What a game!“. Itulah kalimat yang sering diucapkan dan diketik penggemar bola di media sosialnya saat pertandingan Belgia melawan Jepang berakhir dengan skor 3-2. Dari sekian banyak laga, tampaknya tak ada yang sedramatis ini. Jepang sudah unggul 2-0, tapi dibalikkan jadi 2-3 oleh Belgia.

Bagaimana tidak dramatis dan epic berat. Babak pertama pertandingan berjalan dalam tempo lambat, selambat driver GO-JEK cari alamat. Namun saat mau ditinggal tidur tapi peluang juga lumayan berdatangan.

Mata sudah mengantuk, sudah terpejam, tapi tiba-tiba ada tendangan lumayan berbahaya dari pemain Jepang tapi hanya menyamping gawang kiper Belgia. Belgia juga sesekali melakukan tendangan lewat Eden Hazard tapi bisa ditepis kiper Jepang yang bukan dikawal Wakabayashi.

Baru lah di babak kedua, pertandingan menyala-nyala dengan terang. Kedua tim main ngegas, mungkin disuruh sama panitia biar penonton enggak pada pulang lebih awal.

Baru berjalan beberapa menit, tendangan Hazard mengenai tiang agama. Padahal tendangannya begitu keras, tetapi tak berhasil menggoyahkan keyakinan para pemain Jepang.

Justru “Blue Samurai” yang bisa mencetak gol duluan lewat sebuah serangan balik yang bikin pertahanan Belgia sampai terbalik-balik. Berawal dari kesalahan pemain Belgia di depan kotak penalti Jepang, lalu Gaku Shibasaki memberikan umpan membelah lautan ditujukan kepada Genki Haraguchi.

Bola sempat mau dipotong oleh Jan Vertonghen tanpa memakai pisau dapur. Tapi bola malah jadi pelan dan memudahkan Haraguchi untuk mengejarnya. Setelah menguasai bola, dia sempat menggocek sedikit Vertonghen sebelum melepaskan tendangan tanpa alasan yang tak bisa ditolak Thibaut Courtois.

Unggul 1-0 sedikit membuat Jepang nyaman. Maunya kayak Rusia bisa mengalahkan Spanyol dengan bertahan total. Belgia mencoba balik menyerang tapi defense Jepang lumayan kuat. Tak semudah artis-artis JAV “ditembus” oleh lawan mainnya.

Tim “Nippon” tanpa Paint malah berhasil memasukkan satu bola lagi ke gawang Courtois. Berawal dari penguasaan bola Shinji Kagawa di depan kotak penalti. Bola lalu dioper ke Takashi Inui yang namanya mirip pedangdut terkenal.

Inui rada berpikir sejenak, barang seperempat detik. Mau ditendang apa dioper lagi. Akhirnya dia memutuskan untuk menendang dari jauh siapa tahu bisa kayak golnya Luka Modric ke gawang Argentina.

Ternyata hasil coba-coba Inui membuahkan hasil. Courtois yang di lapangan saja tak menyangka bisa gol. Apalagi penonton di luar lapangan, bahkan yang ada di Indonesia.

Skor 2-0 bikin Jepang makin nyaman macam pundak mantan. Mereka cukup bertahan saja untuk mempertahankan keunggulan. Rasanya di momen Piala Dunia kali ini berat banget bisa membalikkan dua gol macam itu. Faktanya memang tak ada yang berhasil melakukannya.

Namun yang namanya takdir sudah tak bisa dilawan. Tuhan sudah menuliskan nama “Belgia” di perempat final Piala Dunia 2018. Walau Jepang sudah jatuh bangun berjuang sekuat tenaga, tetap tak bisa melawan kekuatan Tuhan.

Pelatih Roberto Martinez langsung memasukkan dua pemain sekaligus pada menit ke-65. Yakni Marouane Fellaini dan Nacer Chadli. Ternyata hal itu berdampak signifikan.

Walau sempat buntu karena pemain Jepang bertahan begitu habis-habisan, akhirnya jebol juga. Pada menit ke-69, Vertonghen memperkecil ketinggalan lewat gol sundulan ubun-ubun enggak sengaja. Berawal dari ke-ribet-an di depan gawang Jepang, bola melambung tinggi ditendang Takashi Inui yang kurang berhati-hati, maksud hati mau clearance. 

Memang bola terbuang jauh ke atas, tapi jatuhnya masih di kotak penalti juga. Akhirnya disundul oleh Vertonghen yang maksudnya seperti mau mengumpan, tapi malah berbuah gol. Dia sendiri juga tak menyangka dengan gol tersebut. Kayaknya sih begitu.

