Oleh: Paundra Jhalugilang

Euforia Prancis menjadi juara dunia bakal sampai seminggu ke depan. Kalau sampai dua bulan lagi kayaknya enggak mungkin, karena kompetisi liga Eropa sudah dimulai. Kecuali ada yang bermain di Liga 1 Indonesia, sudah lama mulainya, lama kelarnya.

Meski tampil standar-standar saja, “Les Bleus” berhasil konsisten dengan ke-standar-annya untuk sampai final dan jadi juara. Namun, justru ke-standar-annya itu yang biasanya bisa jadi juara Piala Dunia.

Di babak grup, Prancis sebenarnya biasa banget mainnya. Tak ada yang spesial. Mereka cuma menang 2-1 atas Australia dengan bantuan gol penalti dan gol bunuh diri. Kemudian lawan Peru menangnya setipis kumis Iis Dahlia, cuma menang 1-0 saja.

Lawan Denmark malah jadi game paling garing selama Piala Dunia 2018. Garingnya jauh lebih garing dari jokes-jokes-nya Bolatory. Enggak ada gol sama sekali, mending baca Line Today saja jauh lebih menarik dan epik. 

Prancis baru mulai nge-gas saat lawan Argentina. Mungkin itulah salah satu penampilan terbaiknya sepanjang Piala Dunia 2018. Tapi itu juga kebobolan tiga gol.

Lawan Uruguay juga enggak bagus-bagus amat. Dapat gol dari bola mati, satu lagi gara-gara blunder Fernando Muslera. Begitu juga saat lawan Belgia, bikin gol kemenangan lewat sundulan Samuel Umtiti dari tendangan sudut.

Tim Ayam Jago tapi bukan dari timur itu bikin gol banyak lagi saat di final. Menang cukup meyakinkan, tapi sejatinya mereka memiliki penguasaan bola makin buruk sepanjang keikutsertaan mereka di Piala Dunia 2018. Yakni cuma 39%, kalah sama diskon SEA World pada Hari Anak Nasional.

Apapun itu, intinya Prancis juara. Tulisan ini bukan untuk mengkritisi mereka yang mainnya biasa-biasa saja, tapi bisa juara. Bukan. Justru tulisan ini semakin membuktikan bahwa yang biasanya juara Piala Dunia dalam beberapa edisi terakhir, memang tim yang biasa-biasa saja, jarang nge-gas dari awal.

Dimulai dari Italia pada 2006. Fabio Cannavaro dan kawan-kawan hanya menang standar 2-0 atas Ghana di laga pembuka. Lalu seri 1-1 dengan Amerika Serikat lewat gol bunuh diri kocak Christian Zaccardo. Kemudian ditutup dengan menang standar lagi 2-0 atas Ceko.

Di fase gugur, mereka menang 1-0 lewat penalti ujung tanduk atas Australia. Kemudian kurva performa mereka mulai naik di babak perempat final dengan mengalahkan Ukraina 3-0 dan Jerman 2-0. Sampai akhirnya juara di final lewat adu penalti.

Publik tak ada yang menduga-duga bahwa mereka yang bakal juara. Soalnya saat itu ada Jerman yang jadi tuan rumah, mainnya mengesankan banget. Lalu ada juga Argentina yang menangnya sampai 6-0 lawan Serbia & Montenegro.

Spanyol lebih cemen lagi. Pada laga pertama mereka di Piala Dunia 2010 takluk 0-1 dari Swiss. Kemudian menang standar 2-0 lawan Honduras dan menang lagi 2-1 atas Chile.

Di fase gugur, Spanyol menang seadanya, benar-benar sederhana cuma nasi sama telur dan kecap doang. Meeka cuma menang 1-0 saja terus sampai final. Bahkan di final juga cuma menang 1-0 atas Belanda. Total mereka hanya bikin delapan gol saja sepanjang Piala Dunia, tapi bisa juara.

Jerman pada 2014 sempat ngegas di awal saat menghajar Portugal 4-0. Namun kurva performa mereka menurun saat seri lawan Ghana. Lalu berturut-turut menang tipis lawan AS di laga terakhir grup, menang 2-1 atas Aljazair sampai ke babak tambahan, menang tipis lagi 1-0 lawan Prancis di perempat final.

