Oleh: Sakti Sakral

Hingga detik ini, kondisi persepak bolaan Indonesia masih carut marut. Berdasarkan peringkat FIFA terbaru yang rilis per Oktober 2020, Timnas Indonesia berada di peringkat ke-173 dari seluruh negara yang berkompetisi sepak bola.

Liga Nasional pun hingga saat ini masih diliburkan sebagai imbas dari pandemi, mengakibatkan banyak atlet serta pesepak bola itu sendiri kehilangan pekerjaan, dan kemampuan mereka kiat tergerogoti karena tidak adanya latihan dari klub selama pandemi.

Ada banyak faktor yang mengakibatkan kualitas persepakbolaan Indonesia di bawah rata-rata, yang tentunya paling sering muncul di permukaan adalah karena diakibatkan oleh kualitas liga dengan penanganan yang buruk oleh PSSI selaku lembaga yang berwenang.

Belum lagi sistem pengelolaan dan pembinaan pemain usia dini yang tidak mumpuni berimbas pada prestasi sepak bola yang tak kunjung mengalami kemajuan, dikarenakan tidak adanya regenerasi pemain-pemain muda baru yang memiliki kapasitas untuk membuat Indonesia dapat bersaing di kancah internasional.

Namun, apakah itu saja faktor yang mengakibatkan persepakbolaan tanah air tak kunjung membaik? Ada faktor lain, yang disebut-sebut sering mengambil alih peran, dalam terhambatnya perkembangan kualitas sepakbola. Faktor itu tak lain dan tak bukan, ialah berbagai kepentingan petinggi-petinggi, yang berujung pada tidak terwujudnya persepakbolaan yang transparan, dan adil.

Para petinggi ini, dengan segenap kuasa mereka, sering kali mengambil alih pertandingan, dan memanfaatkan segenap aspek yang ada. Perbuatan yang paling umum mereka lakukan adalah pengaturan skor, dan penyuapan terhadap para inspektur pertandingan, yang bertujuan untuk mengontrol jalannya pertandingan sepak bola sebagaimana mau mereka. 

Orang-orang tersebut dikenal sebagai “mafia sepak bola‟. Mafia sepak bola bukanlah hal baru dalam dunia sepakbola, dan telah menjadi parasit bagi persepakbolaan kita sejak lama. Praktik ini, tentunya melanggar hukum dan berbagai pasal dalam undang-undang dasar. Biasalah!

Sepak bola merupakan olahraga paling atraktif di dunia. Tak terkecuali bagi masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia memiliki kultur sepak bola yang kuat, yang sudah mengakar sejak turun temurun, dan dari berbagai generasi.

Di lingkungan masyarakat, segala hal yang berbau sepakbola mudah ditemui, berbagai fanbase fanatik klub bola, baik klub bola dalam negeri maupun mancanegara ada di seantero tanah air, pertandingan dan permainan sepakbola pun mudah ditemui di mana pun, di pelosok kampung, di jalanan yang sepi, di tanah sawah yang telah mengering, begitu juga dengan koreng yang telah mengering, bahkan di pantai sekalipn. Masyarakat Indonesia demen bermain bola. Sepak bola seperti di atas segalanya, semacam budaya bagi Indonesia.

Namun bagaimana bisa, sebuah negara yang demikian fanatik terhadap sepakbola, yang tidak memiliki olahraga lain sementereng sepakbola, yang memiliki jumlah penduduk terbanyak keempat di dunia, bisa demikian jomplang prestasinya di tanah airnya itu sendiri?

Jangankan berbicara di level dunia, di kancah Asia Tenggara saja, Timnas kita tidak bisa berbicara banyak dan minim prestasi. Juara AFF saja belum. Alamak!

Benarkah sejatinya sepakbola Indonesia memiliki potensi yang kuat, hanya saja adanya campur tangan berbagai pihak dengan berbagai macam kepentingan yang mengintervensi upaya persepakbolaan kita untuk maju?

