Oleh: Paundra Jhalugilang

AC Milan telah resmi mem-PHK Marco Giampaolo tanpa pesangon. Padahal usia kepelatihan Giampaolo baru 111 hari. Itu kalau diibaratkan bayi masih merah, belum bisa cebok sendiri.

Kita tidak mau membahas kenapa Giampaolo gagal melatih Milan. Soalnya bukan cuma Giampaolo saja yang gatot, bukan gagal ng*tot (ngotot) tapi gagal total, melainkan juga pelatih-pelatih terdahulunya. Jadi lelah hayati juga kalau bicaranya itu lagi.

Yang menarik, adalah melihat ada apa di tubuh Milan. Kenapa banyak pelatih yang gagal setelah kepergian Massimilliano Allegri, pelatih yang membawa mereka meraih gelar Seri A terakhir kali pada 2011.

Tercatat sudah tujuh pelatih yang menangani Milan selama lima tahun terakhir. Yang lebih kaget, empat di antaranya adalah mantan pemainnya sendiri.

Clarence Seedorf, Filippo Inzaghi, Christian Brocchi, dan Gennaro Gattuso adalah pemain yang sudah cukup lama menjadi pemain Milan. Pasti tahu betul seluk beluk klub berjuluk “Rossoneri” itu. Tapi kenapa kok masih gagal?

Padahal, biasanya kalau bekas pemain lalu jadi pelatih itu kerap sukses. Contohnya Antonio Conte yang sukses menyulap Juventus menjadi kinclong lagi. Atau Josep Guardiola mantan pemain Barcelona yang juga sukses ketika jadi pelatihnya.

Atau ya, contohnya Fabio Capello dan Carlo Ancelotti, duo pelatih Milan yang sukses besar, dulunya juga mantan pemain Milan. Statusnya lejen banget pokoknya.

Nama-nama seperti Seedorf, Inzaghi, Brocchi, dan Gattuso adalah para lejen Milan yang mendulang banyak piala. Sekelas Brocchi saja, dua gelar Liga Champions berhasil diraihnya, jauh lebih banyak dari Gianluigi Buffon dan Bambang Pamungkas sekalipun.

Tapi lagi-lagi, pertanyaannya kenapa mereka tidak bisa sesukses Capello dan Ancelotti? Apakah karena mereka tak seganteng Capello dan Ancelotti? Tidak juga, Inzaghi itu memiliki wajah tampan khas pria Italia yang flamboyan.

Mari kita bedah tanpa menggunakan pisau bedah.

Jawaban soal manajemen Milan yang berantakan itu sudah tak perlu diungkap. Bobroknya arus keuangan dan krisis kepemilikan jadi masalah utama yang ada di sana.

Elliot Management praktis baru menguasai Milan baru-baru ini saja. Namun dana besar-besaran yang dikenal dengan “We Are So Rich”-nya ala Yonghong Li ternyata tak ada hasil sama sekali.

Uang, kalau tak dibelanjakan dengan bijak ya tidak ada hasilnya. Manajemen Milan sangat tidak cermat dalam melihat kebutuhan tim, jadi seolah main asal beli saja. Yang penting kelihatan kaya.

Alasan kedua, ya memang Seedorf, Inzaghi, Brocchi, dan Gattuso dasarnya bukan pelatih hebat. Mereka hanya hebat sebagai pemain, tidak hebat sebagai pelatih.

Seedorf, seusai melatih Milan dia menangani Shenzen, La Coruna, dan timnas Kamerun. Hasilnya, persentase kemenangan tak ada yang di atas 50%. La Coruna paling parah, cuma 12,5% saja karena hanya berhasil menang dua kali saja dari 16 laga.

Inzaghi, seusai melatih Milan dia menangani klub-klub medioker Italia. Dari Venezia, Bologna, dan terakhir Benevento. Catatan terbaik ada ketika melatih Venezia, berhasil membawa promosi ke Seri B dan mencatat persentase kemenangan 50,53 persen. Tapi kembali, levelnya cuma Seri B.

Saat menangani Bologna, Inzaghi kembali terpuruk tak bisa memperlihatkan kehebatannya sebagai pelatih. Dari 24 laga, cuma memenangkan empat pertandingan saja.

Brocchi, statusnya saat itu cuma caretaker. Hitungannya anak bawang karena dia cukup bagus saat memegang Milan Primavera. Namun setelah enggak jadi pelatih Milan lagi, dia menangani Brescia yang hasilnya juga sama. Hanya tujuh kemenangan dari 31 laga. Sekarang, entah dia jadi apa.

Terakhir adalah Gattuso. Sejak awal, sebenarnya sudah terlihat kalau Gattuso ini bakatnya kurang jadi pelatih. Kalau bilang “tidak ada bakat” rasanya terlalu kasar.

Klub-klub kecil yang ditangani Gattuso tidak ada yang sukses. Dari Sion, Palermo, OFI Crete, dan Pisa persentase kemenangannya tidak ada yang sampai 40%. Mungkin dia memang bisanya marah-marah saja, ketimbang jadi pelatih.

Namun, justru Gattuso lah yang paling lumayan di antara semuanya. Gattuso bersama Milan tidak jelek-jelek amat. Masih bisa menang 40 kali dari 83 laga, setidaknya jauh lebih banyak menangnya dari kalahnya yang berjumlah 20 kali.

Jika mau merujuk pada pelatih-pelatih lain, contohnya Conte, setidaknya menunjukkan hasil bagus ketika menangani Bari. Ada 32 kemenangan dari 67 laga. At least, banyakan menangnya dari kalahnya.

Contoh lain Ancelotti, saat menangani Parma mencatat 42 kemenangan dari 87 laga, kalahnya cuma 18 kali. Artinya, bakat-bakat kepelatihan sudah terlihat.

Nah, Milan ini apa enggak lihat-lihat dulu bakat dari para lejen-nya itu. Sudah gitu, anaknya juga enggak sabaran. Gattuso yang lumayan, main depak saja digantikan pelatih yang tak kalah mediokernya.

Mungkin maksud hati mengulang sukses pada Massimilliano Allegri, tapi gagal. Milan lupa melihat bahwa kondisi saat merekrut Allegri dari Cagliari ketika itu, masih diisi para pemain mantap sekelas Zlatan Ibrahimovic, Robinho, Alessandro Nesta, Massimo Ambrosini, dan sisa-sisa pemain kejayaan masa lampau yang lainnya.

Jadi selain gagal merekrut pemain bagus, mereka juga gagal merekrut pelatih bagus. Yang lebih parah, gagal mempelajari situasi yang sedang mereka hadapi.

Milan yang sekarang bukan Milan yang dahulu. Sekarang diisi oleh pemain-pemain kelas menengah. Mending kalau menengah atas, tapi ini menengah saja, bahkan menengah ke bawah.

Mungkin Milan kapok merekrut pelatih yang merupakan mantan pemain. Makanya dia memilih Giampaolo, dan kini Stefano Pioli. Namun semoga saja Pioli tidak gagal lagi. Dibutuhkan pelatih bermental juara untuk membangun kembali skuat Milan yang sedang rombeng itu.

Main photo: Milanlive


Paundra Jhalugilang

Penulis adalah pemuda harapan bangsa yang biasa-biasa saja. Bekas wartawan tanpa pengalaman yang melihat sepakbola dengan penuh pesona.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here