Oleh: Febrian Wahyu H.

Carmine “Mino” Raiola, Pria kelahiran Italia, 6 November 1967 yang lebaran nanti dipastikan tidak mudik ke Purwokerto, sedang jadi target operasi pem-bully-an para suporter bola seantero jagat wabil khusus fans AC Milan. Kelihaianya dalam memasang harga tinggi bagi setiap pemain yang diageninya berujung prahara.

Banyak fans bola fanatik dan garis keras mengamuk karena sang pemain incaran dan andalan klub idolanya pasang bandrol tinggi. Bahkan tak jarang ada pemain masih baru KTP, baik nilai transfer atau gajinya selangit. Di balik itu, ada sang agen yang lagi asyik kipas-kipas duit.

Lihat saja kasus terakhir mengenai Paul Pogba. Raiola kabarnya mendapat duit sampai 40 juta euro dari hasil penjualan Pogba dari Juventus ke Manchester United.

Amarah yang membabi buta membuat mereka lupa bahwa di mana-mana merekrut pemain berpengalaman akan selalu lebih mahal dibanding harga pasaran. Bukan salah bunda mengandung atau bapak tak pakai sarung, tapi salahkan metode rekrutmen sendiri yang membuat harga sang pemain membumbung tinggi.

Lalu apakah yang salah dengan pola rekrutmen pemain sepakbola?

Mari kita kupas satu per satu tanpa air mata seperti mengupas kulit bawang. Selama metodenya masih personal approachment maka pasti akan banyak klausul yang diajukan oleh si calon pemain.

Dari sini saja sudah terlihat bahwa dalam proses negosiasi ini pemain lah yang mempunyai nilai tawar lebih, jadi sangat lah wajar jika kata yang pertama keluar dari si pemain melalui agennya adalah “WANI PIRO?”.

Apalagi jika pemandu bakat klub yang sedang mengincarnya tertangkap kamera duduk di tribun penonton, bahkan kadang pelatih atau manajernya sendiri yang sampai turun tangan.

Jika sebuah klub ingin merevolusi metode rekrutmen pemainnya, maka setidaknya ada tiga cara yang harus dilakukan klub sepakbola:

Job Fair ke Sekolah Sepak Bola

Ibarat pohon durian akan lebih murah ketika membelinya saat buah masih muda atau istilahnya sistem “ijon”. Pasalnya, merekrut mereka yang baru lulus atau masih sekolah pasti lebih murah dibanding mereka yang sudah bermain di level profesional.

Sama dengan kebanyakan fresh graduate yang punya prinsip yang penting kerja dulu, pemain sekolah sepakbola ini juga punya prinsip yang penting main dulu, gaji juga entar naik sendiri. Paling tidak, tiap tahun akan mendapat kenaikan gaji berkala efek dari kenaikan laju inflasi dan penyesuaian upah minimum.

Para pemandu bakat harus lebih rajin melakukan kunjungan rutin ke SSB-SSB. Bukannya si agen yang turun ke lapangan lalu menunggu sodoran pemain ke klub tersebut.

Jobstreet atau Linkedin

Klub sepakbola juga harus melek teknologi dalam pola rekrutmen pemainya. Penggunaan sistem berbasis teknologi informatika (TI) dan paperless yang Go Green juga harus diadopsi.

Mungkin calon pemain bola diharuskan untuk membuat CV semenarik mungkin lengkap dengan biodata pribadi, riwayat pendidikan sekolah sepakbola, pengalaman, dan juga prestasi. Baru lah ikut tes di lapangan melihat skill-nya.

Tidak lupa, pemain juga diminta untuk menyebutkan current salary dan expected salary untuk menyesuaikan dengan anggaran klub, yang gajinya sudah terlampau tinggi berarti tidak usah diproses lebih lanjut.

