Nama Ederson Moraes di bawah mistar gawang Manchester City sepertinya sudah tidak tergantikan untuk saat ini. Sejak bergabung pada dua musim lalu, kiper yang sepertinya tergabung dalam aliansi “masberto’ alias mas-mas bertato itu selalu menjadi andalan Pep Guardiola.

Bisa dibilang saat ini adalah salah satu puncak karier Ederson sejauh ini di level klub. Seperti diketahui bahwa musim lalu City berhasil merebut gelar Premier League dengan memecahkan berbagai rekor.

Tak bisa dipungkiri bahwa Ederson menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan Manchester City. Tapi agak sulit juga untuk menakar apakah Ederson ini jago atau tidak.

Pasalnya seperti kita ketahui bahwa kalau pertandingan City ini, kebanyakan hanya main setengah lapangan. Saking mendominasinya, gawang City jadi jarang diserang.

Meski demikian, dari 36 penampilannya di Premier League musim lalu, Ederson mampu mencatatkan 17 clean sheets.

Pada musim ini pun City masih perkasa baik di kompetisi lokal maupun Liga Champions. Meskipun performa Ederson sempat menurun, dirinya masih tercatat mengantongi delapan clean sheets dari 21 penampilan dan kebobolan 17 gol.

Namun siapa yang sangka, bahwa sebelum mencapai karier seperti saat ini, Ederson sempat mirip lagu Meggy Z alias jatuh bangun. Sebelum sampai di titik karier sekarang ini, pria berwajah ganteng dinamis itu ternyata harus melewati momen-momen depresi yang nyaris saja membuantnya harus pensiun dini.

Saat berumur 15 tahun, Ederson sempat berpikir untuk gantung sepatu sebagai pemain bola. Saat itu Ederson masih membela klub lokal di kampung halamannya, Sao Paolo.

Entah apa yang membuat Ederson mengalami depresi. Ia sendiri tidak menjelaskannya lebih lanjut depresi karena apa. Apakah karena putus cinta atau sedih melihat ceweknya jadi fans K-Pop.

Tapi sepertinya, Ederson tidak sampai menyetel lagu Diary Depresiku dari Last Child sambil menenteng botol ‘orang tua’. Lalu tangannya disayat-sayat dengan silet macam anak EMO kalau sedang galau.

“Itu adalah situasi yang sulit. Saya masih berumur 15 tahun dan melewati momen berat, satu bulan mengalami depresi dan berpikir untuk berhenti,” ujar Ederson seperti yang dikutip dari Liputan6.

“Beruntungnya, saya punya kedua orang tua yang selalu memberi dukungan dan membuat saya berani untuk kembali bermain,” tambahnya.

Benar saja, andai memutuskan untuk pensiun dini, ia tak mungkin merasakan bagaimana rasanya dinyanyikan lagu Champions League sebelum bertanding.

Ederson sendiri mengaku mengidolakan kiper Brasil, Rogerio Ceni. “Semangat untuk menjadi seorang penjaga gawang membuat saya mengikuti karier Rogerio Ceni,” tambahnya.

“Dan bahkan hingga sekarang, saya masih menyaksikan aksinya dalam video di YouTube dan terus terinspirasi hingga hari ini,” tandasnya.

Ceni sendiri merupakan salah satu kiper legendaris yang telah menciptakan lebih dari 100 gol sepanjang kariernnya. Kebanyakan golnya jelas tercipta melalui eksekusi bola mati. Macam sedang main PES saja, kalau sudah menang banyak, pasti kiper disuruh menendang. Mungkin begitu dia dulu.

https://twitter.com/Sporf/status/1084414882987081728

Main photo: en.as.com

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here