The Red Devils” lalu menyamakan kedudukan lima menit kemudian lewat sundulan kepala Fellaini. Berawal dari umpan silang tanpa teka-teki Hazard, langsung disambut oleh Fellaini yang badannya tinggi. Rada curang sebetulnya, karena Fellaini tinggi sendiri. Sedangkan pemain Jepang kecil-kecil macam botol You-C 1000.

Skor 2-2 bikin Jepang mau coba bangkit. Pertandingan jadi lebih seru karena keduanya jadi lebih terbuka. Keduanya sama-sama menyerang.

Jepang pun tampak penasaran, mereka sepertinya bisa mencetak gol lagi karena pertahanan Belgia enggak rapat-rapat amat. Tapi mereka lupa kalau Belgia masih punya kiper sekelas Courtois.

Ada beberapa peluang yang mampu dimentahkan Courtois. Termasuk tendangan bebas terakhir Keisuke Honda pada menit ke-93.

Jepang lalu dapat tendangan sudut, di mana suporternya sampai warga-warganya di Jepang sana bisa berharap terjadi gol untung-untungan yang berbuah kemenangan. Maklum, namanya juga menit terakhir.

Tapi ternyata itu hanya ilusi semata. Justru tendangan sudut tersebut malah merugikan Jepang. Bola dengan mudah ditangkap Courtois lalu segera setting mode serangan balik yang sangat cepat. Jepang kurang berhati-hati dalam hal ini.

De Bruyne yang memakai baju warna merah macam petugas Damkar langsung lari cepat banget. Dia lalu kasih bola ke Thomas Meunier yang kemudian diumpan lagi ke Romelu Lukaku.

Lukaku cukup cermat melihat situasi. Tahu bahwa dirinya dijaga, dia tidak ambil itu bola. Dibiarkannya ke Chadli yang sedang berlari dan terjadilah gol yang tak diinginkan publik Jepang.

Warga Belgia bersorak kegirangan, tahu bahwa pertandingan sudah mereka menangkan karena itu sudah detik-detik terakhir. Sementara warga Jepang tertunduk lesu, tak percaya apa yang sedang terjadi.

https://twitter.com/filmbless/status/1013917009241731072

Belgia pun memenangkan pertandingan ini dengan susah payah, dengan mode drama. Bahkan jauh lebih dramatis dari drama-drama Korea dan lebih sadis dari film-film JAV Jepang.

Meski begitu, Martinez tidak terkejut dengan perlawanan yang diperlihatkan Jepang. Dia tidak terkejut apalagi sampai teriak “Ayam..ayam” lantaran Belgia harus susah payah untuk meraih kemenangan.

“Ya, itulah yang terjadi di Piala Dunia. Anda harus mengucapkan selamat untuk Jepang, mereka menampilkan permainan yang sempurna. Mereka sangat solid, membuat kami frustrasi, dan jeli saat serangan balik,” kata Martinez dikutip dari Guardian, yang dikutip lagi dari CNN Indonesia. 

Sebaliknya, publik sedunia perlu angkat topi dengan perjuangan Jepang yang tak kenal menyerah. Mereka menunjukkan sebuah display yang oke banget. Bahkan layak lolos ke perempat final pertama kalinya dalam sejarah.

Pelatih Akira Nishino meminta maaf atas kegagalan mereka. Dia mengakui kesalahannya karena tak bereaksi apa-apa saat Belgia mengubah permainan ketika tertinggal dua gol.

“Saya hancur. Ya, kami memimpin tetapi tidak bisa menang. Itu mungkin perbedaan yang sangat kecil, tapi saya merasa tidak ada apa-apa di dalamnya. Mungkin itu keputusan saya sebagai pelatih untuk menetapkan taktik. Kami tidak bisa bersaing dengan Belgia, yang meningkatkan permainan mereka,” ucap Nishino, dikutip Liputan6. 

Tidak apa-apa, Jepang! Biar kata Belgia yang menang, tapi Jepang lah yang memenangkan hati kami para pecinta bola.

Penonton juga senang dengan pertandingan ini. Tak ada kartu, tak banyak pelanggaran, tak ada penalti, tak ada VAR, tapi gol banyak tercipta. Pokoknya seru banget. Layak dijadikan best match di Piala Dunia kali ini. Terima kasih, Belgia dan Jepang!

https://twitter.com/hitzdotmy/status/1013932339410243584

Main photo: @MSN475

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here