Nantinya pemain yang terpilih akan diundang untuk proses rekrutmen lebih lanjut seperti psikotes, interview, medical check-up, hingga offering. Memang, dalam sepak bola model perekrutannya tak seperti karyawan kantoran. Pemandu bakatlah yang mendatangi sebuah tim untuk kemudian menawarkan klub kepada pemainnya.

Tapi, tak ada salahnya metode ini digunakan. Siapa tahu bisa terjadi perubahan revolusioner dalam kancah perekrutan pemain bola.

Pasang Iklan di Tiang-Tiang Listrik dan Telepon

Jangan pernah remehkan skill para pemain bola dari “Gang Senggol Footbal Academy” yang sudah terbukti melahirkan banyak pemain bintang meskipun berawal dari sepak bola jalanan. Iklan di tiang-tiang listrik dan telpon bisa sangat efektif dan efisien karena di sini tidak ada biaya yang dibebankan kepada pengiklan.

Praktis, modal yang diperlukan hanya selembar kertas dan lem. Sedikit tantangannya adalah klub sepakbola harus berebut space iklan dengan pengusaha sedot WC, kredit tanpa anggunan, atau jasa sewa badut panggilan. Hasil dari rekrutmen disini sangat cocok diadopsi oleh tim tarkam dengan sistem kerja pemain harian lepas.

Setelah calon pemain lolos semua tahap seleksi, klub menyodorkan kontrak lengkap dengan detail gaji, tunjangan, asuransi kesehatan dan lain-lain. Para pemain yang sudah menandatangani kontrak akan dikirim untuk menjalani pelatihan.

Disini lah kelihaian HRD klub diuji dalam menyelipkan klausul-klausul seperti minimal bermain untuk klub tersebut selama lima tahun, tidak boleh menikah selama masa pelatihan, dan apabila melanggar klausul tersebut maka sang pemain akan dikenakan denda sejumlah uang.

Jika kita telaah lagi secara seksama, namun tidak dengan tempo yang secepat-cepatnya, maka sebenarnya dengan menggunakan metode ini secara tidak langsung meniadakan fungsi agen dalam proses rekrutmen atau transfer pemain sehingga sangat ampuh menurunkan biaya.

Inilah sebabnya kenapa harga cabai menjelang lebaran selalu naik dan harga pemain menjelang musim transfer juga mahal, tidak lain tidak bukan karena permainan para tengkulak atau agennya.

Saran bagi agen pemain yang sudah terlanjur dicap jelek oleh banyak klub sepakbola, tidak ada salahnya jika anda mencoba peruntungan lain sebagai tengkulak cabai. Dari sisi klub, mungkin merekrut emak-emak komplek berdaster dan roll rambut yang masih nyangkut di poni sebagai negosiator perlu dipertimbangkan untuk melawan agen-agen bola yang suka pasang harga tinggi.

Pasalnya, hanya emak-emak lah yang paling tahu seluk beluk harga pasaran dengan jurus batu karangnya, yang hanya mau membayar setengah dari harga penawaran apapun yang terjadi, terbukti ampuh membuat pedagang keliling manapun bertekuk lutut dan luluh.

Memang, kehadiran agen juga sangat dibutuhkan para pemain bola yang ingin mentas. Hanya agen lah yang punya pintu masuk ke klub-klub besar macam Manchester United (MU) sampai Madura United (MU). Tapi jika ditemukan suatu cara untuk memangkas agen, maka nilai transfer tak perlu semahal Pogba atau Gareth Bale.

Tiga usulan tadi tentu hanya berupa rekomendasi bodoh dan seolah tak mungkin terjadi di sepak bola. Tapi pesannya, mahalnya biaya agen perlu dipikirkan kembali agar pembelian pemain bisa lebih manusiawi. Bukan tidak mungkin, pola rekrutmen pemain bola nantinya bisa sama dengan pola rekrutmen karyawan kantoran.


Febri 2Febrian Wahyu H. 

Penulis adalah staf HRD penggemar bola lulusan Sastra Korea tapi anti-boyband

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here