Mafia Sepakbola di Indonesia

Mafia bukanlah hal yang baru bagi persepakbolaan Indonesia. Menurut Kepala Bidang Penanganan Kasus Lembaga Hukum Jakarta, M. Isnur seperti diungkap Tempo, 17 Juni 2015, praktik ini telah berjalan selama lebih dari 15 tahun. Isnur mengklaim praktik ini telah populer sejak tahun 2000, dengan metode sogok-menyogok menjadi metode yang paling lazim dan banyak digunakan.

M. Isnur bahkan berani berujar bahwasanya, bahkan sebelum liga dijalankan pun, sudah dibentuk skenarionya. Hal ini amat beralasan karena seperti yang segenap masyarakat kita ketahui, terdapat berbagai insiden yang mewarnai perjalanan Timnas dalam berbagai kompetisi dari tahun ke tahun, yang menunjukkan indikasi adanya pengaturan skor ini.

Kita tentu ingat mencuatnya isu-isu adanya campur tangan orang lain dalam kekalahan menyakitkan Timnas Indonesia atas Malaysia di Final Piala AFF 2010, atau bagaimana pertunjukkan “sepakbola gajah‟ antara Indonesia dan Thailand di Piala Tiger 1996? Peristiwa-peristiwa legendaris tersebut seakan menjadi bukti nyata yang menasbihkan bahwa mafia dalam dunia sepakbola Indonesia memang tampaknya terlihat keberadaannya.

Yang paling anyar dan ambyar adalah kekalahan memalukan 0-5 Timnas Indonesia U-23 atas Vietnam di babak perebutan medali perunggu SEA Games 2015. Pada peristiwa tersebut, Isnur meyakini bahwa para mafia sekali lagi mengambil andil besar dibalik skor akhir pertandingan.  sepakbola erat kaitannya dengan bandar judi, karena tujuan mereka mengontrol sebuah pertandingan adalah untuk mengambil keuntungan dari pasar-pasar taruhan, dan mengubah jalannya pertandingan maupun kompetisi agar sesuai dengan kemauan mereka.

Melihat tidak ada efisiensi dari PSSI selaku lembaga sepakbola tertinggi di Indonesia untuk melakukan tindakan preventif terkait permasalahan ini, Mabes Polri dan Polda Metrojaya memutuskan untuk membentuk satgas Antimafia Bola pada 21 Desember 2018.

Tujuannya tentu saja bukan untuk mempromosikan olahraga catur, melainkan untuk mengusut tuntas kasus-kasus pengaturan skor dalam pertandingan sepakbola Indonesia.

Pertandingan Ikonik yang Diduga Ada Mafianya

1. Indonesia vs Thailand (Piala Tiger 1998)

Sikap tidak suportif yang ditunjukan Timnas Indonesia pada pertandingan ini didasari karena upaya untuk menghindari pertemuan dengan Vietnam di babak selanjutnya. Ini merupakan pertandingan terakhir di Grup B, yang mana Indonesia dan Thailand sudah sama-sama dipastikan lolos fase grup, pertandingan ini menjadi penentuan siapa yang akan keluar sebagai juara grup.

Siapa pun yang keluar sebagai juara grup akan menghadapi Vietnam yang di grup sebelah keluar sebagai runner up. Meski tidak keluar sebagai juara grup, Vietnam kala itu digadang-gadang sebagai calon kuat juara Piala AFF, sehingga baik Thailand maupun Indonesia sama-sama tidak ingin menghadapi Vietnam.

Alih-alih, tim yang kalah pada pertandingan ini akan bertemu dengan Singapura yang berstatus sebagai kuda hitam dan relatif dianggap lemah. Oleh  karena itu, sepanjang pertandingan, kedua tim bermain tanpa gairah, karena sama- sama tidak ingin menang.

Hingga babak kedua, skor masih 2-2 untuk kedua tim, meski penonton terang-terangan menyadari keanehan dalam pertandingan ini. Puncak dari segala kejanggalan terjadi di menit akhir pertandingan. Bek Indonesia, Mursyid Effendi tanpa alasan yang jelas memasukkan bola ke gawangnya sendiri ketika kedudukan masih imbang.

Aksi tersebut sontak mengejutkan penonton, tak hanya dari pendukung Indonesia, tapi dari semua orang yang menyaksikan Piala AFF. Namun, alih-alih marah atau kecewa, para pemain Indonesia justru merayakan dan berselebrasi atas kebobolan yang diderita gawangnya, seakan mensyukuri kekalahan dan mengindikasikan bahwa aksi tersebut merupakan sebuah kesengajaan. Sebuah tindakan yang bodoh sekali, Yang Mulia.

