Segenap fans Manchester United (MU) misuh-misuh setelah timnya dibobol oleh CSKA Moskow yang dianggap kontroversial. Begitu juga warga MU yang ada di lapangan, melakukan protes kepada wasit. Namun, ternyata gol itu sah. Mengapa?

Menarik untuk dilihat bagaimana pertandingan MU lawan CSKA yang jadi kesayangan salah satu TV swasta di Indonesia itu menimbulkan kontroversi. Ceritanya pada menit ke-45, pada penghujung babak pertama, CSKA membuat sebuah gol di mana bolanya masuk ke gawang.

Sebuah tusukan Mario Fernandes kemudian dihadang Daley Blind yang datang meluncur dengan sledingan kobranya. Maksud hati Blind memblokir Fernandes yang hendak memberikan umpan.

Apes, sledingan Blind cuma lewat kayak Commuter Line melewati Stasiun Gambir, cuma dadah-dadah saja. Bola tidak mampu diblok sehingga sampailah di kaki Vitinho yang cukup panjang itu. Hanya dengan sekali sentuhan bola mengarah ke gawang dan gol.

Namun, segenap warga MU lalu mengangkat tangannya tanda offside, semacam ingin menjawab pertanyaan dari Pak Guru. Pasalnya, bola tendangan Vitinho mengenai punggung Alan Dzagoev.

Dzagoev juga dalam posisi tak sengaja. Dia sudah berusaha sekuat tenaga untuk mengelak. Gerakannya malah seperti waria dipukuli Satpol PP. Ngondek-ngondek gimana gitu.

Apa daya, bola tetap ngotot mengenai punggungnya dan gol. Tanpa ada Dzagoev pun bola tetap akan mengarah ke gawang. Tapi berhubung mengenai punggungnya, gol tersebut bisa dianggap offside karena pergerakan Dzagoev bisa dianggap aktif.

Namun, wasit Gianluca Rocchi tak menggubris protes dari warga sekitar itu. Setelah dilihat dalam tayangan kamera, ternyata ada Blind yang masih terjatuh usai melakukan sledingan kobra. Posisi Blind tidak ada di lapangan, melainkan di luar lapangan, di belakang garis gawang.

Pelatih CSKA, Viktor Goncharenko, juga sempat ragu-ragu mau merayakan gol anak buahnya itu. Daripada tengsin, mending tunggu aba-aba dari wasit. Setelah wasit memastikan itu sah, barulah Goncharenko mengangkat kedua tangannya tanda gembira.

Lucunya, UEFA tetap mencatat nama Vitinho sebagai pencetak gol sah. Entah gimana, padahal seharusnya Dzagoev yang berhak atas gol itu. Tapi ya sudah, suka-suka mereka.

Wasit ternyata menganggap posisi Blind itu aktif meski berada di luar lapangan. Sehingga sistem Offside yang tadinya di-setting “ON” otomatis jadi “OFF”. Offside jadi tak berlaku, sehingga istilahnya berubah jadi “Onside”.

Berdasarkan aturan dari FIFA, pemain bertahan yang keluar lapangan permainan untuk alasan apa pun, tanpa seizin wasit, akan dianggap berdiri di garis gawangnya sendiri. Jadi kesimpulannya, kalau mau sleding di pinggir lapangan sebaiknya izin wasit terlebih dahulu.

Soalnya kalau dapat kejadian serupa, gol tersebut jadi dianulir karena si pemain sudah izin mau keluar. Jangankan di lapangan, kalau di kelas kita mau ke WC saja juga wajib izin guru terlebih dahulu kan? Begitulah kira-kira.

Menurut Juan Mata, peraturan itu dibilang masih baru. Dia lalu mengingatkan rekan-rekannya agar jangan sampai terulang macam itu. Untung saja, MU masih bisa menang 2-1 lewat gol Romelu Lukaku dan Marcus Rashford.

“Itu sebuah peraturan baru. Kami sudah bertanya ke wasit karena kami melihat Daley di luar lapangan dan kami harus berhati-hati dengan hal serupa karena gol semacam itu kini berlaku,” kata Mata meski ngomongnya lewat mulut, dikutip Detik. 

Sebenarnya, hal serupa pernah dialami Italia kala bersua Belanda di Piala Eropa 2008. Tendangan bebas Rafael van der Vaart mampu dihalau Gianluigi Buffon yang saat itu masih agak muda.

Ketika menghalau, Buffon berbenturan dengan Christian Panucci. Panucci lalu ambruk di luar lapangan alias di belakang garis gawang sambil memegang kepalanya.

Namun bola jatuh di kaki pemain Belanda, permainan terus aktif, sebuah tendangan dari Giovanni van Bronckhorst lalu dicolek oleh Ruud van Nistelrooy yang berada persis di depan gawang Buffon.

Jika dilihat, posisi Van Nistelrooy jelas offside karena garis pertahanan Italia sudah maju ke depan. Tapi hakim garis tak mengangkat bendera. Wasit tengah juga menunjuk titik tengah tanda gol.

Para pemain Belanda juga agak-agak tak percaya dengan gol tersebut. Ketika selebrasi mata dan kepala mereka masih menoleh ke wasit, kira-kira gol atau tidak. Bisa malu kalau sudah selebrasi tapi dianulir kayak kasusnya Gonzalo Higuain di final Piala Dunia 2014.

Ternyata tidak. Gol tetap sah, para pemain Italia protes tapi tak digubris. Persis sama dengan kejadian MU barusan, malah cenderung lebih beralasan karena Panucci posisinya sedang mengalami cedera.

 

 

Tapi ya begitulah aturannya. Meski pemain berada di luar lapangan mengalami cedera, kalau tak ada izin wasit maka tetap dianggap aktif.

Situasi wasit juga sulit kalau ingin memberhentikan pertandingan karena saat itu momennya masih krusial di kotak pertahanan Italia. Tidak bisa sembarangan menghentikan pertandingan, bisa diprotes warga se-Belanda.

Jadi, sebenarnya peraturan itu tak bisa dibilang baru karena situasi serupa pernah kejadian sembilan tahun lalu. Entah apakah aturan offside yang ada dalam regulasi FIFA mengalami modifikasi atau tidak.

Yang jelas, kedua pertandingan itu mengingatkan kita kalau mau keluar lapangan jangan lupa izin wasit terlebih dahulu. Begitu juga kalau mau keluar rumah atau keluar kelas. Izinlah pada otoritas setempat yang berlaku.

Main photo: Goal

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here