Oleh: Paundra Jhalugilang

Striker asal negeri nun jauh di sana, Peter Odemwingie, akhirnya resmi mendarat di Pulau Madura. Secara harfiah sebenarnya mendarat di Jakarta dulu, baru jalan ke Madura. Dia resmi bergabung dengan MU.

MU di sini bukan Manchester United, tapi Madura United, yang secara mengejutkan mendatangkan pemain asal Nigeria itu. Seolah jadi tren, MU mengikuti jejak Persib Bandung yang mendatangkan pemain-pemain liga ternama seperti Michael Essien dan Carlton Cole, yang tak ada hubungan saudara dengan Kembang Cole dan Jeng Cole.

Odemwingie yang pernah bermain di West Bromwich Albion dan Stoke City itu resmi diperkenalkan manajemen MU di Senayan, Jakarta. Dia berstatus marquee player yang lagi heboh belakangan itu.

Namun, ada hal yang kurang sedap buat didengar. Media Inggris, Mirror, menyebut pemain yang sudah mulai masuk masa puber kedua itu sedih bergabung dengan MU. Alasannya, cuma sekadar melihat foto dari kejauhan, bukan melihatnya secara langsung. Beritanya dapat dilihat di sini.

Mirror berkesimpulan demikian setelah melihat wajah Odemwingie yang terlihat letih. Matanya sayu, tatapannya kosong, mungkin karena memikirkan rumah kontrakannya di Madura mau di daerah mana.

Namun, alangkah tidak bijak bila Mirror menyimpulkan Odemwingie terlihat sedih cuma melihat dari foto. Mereka tidak menyaksikannya langsung acara perkenalan di Jakarta.

Mereka tidak mewawancarainya, apakah Odemwingie benar-benar sedih atau mungkin justru senang bisa gabung dengan MU. Siapa tahu dia senang bisa pertama kalinya menyebrangi Selat Madura lewat Jembatan Suramadu.

Hanya dari foto wajah, mereka berkesimpulan demikian. Padahal, bisa jadi dia kelelahan. Kalau bahasa kerennya, jet lag, setelah terbang jauh naik pesawat. Ya harus naik pesawat, tidak mungkin pesan Grab atau GO-JEK.

Mirror menyebut Odemwingie sedih gabung Madura United
Ini dia berita Mirror yang bilang kalau Odemwingie ini sedih. (Source: Sepakbola.com)

Bukan Cuma Kritik, Tapi Juga Nyinyir

Kemungkinan besar, Mirror ini nyinyir karena mulai banyak pemain-pemain jebolan Liga Primer main di Indonesia. Mereka tidak tahu kenapa banyak pemain yang mau main di Indonesia, yang mungkin bagi kebanyakan orang Inggris, tidak tahu di mana lokasi Indonesia ini berada.

Lihat saja ketika Essien membuat gempar masyarakat sedunia sampai para tetangga di komplek-komplek. Mereka kaget kalau pemain juara Liga Champions mau main di Indonesia. Nama klubnya saja mereka belum pernah dengar.

Saat PSSI menunjuk Luis Milla sebagai pelatih timnas, sempat diejek juga oleh media luar, kenapa Milla mau melatih timnas yang ada di peringkat ratusan FIFA.

Tapi menurut saya, apa yang dikemukakan Mirror, adalah sebuah bentuk penghinaan. Bukan maksud mau kompor, tapi seolah-olah Odemwingie ini sedih direkrut klub bola Indonesia.

Seolah-olah main bola di Indonesia merupakan kasta paling bawah bagi sepak bola dunia. Seolah Indonesia ini bangsa sepak bola yang katro dan norak. Memang prestasi timnas kita masih gitu-gitu saja, tapi tidak segitunya juga.

Persepakbolaan Indonesia juga masih belum benar-benar amat. Kadang masih carut-marut. Nonton di TV saja suka malas karena masih banyak pemain kita yang salah oper atau salah kontrol bola. Sangat mendasar sekali kesalahannya.

Namun, bukan berarti Indonesia tidak bisa berkembang. Justru dengan kedatangan para pemain marquee player inilah, negara kita tercinta bisa menunjukkan kebangkitannya.

Indonesia punya suporter yang gila bola. Banyak pecinta Liga Primer, Liga Italia, Liga Spanyol di sini. Mereka bahkan lebih fanatik dari apa yang terjadi di luar sana.

Ini menandakan, meski industri sepak bolanya masih minimalis, tapi antusiasme masyarakat bola bisa jauh melebihi Spanyol, Italia, Inggris, Jerman, Vanuatu, sampai Timbuktu.

Yang lebih lucu lagi, Mirror meledek kaus tim MU yang ukurannya sangat besar. Padahal, kaus itu cuma dummy, bukan kaus sebenarnya yang akan dipakai pemain berwajah ganteng rata-rata itu.

“Ada aspek lainnya yang menarik perhatian juga, ukuran kaus yang ada di meja. Tentu itu bisa muat empat Odemwingie di sana,” tulis Mirror yang turut mengutip ledekan dari seorang netizen.

Jadi sebenarnya, siapa yang bodoh? Saya tak mau bilang. Tapi saya berani bilang kalau Mirror ini kurang ajar. Asumsi mereka yang cuma melihat dari foto itu sudah kelewatan. Sepertinya kurang mengikuti kaidah jurnalistik sebenarnya, cuma bisa main di asumsi saja.

Tapi itulah, namanya juga media Inggris. Mereka tak cuma dikenal kritis, tapi juga nyinyir dan pedas. Cocok punya akun kayak Lambe Turah atau Lambe Nyinyir di Instagram.

Pedasnya komentar media di Inggris juga seringkali menghambat tim nasional Inggris berlaga di dunia internasional. Tekanannya sangat besar dari media. Mereka tak akan henti-hentinya menyalahkan pemain dan pelatih “The Three Lions” jika mendapat hasil buruk.

“Mereka harus mulai berhenti menyalahkan orang. Jangan salahkah siapa pun termasuk pemain,” ujar pemain belakang Manchester City, Vincent Kompany, beberapa bulan lalu, dikutip Okezone.

Begitu juga pernyataan yang pernah diungkapkan Sir Alex Ferguson yang dengan tegas menolak melatih Inggris. Dia mengakui kalau pekerjaan itu, meski barokah, tetap saja mengerikan.

“Saya tak pernah berpikir jadi pelatih Inggris. Saya pikir itu pekerjaan mengerikan. Saya mungkin tidak pernah peduli bagaimana media menggambarkan timnas Inggris. Saya tahu pekerjaan sebagai pelatih adalah mimpi buruk,” ujar Fergie dikutip Kompas.com pada 2013.

Begitulah, akan capek sendiri kalau melihat bagaimana pemberitaan media-media Inggris. Bahkan ada yang suka bikin isu sendiri, tanpa menyebut narsumnya. Seolah-olah sebuah klub tertarik merekrut pemain lawan, padahal tak pernah ada informasi sebelumnya. Tapi mereka mampu memainkan isunya.

Tapi sekali lagi, apa yang dilakukan Mirror bikin saya tergerak untuk menuangkannya dalam sebuah tulisan.

Main photo credit: Media Madura


Paundra finPaundra Jhalugilang

Penulis adalah pemuda harapan bangsa yang biasa-biasa saja. Bekas wartawan tanpa pengalaman yang melihat sepakbola dengan penuh pesona. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here