Sebelum akhirnya mereka bisa menang gede banget sampai 7-1 di semifinal. Skor yang tak pernah dilupakan rakyat Brasil, apalagi main di rumah sendiri. Ciyan.

Tapi sebenarnya saat Jerman main di final, cenderung biasa saja. Malah Argentina yang lebih banyak membuat peluang berbahaya. Namun, yang juara siapa? Jerman.

Salah satu kunci jadi juara dunia memang adalah konsistensi. Banyak tim yang main bagus banget sepanjang penyisihan grup, tapi memble di fase gugur. Grafik mereka malah menurun seperti yang pernah terjadi pada Spanyol 2006.

Main keren banget di penyisihan, bantai Ukraina 4-0, Tunisia 3-1, dan Arab Saudi 1-0. Tapi langkah mereka malah kalah bagus dari Ukraina yang bisa sampai perempat final. Kalau dilihat dari skornya saja, sudah kelihatan menurun tiap laga.

Contoh lain adalah Jerman di 2010. Mereka ngegas dengan bantai Australia 4-0 di awal. Lalu keok 0-1 dari Serbia dan menang tipis 1-0 atas Ghana. Kemudian ngegas lagi dengan menang 4-0 dan 4-1 atas Inggris dan Argentina di fase gugur. Jadinya kurang konsisten macam satpam mal. Kadang ketat suruh buka bagasi, kadang enggak buka sama sekali.

Pada 2014 ada Belanda yang main mantap banget di penyisihan. Bantai juara bertahan Spanyol 5-1, menang 3-2 lawan Australia, lalu 2-0 atas Chile. Namun performa mereka makin turun saat cuma menang 2-1 atas Meksiko lewat gol penalti akhir-akhir akibat aksi menyelamnya Arjen Robben.

Mereka kemudian cuma main seri 0-0 dengan Kosta Rika meski akhirnya bisa menang lewat penalti. Dari situ kelihatan kalau performa mereka makin menurun. Tak sebagus saat lawan Spanyol. Buktinya di semifinal mereka kalah dari Argentina.

Piala Dunia memang turnamen singkat selama sebulan, hanya ada tujuh pertandingan sampai ke final. Lebih sedikit dari tim-tim Eropa yang bisa melakoni 8 pertandingan dalam sebulan.

Namun, daya tahan lebih dibutuhkan karena mereka main hanya selang lima hari. Bahkan sampai ke final cuma jeda 3-4 hari. Tenaga mereka tak boleh banyak dikuras di fase grup. Harus pintar-pintar atur nafas, atur strategi supaya nyawa mereka langgeng sampai final. Di final barulah habis-habisan.

Sejatinya bikin banyak gol di Piala Dunia memang tidak terlalu diperlukan. Cukup menang 1-0 di tiga laga penyisihan grup, otomatis sudah lolos ke babak berikutnya. Daripada buang-buang tenaga bikin banyak gol, tapi nafasnya habis di tengah-tengah.

Memang, kadang di penyisihan grup selisih gol dibutuhkan kalau sedang menemukan situasi sulit, misalnya dapat poin sama. Tapi hal itu terjadi kalau seandainya main tak konsisten. Laga pertama menang, laga kedua kalah, atau semacamnya. Lain cerita kalau laga pertama menang, laga kedua menang juga, berapapun skornya, niscaya 80% lolos ke fase gugur.

Di fase gugur, banyak gol juga tak diperlukan. Menang 1-0 saja sudah melangkah ke babak berikutnya. Itu juga pernah dilakukan oleh Yunani pada Piala Eropa 2004. Menang tipis-tipis sampai ke final.

Grafik konsisten ditunjukkan Italia pada 2006. Dari awal sampai akhir, menangnya segitu terus, bahkan jarang kebobolan. Cuma seri sekali saja pada laga kedua. Kemudian titik balik mereka terjadi pada perempat final saat membantai Ukraina.

Grafik menanjak diperlihatkan Spanyol. Berawal dari start buruk, tapi dengan perbaikan sedikit-sedikit lama-lama naik ke bukit. Jerman sempat menurun di laga kedua, tapi tidak anjlok. Mereka pelan-pelan menang lagi meski cuma tipis, lalu digas di semifinal.

