Makan siang memang momen paling ditunggu para pekerja kantoran. Setelah mumet dengan pekerjaan di kantor dari pagi, saatnya istirahat dan memanjakan cacing-cacing di perut yang mulai ber-marching band.

Ternyata, hal yang sama juga berlaku dengan suporter sepak bola di stadion. Momen itu terjadi pada para pendukung Inter Milan saat timnya dikalahkan Sassuolo 1-2 di kontrakannya sendiri.

Sekelompok pendukung Inter yang biasa dipanggil “Interisti” itu membentangkan sebuah spanduk bertuliskan, “Kami akan pergi makan siang, kalian tidak layak didukung.” Parahnya lagi, mereka benar-benar pergi saat pertandingan baru berjalan 20 menitan. Sungguh perih.

Memang tidak diketahui apakah mereka benar-benar pergi makan siang atau bagaimana. Yang jelas, spanduk itu merupakan bentuk sindiran keras kepada para pemain “I Nerazzurri” karena kalah terus-terusan. Mungkin sudah jadi hobi.

Pada menit 20-an memang pertandingan masih berjalan 0-0. Namun, suporter Inter sepertinya sudah feeling timnya bakal kalah lagi. Para suporter Inter itu bosan melihat timnya kalah. Makanya sebelum kalah, lebih baik mereka makan siang di warteg atau kantin sebelah.

Ada beragam pilihan menu makan siang. Mulai dari warteg, aneka soto, masakan padang, masakan sunda, kantin kantor, atau aneka pasta yang jadi ciri khasnya Italia.

Ternyata feeling mereka benar, tak kalah dengan ramalannya Mbah Mijan atau Ki Kusumo. Inter pun keok lagi 1-2 dari Sassuolo. Sudah tidak mengerti harus bagaimana lagi. Padahal dikasih waktu 90 menit, kesempatannya banyak, tapi memang sepertinya ogah menang.

Bingung Inter mesti diapain lagi.

Pelatih sementara Inter, Stefano Vecchi, memaklumi aksi boikot tersebut. Biasanya fans mengorbankan rasa laparnya demi menonton tim kesayangan bertanding. Bahkan mengorbankan cewek dan istrinya sendiri. Tapi sebaliknya, mereka lebih mengutamakan cacing-cacing di perutnya.

“Kami tahu situasinya seperti ini. Para suporter punya alasan karena mereka tidak mengenali Inter yang berada di posisi delapan. Tim ini memang tak boleh berada di posisi delapan, jadi mereka berhak melakukan protes,” kata Vecchi dikutip detik.

Bukan hanya terpuruk di peringkat kedelapan, tetapi Inter juga tak punya kesempatan untuk bermain di kompetisi Eropa. Kalau kompetisi Piala Intertoto atau Piala Winners masih ada, belum tentu juga mereka bisa masuk.

Main photo credit: OlingGO

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here