Oleh: Harry Hardian

Seminggu terakhir, layar kaca disuguhi pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2018, di Rusia. Penggemar liga pun istirahat sejenak, jadi punya waktu untuk kumpul keluarga dan jalan bareng pacar. Bagi yang jomblo, akan kembali menatap langit-langit kamar dengan mata nanar.

Tak disangka, Kalahnya Uruguay memastikan Brasil melenggang dengan nikmat menuju Rusia, jadi tim pertama lolos ke Piala Dunia. Padahal kompetisinya masih tahun depan. Sejatinya Brasil sudah berhasil mengembalikan kedigdayaan mereka di Benua Amerika bagian selatan.

Sebenarnya tidak usah melihat kekalahan Uruguay, performa yang ditunjukan Neymar dan kawan-kawan sebayanya itu memberikan hasrat lebih bahwa negeri “Jogo Bonito” ini mampu berkibar kembali.

Begitu pula dengan Inggris. Sekumpulan pemain muda Inggris duduk nyaman memuncaki puncak klasemen sementara Grup F zona Eropa. Mereka berpeluang besar lolos Piala Dunia di negeri para Tsar. Melihat performa yang ditunjukan pantas atau tidak, sudah selayaknya Inggris mengambil momentum membawa trofi ke pelukan ibu pertiwi.

Brasil dan Inggris sepertinya akan berkibar di Piala Dunia 2018. But, everything happen for reason, that’s for sure. Kalau tak tahu artinya, silakan di-copas di Google Translate.

Peluang Brasil

Kegagalan sebagai juara pada saat tuan rumah, apalagi digilir ramai-ramai dijadikan pemuas hasrat oleh para pemain Jerman, menjadi cambuk Brazil menatap Piala Dunia 2018.

Perlahan tapi pasti, Brasil sudah kembali ke jalan yang benar, mereka sudah bertaubat. Rentetan hasil positif pertandingan memberi secercah harapan bahwa Brasil akan kembali menjuarai Piala Dunia selanjutnya. Tapi, lagi-lagi ini hanya prediksi, semata-mata hanya feeling si penulis dengan melakukan analisa sotoy.

Pertama, Pergantian pelatih dari Dunga ke Tite, membawa perubahan gaya permainan sepakbola. Roh “Jogo Bonito” seperti lahir kembali, dibandingkan era kepelatihan di bawah Dunga.

Memang kendali Dunga menjadikan permainan Brasil lebih pragmatis, cenderung monoton dan tidak enak ditonton, apalagi jika nontonnya sendiri tanpa sang calon. Pada dasarnya sepakbola Brasil sudah ditakdirkan untuk bermain, menghibur, dan menang. Itu mengapa sekarang terllihat sekali efek yang ditimbulkan pada era kepelatihan Tite.

Kedua, statistik pertandingan Brasil di Kualifikasi Piala Dunia Zona CONMEBOL. Brasil total telah melakoni 14 pertandingan, dengan hasil 10 menang, tiga seri, satu kalah. Lebih mencengangkan lagi adalah produktivitas gol yang begitu tinggi.

Brasil berhasil mengoleksi 35 gol, dan hanya kemasukan 10 gol. Unggul sembilan poin dari pesaing terdekatnya. Sesuatu hal yang luar biasa, biasa keluar di luar.

Hal ini menandakan bahwa kreativitas lini depan Brasil semakin menjadi-jadi. Tentunya akan menjadi ancaman serius bagi pesaing-pesaing mereka di pentas Piala Dunia.

Ketiga, kematangan para pemain Brazil. Beban berat yang ditimpakan Neymar sebagai tulang punggung timnas Brasil di Piala Dunia 2014 menjadi bumerang.

Ekspetasi yang begitu tinggi membuat Neymar kurang maksimal dan beban dalam menggocek lawan. Namun hal ini akan sedikit berkurang, dengan hadirnya Coutinho, Lucas Moura, dan Willian menjadikan beban ditumpu tidak hanya di Neymar seorang.

Dari ketiga hal diatas Brasil memang bisa saja jadi tim jagoan untuk menjuarai Piala Dunia. Apalagi, mereka berstatus tim pertama yang lolos ke Rusia, tentunya jadi bekal mantap jiwa buat jadi juara.

Asa Inggris

Pertama dan terakhir kali Inggris menggondol Piala Dunia pada tahun 1966. Waktu itu nama pialanya masih Jules Rimet, Indonesia lagi zaman PKI, Rhoma Irama masih jadi darah muda darahnya para remaja yang suka bergadang.

