang kendali. Pengalaman bermain di level dunia jadi modal “Si Nyonya Tua” untuk menghentikan Monaco. Beda kualitas pengalaman dengan City dan Dortmund.

“Juventus sangat berbeda dari City dan Dortmund. Dua tim sebelumnya hanya fokus pada serangan tetapi tidak fokus pada pertahanan. Tak mudah buat siapapun menghadapi Juve, Mbappe tak bisa menemukan ruang dan mesti belajar banyak,” ujar pelatih Leonardo Jardim yang mirip Arjen Robben itu.

Mbappe yang hitungannya anak kemarin sore yang baru dapat KTP itu juga mengakui kematangan para pemain Juve. Dia perlu banyak belajar dari yang tuaan. Siapa tahu bisa jadi modal bagus buat leg kedua karena pada dasarnya Monaco juga masih punya peluang.

“Kami masih kurang pengalaman, tapi yang terpenting kami mendapat pengalaman dari laga ini. Mereka hanya punya dua peluang tapi berbuah gol, mereka main efektif sehingga itu jadi pembelajaran buat kami,” ujar Mbappe yang terpaut 21 tahun dari Buffon.

Jadi ketika Buffon masuk skuat Piala Dunia 1998 di Prancis, Mbappe baru dilahirkan ke bumi. Terlepas dari itu, Monaco masih punya peluang di leg kedua meski kecil. Tapi jika Tuhan berkehendak, maka apapun bisa terjadi.

https://twitter.com/amadoit__/status/859860168133234688

Main photo credit: Twitter (@detikcom)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here