Pertandingan Arab Saudi dan Mesir memang tak berarti apa-apa lagi buat mereka berdua. Kalau Uruguay dan Rusia masih memperebutkan juara grup. Kalau Saudi dan Mesir enggak merebutkan apa-apa, bahkan tiket ke Liga Europa sekalipun.

Pertandingan ini memang seperti formalitas saja, lumayan buat iseng-iseng main cari keringat. Meski sebenarnya tetap dilakoni dengan serius karena bukan acara kuis lawak yang dipimpin Cak Lontong.

Pertandingan ini cuma buat sekadar menyenangkan hati suporter dan rakyatnya saja. Lumayan kalau menang bisa bawa pulang oleh-oleh tiga poin, bukan sekadar gantungan kunci apalagi air zam-zam.

Saudi ternyata lebih beruntung mendapatkan rejeki itu. Meski sempat tertinggal lebih dulu 0-1, tim berkostum hijau macam lumut garasi itu akhirnya membalikkan kedudukan pada menit akhir pertandingan.

Mohamed Salah mampu membawa Mesir unggul lebih dulu lewat sebuah tendangan gantung meski tak tahu apa yang harus digantung. Setelah lolos dari jebakan offside, kecepatan lari Salah yang sudah macam putaran blender kado kawinan tak bisa dikejar pemain Saudi.

Setelah berhadapan satu lawan satu dengan kiper Yasser Al Mosailem. Al Mosailem cuma bisa melongo saja sambil menelan ludahnya sendiri, tak mungkin ludah orang lain. Bola gantung masuk dengan perlahan dan begitu nyaman bersarang di gawangnya.

https://twitter.com/M_GamalN/status/1011267310189936641

Tertinggal satu gol, Saudi mencoba bangkit dari kubur. Sayang banget sudah main di Piala Dunia gagal bikin gol sama sekali. Mending tidur saja di rumah nenek.

Beragam cara dilakukan termasuk mengincar penalti. Mereka sukses mendapatkannya usai Ahmed Fathi bermain voli. Setelah dapat protes dari warga lokal, wasit akhirnya mau melihat tayangan VAR yang bisa diulang-ulang macam kaset rusak tersebut.

Penalti pun diberikan, tapi Fahad Al-Muwallad malah menyia-nyiakannya. Tendangannya mampu ditepis kiper tua sekaligus pemain paling tua di Piala Dunia 2018, Essam El Hadary. Mungkin karena tahu dia tua, makanya Al-Muwallad tak mau kurang ajar.

Al-Muwallad mungkin enggak berani kurang ajar, tapi Salman Al-Faraj ternyata berani. Di babak kedua Saudi dikasih kesempatan lagi menendang penalti dengan baik dan benar. Sebelumnya terjadi pelanggaran akibat Ali Gabr menarik Al-Muwallad padahal tidak sedang main tarik tambang.

Al-Faraj kini memanfaatkan betul kesempatan yang diberikan. Dia tak mau mempercayakannya pada Al-Muwallad takut dibuang-buang lagi. Tendangannya kini mengecoh El Hadary yang bergerak berlawanan dari arah bola.

https://twitter.com/Identitymageg/status/1011249066431385601

Skor imbang sepertinya sudah cukup adil buat kedua tim. Keduanya dapat poin satu, sama-sama sudah bikin gol pula.

Sayangnya Tuhan berkehendak lain. Saudi lebih mendapatkan berkahnya karena mungkin lebih unggul karena menyelenggarakan ibadah haji.

Pada menit akhir, persis menit terakhir detik kesekian, Salem Al-Dawsari mencetak gol kemenangan “الصقور الخضر” -julukan Saudi. Umpan Abdullah Otayf yang sejatinya kurang mulus malah memantul ke atas, ternyata bisa ditembak oleh Al-Dawsari lewat tendangan voli kurang takraw.

Bola lalu meluncur masuk melewati El Haddary, membuat Mesir harus kalah tanpa membawa pulang poin pun. Sedangkan bagi Saudi, lumayan bawa pulang oleh-oleh untuk saudara-saudara di Mekah.

Jika biasanya pulang dari Mekah bawa oleh-oleh, justru Saudi pulang ke Mekah bawa oleh-oleh meski Mekah bukanlah satu-satunya kota di Arab Saudi sana.

“Saya pikir Mesir cuma punya dua kesempatan saja. Secara general kami menguasai pertandingan. Meski sudah tak menentukan, tapi kedua tim sama-sama ingin menang untuk menyenangkan hati fans di negara masing-masing,” ucap pelatih Arab yang tak ada keturunan Arab, Juan Antonio Pizzi.

Main photo: @DaveOCKOP

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here