Begitu pula dengan Prancis. Kalau dilihat dari permainannya tak ada yang mengira mereka bakal langgeng sampai ke final.  Namun justru itulah mereka menunjukkan konsistensinya.

Kalau mau nekat digas di awal, boleh saja. Seperti yang terjadi pada Brasil 2002. Mereka menangnya besar-besar banget di grup, 4-0 atas China lalu 5-2 atas Kosta Rika. Namun grafik mereka tetap rata saat di babak gugur meski menangnya standar, lawan Belgia 2-0, Inggris 2-1, dan Turki 1-0. Tapi tetap menang. Asalkan ya itu tadi, bisa terus konsisten sampai akhir.

Kalau mau dicampur Portugal pada Piala Eropa 2016 kemarin, juga tak ada yang menyangka mereka bisa juara. Di penyisihan main tiga kali tapi seri semua. Mereka lolos dengan predikat peringkat ketiga terbaik. Tapi nyatanya bisa juara. Kuncinya itu tadi, konsisten. Konsisten seri di grup, tapi konsisten menang di fase gugur.

Tren Pemain Muda

Ada tren kedua yang juga diikuti oleh Prancis. Yakni usia. Ya, Prancis menjuarai Piala Dunia dengan pemain yang relatif masih muda, meski enggak muda-muda amat. Ya kira-kira setara dengan usia menikah pria di Indonesia, 25,5 tahun.

Sejak 1998, usia tim juara Piala Dunia berkisar 25-26 tahunan. Hanya Italia yang paling tua, yakni 28,2 tahun dengan Angelo Peruzzi (36) sebagai pemain tertua, dan Daniele De Rossi (22) yang termuda.

Lalu trennya makin menurun tiap Piala Dunia berikutnya. Spanyol menjuarai 2010 pada usia 25,9 tahun dengan Carles Puyol tertua (32) dan Javi Martinez serta Sergio Busquets yang termuda (20).

Jerman makin muda lagi, yakni 25,7 tahun. Dengan Miroslav Klose (36) yang tertua, dan Mathias Ginter dan Julian Draxler (20) yang termuda.

Prancis ternyata lebih muda lagi yakni hanya 25,5 tahun dengan Steve Mandanda (33) sebagai yang dituakan dan Kylian Mbappe (19) yang paling banyak cium tangan. Kalau trennya begitu, entah apa jadinya Piala Dunia 2050, bisa-bisa rata-rata usianya 18 tahunan, seumuran Iqbaal ‘Dilan’ CJR Ramadhan.

Namun, Prancis juga mesti mewaspadai tren yang satu lagi. Yakni tren juara bertahan gagal lolos dari penyisihan grup di Piala Dunia berikutnya. Semua sudah tahu kalau Italia, Spanyol, dan terakhir Jerman ini gagal lolos grup.

Prancis bisa ada kemungkinan mengalami nasib serupa. Pasalnya, tim juara tahun ini bisa jadi dipertahankan dan bakal main lagi di 2022. Usia Mbappe nanti baru 23 tahunan. Paul Pogba, Raphael Varane, dan Samuel Umtiti baru sekitar 28-29-an. Lagi matang-matangnya.

Itulah yang dialami oleh Spanyol dan Jerman. Mereka masih mempertahankan skuat juara mereka karena pemain-pemainnya masih dianggap mumpuni secara usia. Namun ternyata, gangguannya bukan pada usia, melainkan passion. 

Status juara dunia malah jadi beban buat mereka. Alhasil mainnya jadi asal-asalan cenderung malas-malasan. Mungkin sudah hilang motivasi karena sudah pernah menjuarai trofi tersebut sebelumnya.

Mampukah Prancis mempertahankan tren tersebut? Kita tunggu saja pada 2022. Tak terasa Piala Dunia sudah tinggal empat tahun lagi.

Main photo: @SiaranBolaLivee


Paundra finPaundra Jhalugilang

Penulis adalah pemuda harapan bangsa yang biasa-biasa saja. Bekas wartawan tanpa pengalaman yang melihat sepakbola dengan penuh pesona. 

4 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here