Legenda Belanda, Marco van Basten, belakangan meramaikan media massa dengan ide anti-mainstream-nya. Yakni ingin menghapus sistem offside agar sepak bola lebih jujur, dinamis, dan menghibur.

BACA INI JUGA DONG: Van Basten Banyak Maunya, Ingin Ubah Offside, Kartu, dan Penalti

Terlepas dari pikiran van Basten yang kini bekerja di FIFA itu, ada baiknya mengenal bagaimana sejarah offside di sepak bola. Kapan tepatnya aturan offside lahir, dan siapa yang melahirkannya, di rumah sakit apa. Mari kita simak:

Asal-Usul Offside

‘Offside’ rupanya berasal dari istilah di dunia militer, tepatnya dari kalimat ‘off the strength of his side‘ yang berarti status bebas tugas alias dipecat. Prinsip tersebut digunakan dalam sepak bola pertama kali sekitar pada tahun 1800-an di Inggris. Ketika seorang pemain berada dalam posisi offside, berarti dia dibebastugaskan alias terlepas dari permainan. Dalam hal ini, yang terjadi adalah sebuah pelanggaran

Belum diketahui jelas apakah pada tahun segitu yang belum ada televisi itu sudah menggunakan istilah offside atau belum. Yang pasti, sistem offside juga diadopsi dari olahraga rugby. Konsepnya sama, melarang seorang pemain hanya diam menunggu umpan di depan gawang musuh. Atau istilah Jawa-nya adalah ngendog. 

Peraturan offside pertama kali diperkenalkan oleh sebuah klub profesional pada tahun 1985. Klub tersebut adalah Sheffield FC. Sheffield mengusulkan aturan yang melarang seorang penyerang berdiri di dekat gawang lawan. Jika penyerang tersebut menerima umpan dari temannya, maka dia berada dalam posisi offside.

Kalau penyerang tersebut menerima umpan dari musuhnya, maka dia tidak offside. Justru berpeluang mencetak gol akibat kebodohan lawannya itu.

Namun pada masa itu peraturan ini masih bias dan kurang jelas. Belum benar-benar diterapkan dalam laga resmi.

Aturan ‘Tiga Pemain Belakang’

Ada banyak perbedaan pendapat tentang aturan offside hingga akhirnya Universitas Cambridge coba-coba menyatukan berbagai versi dalam sebuah rumusan peraturan baku. Aturan baku ini pun diterima dan menjadi kitab sucinya pada masa itu.

Entah siapa akademisi yang pertama kali mengusulkan ide itu, yang jelas bukan dari Indonesia karena saat itu belum merdeka.

Aturannya cukup unik dan dikenal sebagai peraturan “tiga pemain belakang”. Dalam peraturan ini seorang penyerang sudah dinyatakan offside meskipun di depannya masih ada tiga pemain belakang lawan, termasuk kiper. Bisa dibayangkan, betapa seringnya terjadi offside saat peraturan ini diterapkan.

Baru selangkah sudah offside. Tangan maju sedikit offside. Bahkan gigi maju pun juga bisa dihitung offside.

Aturan ‘Dua Pemain Belakang’

Ketika FIFA mulai didirikan pada tahun 1904, seluruh peraturan sepakbola termasuk offside mulai dipikirkan secara serius. Asosiasi sepakbola Skotlandia mengusulkan untuk mengganti aturan “tiga pemain belakang” dengan hanya dua pemain belakang.

Konsepnya sama, hanya bedanya kena offside kalau ada dua pemain belakang yang berdiri di antara dia dan gawang musuh. Biasanya, satu bek dan satu kiper.

Perubahan peraturan ini diberlakukan sejak tahun 1925, dan menghasilkan permainan yang lebih atraktif. Karena peluang terjadinya offside semakin kecil, maka gol yang tercipta pun menjadi lebih banyak dan menghibur para penonton yang asyik tepuk tangan itu.

Akibat perubahan offside, pola dan gaya permainan pun berubah. Setiap pelatih terpaksa berputar otak sampai dengkulnya untuk mengalahkan si raja terakhir bernama offside. Itulah kenapa, dulu sering banget tim pakai taktik 2-3-5 dengan menempatkan dua bek saja, salah satunya jadi sweeper atau libero.

Aturan ‘Satu Pemain Belakang’

Pada tahun 1990, peraturan offside kembali direvisi dan diterapkan di Piala Dunia 1990 di Italia. Seorang penyerang dikatakan dalam posisi offside, jika pada saat menerima umpan hanya tinggal satu pemain belakang lawan di depannya. Dalam situasi normal, pemain belakang itu adalah kiper.

Namun, tidak mesti harus kiper. Jika pemain berhadapan dengan pemain yang berstatus bek, tetap dihitung offside karena aturannya adalah satu pemain. Inilah yang suka salah kaprah dari para pecinta bola yang rada sok tahu.

Seperti yang terjadi pada golnya Carlos Vela di Piala Dunia 2010. Vela hampir saja mencatatkan diri sebagai pencetak gol pertama di Piala Dunia tersebut jika wasit lalai melihatnya. Untungnya, wasit cukup jeli sehingga tak terkecoh dengan pemain Afrika Selatan yang ada di gawang. Meksiko pun gagal unggul.


Aturan ‘Tidak Terlibat Aktif dalam Permainan’

Pada 2003, FIFA membuat pasal tambahan tentang offside yang lebih lunak, enak, kenyal, dan empuk-empuk. Ketika seorang berada di posisi offside belum tentu dinyatakan offside apabila tidak terlibat aktif dalam permainan.

Gampangnya, dari isyarat tubuhnya tidak berusaha mengejar bola yang diarahkan kepadanya. Tapi gara-gara ini, muncul lagi perdebatan yang terjadi akibat kesalahan persepsi antara wasit dan pemain.

Menurut wasit si pemain itu aktif, tapi menurut si pemain tidak aktif. Mana yang benar? Hanya Tuhan yang paling tahu. Percayalah pada Tuhan. *Tamat

Main photo credit:

Sumber: Sepaxbola.info

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here