Pertandingan Piala Community Shield atau Piala Supernya Inggris yang mempertemukan Arsenal dengan Chelsea mengukir sejarah baru. Bukan karena Arsenal yang jadi juara, tapi karena terdapat pemandangan unik di babak adu penalti.

Apa yang baru? Tentu bukan sepatu yang dipakai para pemain. Tetapi sistem adu penalti ABBA yang baru diperkenalkan Maret lalu, kini resmi dipakai di Inggris pertama kalinya.

Kebetulan, Piala Community Shield yang mengukirkannya pertama kali karena pertandingannya sampai ke babak penalti. Andai pertandingannya tidak seri 1-1, mungkin Community Shield tak akan jadi sejarahnya. Kasihan juga.

Mungkin saja Arsenal dan Chelsea kongkalikong biar pertandingannya seri sampai adu penalti. Jadi nama kedua klub tersebut bakal terpampang di buku rekor. Tapi sepertinya tidak begitu.

Lantas apa maksudnya ABBA? Tentu bukan grup musik terkenal asal Swedia, grup musik favoritnya orang tua kita yang dikenal dengan senandung berjudul “Dancing Queen” dan “The Winner Take It All“.

ABBA yang dimaksud adalah sistem urutan penendang. Jika sebelumnya format yang dipakai adalah ABAB, kini menjadi ABBA.

Sebagai contoh, urutan penendang penalti lumrah biasanya dilakukan bergantian. Chelsea-Arsenal-Chelsea-Arsenal-Chelsea-Arsenal. Dengan aturan baru, jadinya Chelsea-Arsenal-Arsenal-Chelsea-Chelsea-Arsenal-Arsenal-Chelsea-Chelsea, dan seterusnya sampai bego.

Makanya, disebut sebagai ABBA. Atau bisa juga BAAB, asal jangan BAB. Bisa juga CAAC, ZRRZ, FGGF, KQQK, POOP, dan lainnya. Tapi umumnya dinamakan ABBA biar gampang dan istilahnya disamakan di seluruh dunia, jadi tidak bingung.

Tentu saja hal tersebut terkesan aneh bagi para warga dunia. Habis Arsenal menendang, lho kok Arsenal lagi. Begitu pikirnya.

Pertanyaannya, mengapa peraturan ini harus diubah? Jawabannya tentu ada banyak di Google. Tapi jika merangkum apa kata Google, pola ABAB dianggap menguntungkan penendang pertama yakni si A. Tentu saja penentuan penendang pertama dilakukan dengan pengundian koin.

Mengapa menguntungkan? Karena penendang kedua atau si B jadi posisinya harus mengejar skor terus. Kecuali kalau penendang pertama si A gagal.

Selain itu, penendang kedua juga merasakan tekanan lebih besar. Pasalnya, baik penendang A masuk atau tidak, pasti beban mereka lebih besar. Apalagi kalau si A bisa masuk. Tentunya si B tak boleh gagal sebagai penendang kedua karena nanti bisa makin tertinggal jauh skornya.

“Hipotesisnya adalah sang pemain yang mengambll tendangan kedua berada di bawah tekanan mental yang lebih besar,” demikian pernyataan resmi UEFA, dikutip Goal.

#14

 

Hal itu juga bukan cuma sekadar kira-kira saja. Tapi sudah melalui riset valid tidak asal-asalan macam mahasiswa tingkat pertama.

Sebuah tim mempunyai persentase kemenangan mencapai 60 persen apabila memperoleh giliran sebagai penendang pertama. Penelitian itu diungkapkan oleh London School of Economics and Political Science.

Guna menyetarakan peluang kedua kubu sekaligus membuat penalti-penaltian berjalan lebih adil dan ikhlas, maka UEFA mencetuskan format baru adu penalti.

UEFA membuat terobosan dengan memperkenalkan aturan baru yang menyerupai sistem tie-break di cabang tenis. Sistem ini akhirnya resmi dipakai pada dua kompetisi Piala Eropa U-17 putra dan putri.

Timnas perempuan Jerman U-17 jadi tim pertama yang memenangkan babak adu penalti dengan format baru. Mereka mengalahkan Norwegia U-17 di babak semifinal. Kemudian sistem ini dipakai lagi di Piala Dunia U-20.

Bagaimana? Berminat ikutan menendang penalti dengan format ABBA? Silakan lakukan sendiri di turnamen-turnamen tarkam dekat rumah Anda.

Main photo: Goal

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here