Berakhir sudah petualangan Lionel Messi bersama Barcelona, klub yang dibelanya dari kecil. Mereka terpaksa harus berpisah, Messi terpaksa harus pergi dengan cara yang tidak diharapkan. Benar-benar sedih dan pedih.

Bagaimana tidak sedih, sakit dan patah hati. Messi sudah seperti dewa di Barcelona. Disanjung-sanjung segala macam. Fansnya loyal mengalahkan fans Raffi Ahmad.

Tak usah ditanya berapa prestasi secara klub maupun individu yang ditorehkan Messi untuk Barcelona. Messi pokoknya sayang banget sama Barca. Klub yang membantunya waktu masih kecil ketika berusia 13 tahun karena memiliki kelainan pada tubuhnya.

Memang, setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Namun tentu perpisahannya tidak seharusnya terjadi seperti ini. Messi seperti dipaksa pergi, dan Barca juga tidak bisa berbuat apa-apa.

Taruhlah, Messi pergi memang karena sudah waktunya pensiun. Namun, kini Messi pergi hanya karena Barcelona tidak punya uang.

Efek pandemi memang Barca kini jadi kismin. Beban gaji pemain yang terlalu besar memang akhirnya jadi batu sandungan buat Barca. Ditambah, aturan dari La Liga soal batasan gaji para pemain.

Messi sebenarnya sudah bersedia memotong gajinya asalkan dia masih tetap di Barca. Namun, Barca tidak punya pilihan lain selain tidak memperpanjang kontraknya gara-gara aturan tersebut.

Untuk sekarang ini batas gaji Barcelona secara signifikan lebih tinggi dari yang diizinkan Liga Spanyol. Barcelona telah diminta untuk memotong gaji pemain sebesar 187 juta euro atau sekira Rp3,1 triliun.

Untuk memenuhi persyaratan itu, Barcelona lantas menjadikan Samuel Umtiti, Philippe Coutinho dan Martin Braithwaite sebagai pemain yang akan dijual. Sayangnya Barcelona belum dapat menemukan pembeli untuk mereka.

Di sinilah letak kesalahan Barca. Mereka terlalu jor-joran menggaji pemain sehingga kuota untuk gaji Messi selanjutnya tidak tercukupi.

Klub jagoannya Coach Justin itu pun menggelar acara perpisahan Messi hari Minggu kemarin di markas klub. Dalam seremonial itu, Messi mengucapkan suka dukanya selama berseragam Blaugrana sejak tahun 2004.

Dia pakai jas, dihadiri petinggi Barcelona serta istri dan anaknya, dan juga para pemain Barcelona. Tak terkecuali Sergino Dest yang pakai baju basket celana pendek. Benar-benar tidak ada akhlak sekali ini, perpisahan seniornya yang paling jago tapi pakaiannya begitu.

Mereka pun memberikan standing applause dan Messi begitu larut dalam kesedihan, yang seolah tidak percaya kalau dirinya tidak akan lagi berseragam Barca. Begitu juga dengan anaknya, Thiago, yang tampak tertunduk dan menyeka air matanya.

“Beberapa hari sebelumnya saya sudah coba memikirkan apa yang akan saya katakan di sini. Tapi faktanya saya tidak bisa memikirkan apapun kemarin. Ini merupakan momen yang sulit buat saya, saya sudah berada di sini selama hidup saya. Saya tidak siap untuk ini,” ujar Messi dikutip Suara.com.

“Keluarga & saya sudah yakin untuk bertahan di Barcelona, yang merupakan rumah kami. Kami sudah berpikir akan bertahan di Barcelona.”

“Kita tidak bisa bermain bersama fans dalam beberapa tahun terakhir karena pademi. Saya sedih harus meninggalkan klub ini tanpa bisa melihat para fans selama satu setengah tahun lebih. Saya ingin rasanya berpisah dengan cara berbeda, yakni bersama semua orang di stadion.”

“Mengenai perpanjangan kontrak, hal tersebut sudah selesai dibahas beberapa waktu lalu, karena aturan La Liga hal itu tidak bisa terjadi. Sama seperti yang dijelaskan oleh Laporta kemarin.”

“Saya telah mencoba segalanya untuk bisa bertahan di Barcelona. Tahun lalu saya memang berencana untuk hengkang, saya jujur mengatakan itu. Tapi tahun ini, saya ingin bertahan, sayangnya tidak dapat terjadi.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here