Tak sampai 24 pasca-ledakan bom di dekat bus Borussia Dortmund, tim asuhan Thomas Tuchel itu harus menjalani kewajibannya sebagai peserta turname Liga Champions. Mereka harus mengalami kekalahan 2-3 dari Monaco.

Gol demi gol terjadi, silakan lihat sendiri cuplikan pertandingannya di Youtube dan web-web sejenis. Yang jelas, Kylian Mbappe Lottin mencetak dua gol buat Monaco, satu golnya lagi bunuh diri Sven Bender.

Sedangkan Dortmund cuma bisa balas lewat gol Ousmane Dembele dan Shinji Kagawa. Tak bisa lebih dari itu karena pertandingan cuma dikasih waktu 90 menit. Lain cerita kalau 150 menit.

Kekalahan ini memang mengecewakan buat Dortmund. Apalagi, kondisi mental para pemain Dortmund sudah pasti masih terguncang gara-gara insiden bom.

Salah seorang pemainnya yang diketahui bernama Marc Bartra, seorang pemuda keturunan Spanyol, menjadi korbannya dan dilarikan ke rumah sakit.

Bahkan, salah seorang pemain Dortmund melihat sebuah paku menancap di kepala kursi tempat mereka duduk. Beruntung tak ada yang terkena paku yang mungkin berasal dari pecahan bom. Tapi artinya, kematian sangat dekat dengan mereka.

Kondisi ini ternyata kurang mendapat perhatian dari UEFA. Itulah yang dikeluhkan Tuchel pasca-pertandingan. Klub berkostum kuning-hitam kayak buldoser gedung itu sebenarnya tak siap buat bertanding.

UEFA katanya cuma memikirkan soal jadwal yang jadi tertunda, tanpa memikirkan perasaan para pemain Dortmund. Namanya perasaan tentu harus diperhatikan juga, bayangkan kalau kita disakiti oleh mantan, pasti rada bete kalau ditanya terus-terusan oleh teman “kapan move-on?”

“Beberapa saat setelah serangan, satu-satunya pertanyaan yang ditanyakan ke kami adalah ‘Apakah kami siap bermain?’, seakan-akan bus kami cuma dilempar botol bir,” kata Tuchel, dikutip Guardian.

Menariknya, UEFA langsung memberikan tanggapan. Mereka katanya tidak tahu kalau “Die Borussen” tak siap main. Singkat kata, judulnya adalah “miskom“.

Namun, sebagai lembaga tertinggi di Eropa, UEFA harusnya mereka juga perlu memerhatikan kondisi para korban. Inilah yang mungkin kurang mendapat perhatian.

“Kami berkomunikasi kepada semua pihak dan tidak mendapat satu pun informasi yang mengatakan bahwa salah satu tim tidak ingin bermain,” tulis UEFA.

Sebenarnya tak salah juga si UEFA, karena mereka sudah menjalankan prosedur dengan menanyakan pertanyaan itu kepada Dortmund. Tim Dortmund juga sudah sepakat buat main.

Dortmund dan UEFA jadi kayak orang pacaran. Yang satu berharap ditanya “tunda”, tapi yang satu tak pengertian, langsung to the point nanya “mau main apa enggak”.

Mungkin Dortmund rada gengsi, main jawab “Iya” saja, atau mereka tidak mendapat opsi mau lanjut main atau mau tunda. Bisa jadi, kalau ada opsi, mereka akan pilih tunda.

Yang pasti, kekalahan ini juga mendapat simpati dari pihak lawan. Pelatih Monaco, Leonardo Jardim turut memberikan rasa simpati tersebut.

“Ini bukan masalah yang berkaitan dengan sepak bola. Tapi, saya rasa, meski ada peristiwa itu, fans Dortmund dan AS Monaco memperlihatkan respon yang bagus. Saya gembira dengan sikap pendukung kedua tim,” kata Jardim seperti di-copas Sindonews.

Mereka juga setuju dengan Tuchel bahwa pertandingan harusnya tak digelar berdekatan dengan waktu terjadinya bom. Hal ini mengurangi konsentrasi para pemain Dortmund.

Tentu saja persiapannya tidak sama. Kami harus bersiap dua kali untuk laga yang sama. Persiapan di hari kedua lebih sulit. Ini normal. Pemain Dortmund kemarin menghubungi keluarga dan teman. Alhasil, konsentrasinya tidak dilevel tertinggi,” sambungnya lagi.

Main photo credit: Twitter (BBC)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here