Inggris saat itu juara, tapi dihelat di negara mereka sendiri. Hampir setengah abad berlalu, Inggris belum lagi memuaskan dahaga para Hooligans. Menunggu Inggris juara dunia jadi kayak menunggu MRT Lebak Bulus-Thamrin rampung, rasanya kok lama banget.

The Three Lions” paling banter cuma mencapai semifinal di Piala Dunia 1990. Padahal, Inggris bisa dibilang surganya para pesepak bola. Tapi kenapa prestasi timnasnya gitu-gitu saja?

Hal itu memang terjadi dalam 20 tahun terakhir. Tapi, tak ada salahnya Inggris bermimpi meraih gelar juara Piala Dunia 2018 besok. Sudah saatnya buat tim tiga singa itu untuk angkat trofi Piala Dunia yang baru untuk pertama kalinya.

Pertama, sekarang ini sepakbola Inggris merupakan benchmark industri sepakbola dunia. Pemain bintang berdatangan mencari rejeki di tanah britania. Melawan pemain bintang dengan skill mumpuni, menaikkan kepercayaan diri para pemuda Inggris. Secara tidak langsung akan menaikkan level individu mereka.

Hal yang perlu diingat, bahwa pemain muda butuh ruang kompetesi dan meningkatkan level pertandingan agar tidak grogi seperti saat bertemu calon mertua pertama kalinya. Di Inggris, jenjang strata kompetensi sangat jelas sehingga menghasilkan pemain muda harapan bangsa.

Sebut saja, Eric Dier, Dele Alli, Harry Kane, Raheem Sterling, dan masih banyak lainnya. Ditambah lagi, melawan pemain-pemain kelas dunia di Liga Primer, bisa jadi akan semakin matang di Piala Dunia 2018.

Kedua, pelatih top banyak berdatangan menukangi klub sepakbola Inggris. Pelatih yang memiliki banyak taktik dan strategi saling beradu di pentas Liga Inggris akan berimbas kepada pemain timnas Inggris sendiri. Kalau memanfaatkannya dengan baik, bukan tidak mungkin Gareth Southgate akan mudah meramu skema permainan sesuai taktik yang diinginkan.

Apalagi sang bos Liverpool, Juergen Kloop, gemar mempromosikan pemain muda Inggris. Kita tahu Jose Mourinho punya seribu taktik di otaknya. Dan yang lainnya juga tak kalah bagus, Mauricio Pochettino, Antonio Conte, Arsene Wenger, dan Ronald Koeman. Tentu tak ada nama Edy Paryono dan Benny Dollo di sana, karena mereka mainnya di Liga 1.

Ketiga, faktor suporter tak boleh dilupakan. Bagaimanapun, Inggris punya suporter yang beringas. Mereka tak akan sukar menempuh jarak antara Inggris dan Rusia yang jika dilihat di peta memang lumayan jauh. Sudah pasti melebihi jarak Jakarta-Semarang.

Namun, jika dibandingkan dengan dua edisi sebelumnya di Brasil dan Afrika Selatan, tentu masih lebih dekat jarak Inggris-Rusia. Meski jaraknya mencapai 5.796 kilometer tanpa persegi, para Hooligans bisa sampai di Rusia dalam waktu 3-4 jam naik pesawat non-stop.

Jika naik kereta, bisa makan waktu dua hari. Lumayan lah bisa sambil buka-buka Youtube sesekali buka situs Pornhub juga. Namun, jarak itu tak akan jadi masalah.

Bukan tak mungkin para suporter Inggris ini akan berduyun-duyun datang ke Rusia untuk melihat tim nasional kesayangannya bertanding. Jelas akan memberikan semangat ekstra.

Inggris punya asa yang cukup besar jika mereka menghadapi turnamen ini dengan serius. Sekumpulan pemain muda yang ditempa pelatih-pelatih kelas dunia akan makin matang di Rusia nanti.

Inline image 1
Jarak tempuh para hooligans kalau mau ke Rusia.

 

Lagi, lagi, dan lagi ini hanya sebuah prediksi. Siapapun juaranya kita tak akan dapat apa-apa juga. Kecuali yang pada suka main judi bola, lumayan bisa dapat tambahan uang jajan buat beli bakso.

Yang pasti, tim yang akan jadi juara adalah tim yang mengalahkan lawannya di final. Tentu itu sebuah kepastian yang hakiki.

Bagi kita warga Indonesia, Piala Dunia hanya tontonan hiburan yang menggelora setiap empat tahun sekali. Kecuali jika Indonesia berlaga di Piala Dunia. Meski tak tahu kapan.

Main photo credit: Toronto Star


Harry Hardian 2Harry Hardian

Penulis yang selalu diawali dengan kata mantan. Mantan pemain, mantan pelatih dan mantan seseorang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here