Gelandang Juventus, Claudio Marchisio, tak mau kegagalan dua tahun lalu terulang lagi di timnya. Apalagi, skuat yang sekarang lagi bagus-bagusnya. Tak seperti dua tahun lalu yang masih rada cupu.

Dua tahun lalu, Juve memang tak disangka-sangka masuk final dan bertemu Barcelona. Namun, “La Vecchia Signora” belum cukup matang ketika itu. Mungkin hanya Gianluigi Buffon, Andrea Pirlo, dan Carlos Tevez saja yang punya pengalaman main di final Champions.

Sisanya, masih polos kayak ABG tanggung nonton Fake Taxi. Meski Giorgio Chiellini, Leonardo Bonucci, Andrea Barzagli, termasuk Marchisio sudah cukup berpengalaman di dunia sepak bola, tapi mereka belum pernah merasakan atmosfer final Champions.

Apalagi jika mendengar lagu kebangsaan Liga Champions yang menggelegar dan menggugah hati itu. Bikin bulu kuduk merinding.

Tahun ini Juve masuk final lagi. Beberapa pemain sudah punya pengalaman di final. Bahkan ini final ketiga kalinya bagi Buffon. Tentu saja mereka enggak mau gagal lagi.

Masak iya, masuk final sampai sembilan kali, cuma berhasil dua kali. Ya, Juve memang jadi satu-satunya tim paling looser di final Liga Champions. Kebanyakan gagalnya.

Itulah mengapa Marchisio tak mau mengulangi kegagalan yang sudah-sudah. Musim ini harus ditutup dengan indah meski dia harus ingat bahwa hidup tak seindah drama Korea.

“Ini kedua kalinya kami punya peluang meraih trofi itu. Dalam karier pesepak bola, tak ada jaminan Anda bisa bermain di laga penting seperti ini. Kami punya kesempatan kedua dan tak boleh melewatkannya. Kami tak mau gagal lagi,” ucap pemain berwajah ganteng sejak lahir itu.

Saat ditanya peluang, Marchisio tak mau sok-sokan jadi cenayang. Jawabannya main aman, tapi cukup rasional mengingat kedua tim sama-sama berpeluang meraih gelar juara.

Semua tim yang masuk Liga Champions sudah pasti punya peluang jadi juara. Ibu-ibu komplek juga tahu hal itu. Sebuah premis yang konyol. Ada-ada saja. Hanya masalahnya, berapa persen peluang setiap timnya. Bagi Marchisio, peluang Juve di final adalah 50-50.

“Peluang di final selalu 50-50. Perbedaannya akan tergantung pada hal yang detail dan siapa yang benar-benar ingin membawa pulang trofi. Suatu insiden dan keberuntungan juga akan turut menentukan siapa yang akan berhasil meraih trofi,” kata pemain yang ternyata sudah berusia 31 tahun itu, perasaan kemarin masih bocah.

Main photo: Gianluca Di Marzio

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here