Alhasil, Indonesia takluk dari Thailand, dan keinginan mereka untuk terhindar dari Vietnam pun tercapai. Pengaturan skor oleh para petinggi sepakbola diduga kuat menjadi dalang dibalik pertandingan memalukan ini. Lebih apesnya lagi, di babak selanjutnya, Indonesia justru takluk dari Singapura dengan skor 1-2, dan gagal melenggang ke babak selanjutnya.

Padahal sejatinya, Indonesia kala itu tengah dihuni oleh pemain-pemain hebat, dan memiliki kans untuk membawa pulang trofi Piala Tiger pertama mereka ke tanah air. Nama-nama legendaris macam Fachri Husaini, Kurniawan Dwi Yulianto muda, Bima Sakti, dan striker legendaris Peri Sandria menghiasi line-up sang garuda.

2. PSS Sleman vs PSIS Semarang (Divisi Utama 2014)

Pertandingan ini berakhir dengan skor 3-2 untuk PSS di mana seluruh gol sepanjang laga dicetak ke gawang sendiri oleh masing-masing pemain. Sepanjang laga berjalan pun, kedua tim tampak seperti tidak berminat dan bergairah untuk menyerang ke gawang lawan. PSS yang menjadi pemenang dalam laga ini. PSSI dan FIFA turun tangan untuk menginvestigasi tindakan memalukan tersebut.

Media-media internasional pun ikut mengulas peristiwa itu. Sejumlah pelaku sepak bola gajah baik dari PSS maupun PSIS mendapat hukuman yang berbeda-beda. Kini kedua tim masih eksis di kompetisi kasta tertinggi dan telah lepas dari bayang-bayang kasus memalukan lima tahun silam.

Tindakan pengaturan skor dalam pertandingan sepakbola termasuk ke dalam pelanggaran hukum, karena telah bertentangan dengan beberapa pasal yang termuat dalam undang-undang. Selain itu, praktik penyuapan dan penyogokan di Indonesia memang sudah lama dilarang, sehingga perbuatan ini untuk alasan apa pun tidak bisa dibenarkan.

Terlebih lagi, seringkali pengaturan skor yang didalangi oleh para mafia ini justru malah merugikan Timnas sendiri, dan hanya menguntungkan segelintir pihak  saja. Yakni pihak para oknum yang meraup keuntungan dari pasar judi pertandingan sepakbola.

PSSI dan lembaga hukum Indonesia sendiri sudah menindak tegas dan melakukan tindakan preventif dengan mengeluarkan beberapa ketetapan Komdis PSSI yang melindungi keadilan pertandingan, tapi sepertinya masih sulit karena dari data yang ditemui, para pelaku yang telah ditetapkan sebagai tersangka kebanyakan berasal dari personel tubuh PSSI itu sendiri.

Jadi sejatinya, kualitas pemain dan regenerasi pemain muda bukanlah satu- satunya core problem yang mengakibatkan prestasi sepakbola kita memprihatinkan. Faktor luar lapangan seperti ini pun, turut mengambil bagian besar dalam sulitnya sepakbola kita untuk maju. Untuk itu, menjadi PR bersama bagi seluruh elemen persepakbolaan, untuk tidak membiarkan praktik ini semakin lama semakin menggerogoti persepakbolaan kita.


Sakti Sakral

Pelajar SMA yang mencintai sepak bola melebih Alogaritma & Teorema. Seorang Madridtista tetapi setengah mati mengidolai Sergio Busquets.

SHARE
Previous articleYa Tuhan! Dembele Tiba-tiba Pingsan Waktu Latihan
Next articleTiga Singa Langsung Ganas, San Marino Digas
Bolatory memberikan informasi terkini tentang sepakbola dilengkapi data dan analisis dengan gaya penulisan sesuka hati, loncat ke sana-ke sini, serta menghiraukan semua masalah di muka bumi ini. Tapi kami bukan kera sakti, kami adalah Bolatory.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here