Dalam keadaan terdesak, voucher “special” unlimited yang dimiliki Milan dapat sangat berguna. Voucher itu adalah penalti yang mampu dimanfaatkan saat berada di ujung tanduk.

Menjamu Udinese di San Siro, Milan sebenarnya sudah kalah 0-1 secara waktu pertandingan. Waktu tambahan 5 menit, tapi wasit memberikan keringanan dua menit. Di situlah Milan memanfaatkan betul voucher penalti untuk menyamakan kedudukan 1-1.

Milan tertinggal lewat sundulan Rodrigo Becao. Sundulan Becao ini sebenarnya pelan dan bisa ditepis oleh Gigio Donnarumma. Namun Donna malah gelagapan karena di depannya ada pemain Udinese. Mungkin kehalang atau gimana, bola yang harusnya bisa ditepis malah luput. Bodoh sekali Yang Mulia.

Milan memang kurang gereget di laga ini. Mereka main dengan tempo biasa-biasa saja, tidak banyak serangan berbahaya. Mungkin ini yang bikin wasit kesal.

Diberi waktu 90 menit tapi lembek banget macam tape kelamaan direbus. Akhirnya dikasih waktu Injury Time rada lamaan sampai lima menit. Masih kurang juga. Ditambah lagi dua menit, total 7 menit, barulah bisa mencetak gol.

Itu juga dengan bantuan voucher penalti. Benar-benar ini Milan, vouchernya tidak habis-habis. Dalam tiga laga terakhirnya, mereka dapat penalti terus.

Memang, pada kasus lawan Udinese ini, Milan layak dapat penalti. Soalnya pemain Udinese yang namanya Jens Stryger Larsen malah main basket. Padahal jelas-jelas dia itu pemain sepak takraw.

Namun tetap saja, faktanya Milan baru bisa menyamakan kedudukan lewat penalti. Selama 96 menit sebelumnya, mungkin lagi enak ngopi.

“Kami ingin menang, itu memalukan. Kami tahu akan sulit melawan tim dengan semua orang di belakang bola. Saya melihat determinasi dan kurangnya kejelasan. Ada kekurangan kualitas dan ritme, bukan kemarahan dan determinasi,” ungkap Pioli, dikutip Sindonews.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here