Satu per satu jagoan Piala Dunia mulai pulang. Satu per satu pahlawan dengan penuh jasa bertumbangan. Tim jagoan yang harus tereliminasi berikutnya adalah Brasil tanpa melalui voting SMS. Mereka takluk 1-2 dari Belgia.

Brasil sebetulnya tampil ngotot pada laga ini mumpung tidak ada Jerman lagi. Namun, Neymar dan kawan-kawan perlu belajar geografi lagi karena warna bendera Jerman ternyata sama dengan Belgia. Cuma beda garis saja.

Mungkin ketika sadar, para pemain Brasil ini langsung bergetar macam HP miscall dari pacar. Seketika melihat ada miscall sampai 10x langsung panik. Buktinya, Belgia langsung unggul 2-0 lebih dulu dan cuma berbalas satu.

Tendangan sudut yang dilakukan oleh Eden Hazard tak disangka dapat dibikin gol oleh Fernandinho. Padahal mereka beda tim, pada level klub mereka juga beda tim. Yang satu Chelsea, satunya lagi Manchester City.

Sebetulnya gol bunuh diri tersebut akibat pada berebutan macam harta warisan engkong. Dua pemain Brasil, Gabriel Jesus dan Fernandinho melompat untuk mendapatkan bola harta warisan.

Memang akhirnya Fernandinho lah yang mendapatkan bola, bahkan pakai tangannya. Tak diduga bola masuk ke gawangnya sendiri. Jadi si Fernandinho ini dosanya double. Sudah bunuh diri, pakai tangan pula. Untung saja wasit tak memutuskan penalti. Kalau penalti, dosanya hattrick. Sudah gol, handball, penalti pula.

Brasil lalu melanjutkan permainan. Pasalnya kalau berhenti pada menit segitu mereka dipastikan akan kalah WO 0-3. Makanya mereka terus bermain sampai waktunya habis.

Sayangnya, kiper Thibaut Courtois yang hidungnya macam perosotan Monas tampil gemilang. Hidungnya memang hanya dia gunakan untuk bernapas, bukan menepis bola. Tapi tetap saja jago.

Tercatat ada tiga peluang lumayan mantap dari Brasil yang dimentahkannya. Seperti peluang Neymar yang tendangannya deflect Thomas Meunier tapi bisa ditepis Courtois di tiang dekat. Lalu tendangan keras Phillipe Coutinho dari luar kotak penalti yang bisa ditepisnya pakai jurus tiger sprong macam ujian Penjaskes.

Lagi asyik-asyiknya menyerang, Brasil lupa punya pertahanan. Mungkin saking terlalu banyaknya pertandingan mereka tidak kebobolan. Dari laga kedua sampai 16 besar Brasil memang selalu clean sheet. 

Tuhan lalu mengingatkan mereka agar tidak lupa menjurus sombong. Lewat sebuah serangan balik yang lumayan cepat dan kuat, Romelu Lukaku merangsek lapangan tengah Brasil sekaligus diacak-acak.

Bola diteruskan kepada Kevin de Bruyne yang berada di sisi kanan. Tanpa gocek-gocek yang tidak ada juntrungannya, lebih baik langsung tembak saja ke gawang.

Ternyata keputusannya sangat tepat, tendangan De Bruyne melesak tajam masuk ke gawang tanpa bisa dicegah Alisson Becker yang malam itu ganteng dengan berewoknya.

https://twitter.com/TrollFootball/status/1015325805038235652

Di babak kedua, Brasil masih belum mau menyerah meski tertinggal 0-2. Mungkin kalau sudah 0-4 baru lah mereka pencet “Start” lalu ke menu “Quit”. Kalau penasaran bisa ke menu “Load” asalkan sudah disimpan sebelumnya.

Sayangnya, Courtois benar-benar lagi ganteng banget malam itu. Ditambah pertahanan Belgia yang begitu tebal seperti gulungan karpet masjid usai Jumatan.

Thomas Meunier beberapa kali sukses menggagalkan aksi kelok sembilan Neymar. Mungkin karena satu tim di PSG, jadi sudah hapal gerakannya. Habis tekuk kiri, pasti tekuk kanan. Tidak ada tekuk ke bawah sampai masuk ke bawah tanah.

Sedangkan Courtois sukses mementahkan tiga tembakan mengarah ke gawang. Dua di antaranya dari tendangan Douglas Costa yang masuk menggantikan Gabriel Jesus. Juga dari Neymar yang ikut berkontribusi menambah jumlah shot on goal Brasil biar kelihatan ada kerjaan.

Tiga pemain sudah dimasukkan sampai pertengahan babak kedua oleh pelatih Tite. Roberto Firmino, Costa, dan Renato Augusto mencoba peruntungannya siapa tahu bisa memberikan manfaat yang berfaedah.

Ternyata keputusan itu lumayan tepat. Augusto akhirnya bisa memecah kebuntuan lini serang Brasil. Lewat sebuah umpan cungkil L1+Segitiga, bola disundul pakai otak kanan Augusto dan bersarang di gawang Courtois.

Merasa bisa mencetak gol, “Selecao” rada pede bisa bikin gol lagi. Mentalnya lumayan naik seiring dengan meningkatnya tempo pertandingan. Sayangnya Belgia masih tetap terlalu kuat pertahanannya.

Bahkan sampai usaha terakhir dari Neymar lewat tendangan placing dari luar kotak penalti masih saja bisa ditepis oleh Courtois. Courtois ternyata jagonya bukan cuma di hidung, tapi juga di tangan.

Ya memang kalau sudah apek mau bagaimana lagi. Apalagi kalau sudah kena kencing kucing. Mau dicuci lima kali bahkan pakai tanah juga tetap saja bakalan bau.

Brasil akhirnya harus mengakui keunggulan Belgia. Untuk kesekian kalinya tim berkostum kuning biru macam burung beo paruh bengkok itu disingkirkan oleh tim dari Eropa.

Tite pun mengakui kekalahan ini. Meski timnya kalah, tapi pertandingan ini terasa begitu indah. Tapi ya tetap kalah. Tapi ya seenggak-enggaknya tidak seperti Jerman yang kalahnya geregetan.

“Ini adalah laga yang luar biasa. Jika Anda suka sepak bola, Anda harus lihat pertandingan tadi. Itu akan memberikan Anda kesenangan, meski bagi saya dan tim merasakan sakit,” kata Tite.

Sedangkan Roberto Martinez mengungkap kunci timnya mengalahkan Brasil. Kunci kesuksesannya sudah pasti bukan “Key of Success”, tapi keberanian Martinez yang cukup nekat mengubah taktiknya dengan memasang Marouane Fellaini dan Nacer Chadli sebagai starter.

Fisik mereka ternyata sangat membantu mengalahkan kecepatan Neymar dan kawan-kawan. Pemain Brasil benar-benar mentok menghadapi pemain-pemain Belgia yang segede Gaban Dufan.

“Saya tak mau kalah di papan taktik. Yang terpenting adalah eskekusinya. Para pemain ternyata mampu menjalankan taktik dengan mengubah gaya main kami hanya dalam dua hari,” ucap Martinez, cenderung jadi Bonek alias Bondo Nekat.

Main photo: Squawka

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here