Beberapa dari kita pasti pernah dengar yang namanya istilah “Rabona”. Tentu saja bukan jenis ikat rambut, melainkan jenis tendangan ber-skill tinggi yang biasa diperlihatkan pemain-pemain kelas dunia.

Tendangan ini butuh teknik spesial. Butuh atletisme, skill, kekuatan kaki, serta situasi yang mendukung. Kalau tak terampil, bisa keserimpet jatuh dibuatnya dan ditertawakan warga sekitar salah satunya bapak-bapak pakai sarung yang lagi main burung. Belum lagi kalau keseleo, bisa-bisa dibawa ke tukang urut Cimande atau Haji Naim.

Teknik ini menendang dengan cara kaki yang hendak menendang disilangkan ke belakang kaki satunya. Terlihat gampang, tapi melakukannya tak semudah memasak Indomie rasa daun bawang.

Hasil gambar untuk rabona
Awas keserimpet! (Source: Youtube Freekickerz)

Rabona kerap dipakai bukan hanya untuk pamer skill untuk mengundang tepuk tangan penonton serta decak kagum ditambah geleng-geleng kepala. Tapi juga memberikan umpan magis yang bolanya bisa berbelok ke arah yang diinginkan.

Misalnya ketika dalam posisi sempit dan tak mudah menendang memakai kaki kiri, maka Rabona bisa dipakai untuk tetap menendang menggunakan pakai kaki kanan sehingga bola bisa mengarah ke arah yang diinginkan.

Banyak pemain yang jago menggunakan teknik Rabona. Salah duanya Cristiano Ronaldo dan Erik Lamela. Ronaldo sering pakai Rabona saat masih kuliah di Manchester United (MU) dulu. Sedangkan Lamela pernah bikin gol dari Rabona saat melawan Asteras Tripolis di Liga Europa 2014/15.

Masih banyak pemain lainnya yang hobi pakai Rabona, bisa dilihat sendiri di Youtube dengan kata kunci “Rabona”, hasilnya bakal berjubel memenuhi hasil pencarian Anda. Tapi pernahkah Anda tahu siapa Rabona dan kapan pertama kalinya teknik ini tercipta?

Memang sulit menelusuri siapa penemu Rabona. Rabona sendiri bukan nama orang seperti Antonin Panenka yang nama belakangnya jadi nama teknik sebuah tendangan sendok. Tapi sebuah istilah latin yang dipakai media Argentina.

Jadi begini ceritanya, teknik itu pertama kalinya dilaporkan pada 1948 dalam sebuah pertandingan Liga Utama Argentina antara Estudiantes de la Plata melawan Rosario Central. Saat itu striker Estudiantes bernama Ricardo Infante mampu mencetak gol dengan teknik tersebut dari jarak 35 meter.

Hasil gambar untuk Ricardo Infante
Satu-satunya foto saat Infante mencetak gol pakai Rabona. Tidak terlalu jelas, harap maklum. (Source: Pinterest)

Sontak, media-media saat itu langsung ramai bak lagi pilkada. Sebuah majalah sepak bola Argentina, El Grafico, kemudian menerbitkan kartun yang menggambarkan gol anti-mainstream itu dengan judul “El infante que se hizo la rabona“.

Kalau dilihat di Google Translate agak membingungkan. Tapi pada prinsipnya istilah itu berarti “bocah yang membolos sekolah”. Infante dalam bahasa Spanyol berarti bocah, sedangkan rabona diambil dari hacerse rabona yang berarti bolos sekolah.

El Grafico kemungkinan memakai judul tersebut untuk melukiskan bahwa Infante telah melakukan sesuatu yang tricky, penuh tipu daya kemaslahatan umat, layaknya seorang bocah yang bolos sekolah. Dari situlah nama Rabona jadi terkenal.

 

Seperti dikemukakan Goal, Gol Infante itu kemudian dirayakan saat golnya berusia 50 tahun pada 1998. Namun mirisnya, dia tidak mendapatkan kredit atau pujian seperti yang diharapkannya. Pada periode itu memang masih kurang publikasi, media yang meliput juga seadanya, tak seperti sekarang yang serba social media.

Hasil gambar untuk Ricardo Infante
Riccardo Infante di Wikipedia, lumayan ganteng. (Source: Wikipedia)

“Itu adalah sebuah gol yang tidak mendapatkan tanggapan yang sepantasnya. Saat itu, televisi masih jarang dan hanya sedikit media cetak yang meliput pertandingan,” ujar Infante, yang meninggal dunia pada Desember 2008 pada usia 84 tahun, enam dasawarsa setelah gol hebohnya itu.

Gara-gara minimnya publikasi, pemain Ascoli bernama Giovanni Roccotelli mendadak populer pada akhir 1970-an. Dia melakukan teknik itu dalam sebuah kesempatan melawan Modena di Seri B.

Roccotelli berulang kali menggunakan teknik Rabona dalam laga itu. Ada yang berhasil ada juga yang enggak. Tapi salah satunya berhasil menciptakan assist kepada Claudio Ambu.

Bisa dibilang, Infante-lah yang pertama kali menemukan teknik tersebut. Sedangkan Ambu yang mempopulerkannya. Ini macam lagunya “Butiran Debu”, lagu aslinya dinyanyikan oleh Rumor tapi dipopulerkan oleh Cakra Khan. Kita pun lebih kenal dengan lagu yang dinyanyikan Cakra Khan.

Hasil gambar untuk giovanni roccotelli
Giovanni Roccotelli, yang mempopulerkan Rabona. (Source: La Gazzetta dello Sport)

Source: Goal

Main photo credit: Youtube (Freekickerz)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here