Real Madrid sukses meraih gelar Liga Champions lagi untuk yang ke-12 kalinya. Seolah bikin lemari piala mereka jadi penuh dengan kehadiran replika-replika piala si kuping lebar. Menjadikannya klub tersukses sejagad raya ini.

Los Blancos” mampu mengubur mimpi Juventus kedua kalinya untuk meraih treble usai membantai dengan skor telak 4-1. Pertahanan Juve yang kokoh kayak tembok beton MRT Lebak Bulus, seolah mudah dihancurkan layaknya rempeyek di kaleng Khong Guan.

Mereka sekaligus mematahkan banyak mitos atau kutukan. Yang paling ajaib, menjadi juara dua kali berturut-turut, atau bahasa kerennya “back to back“, untuk pertama kalinya sejak format baru Liga Champions diperkenalkan tahun 1992.

Sejak awal, kedua tim memang tak ada yang mau mengalah. Buat apa ngalah karena sudah jauh-jauh datang ke Cardiff, ongkosnya juga mahal.

Juve langsung memegang kendali permainan saat peluit dibunyikan. Bahkan langsung melepaskan dua tembakan yang bisa dimentahkan kiper bernama Keylor Navas.

Sayang, lagi asyik-asyiknya menyerang, mereka lupa kalau keahlian mereka sebenarnya adalah bertahan. Makanya, Madrid hanya sekali serang dengan mengandalkan jurus Chinmi di komik Kungfu Boy lewat “serangan satu pukulan”-nya, mampu membobol gawang kiper uzur, Gianluigi Buffon.

Berawal dari Cristiano Ronaldo yang memberikan umpan kepada Dani Carvajal, kemudian dibalikkan kembali itu bola kepada Ronaldo. Gawang Juve pun bobol.

Namun, saat itu mental Juve masih belum goyah. Mereka berusaha sekuat tenaga untuk bisa menyamakan kedudukan yang akhirnya membuahkan hasil.

Sebuah skema permainan kelas dunia mampu ditunjukkan Leonardo Bonucci, Alex Sandro, Gonzalo Higuain, dan Mandzukic. Keempat pemain itu main passing-passing-an dengan bola tanpa menyentuh tanah.

Terakhir mendarat di dada kurus Mandzukic yang diselesaikan dengan tendangan salto. Sungguh hebat ini si Mandzukic, tak perlu lihat gawang sudah bisa mencetak gol meski dengan mata terbuka.

Stadion pun pecah. Segenap warga media sosial memuji aksi striker Kroasia tersebut, seolah mengalahkan gol spektakuler Zinedine Zidane ke gawang Bayer Leverkusen, sekian belas tahun silam.

Skor 1-1 bertahan hingga jeda. Di sinilah, sepertinya Zidane sebagai pelatih memberi instruksi mengagumkan buat timnya. Ingin agar Madrid bermain lebih terbuka. Makin terbuka, makin asyik. Begitu prinsipnya.

Hasilnya, babak kedua langsung dipegang kendalinya oleh Madrid. “I Bianconeri” bahkan susah banget buat menguasai bola. Boro-boro menguasai, merebut saja sudah susahnya minta ampun. Sekali dapet, passing-nya gagal dan langsung kepotong Casemiro dan kawan-kawan.

Di sinilah kematangan Madrid berbicara. Berbekal skuat yang hampir sama persis dengan tahun lalu, tak sulit menjaga determinasi mereka. Apalagi sudah terbiasa dengan laga sebesar final Liga Champions.

Hanya dalam 15 menit, mereka sukses membuat gol lewat tendangan spektakuler Casemiro dari luar kotak penalti. Tendangannya membentur Sami Khedira yang akhirnya bikin Buffon bingung ini bola geraknya ke mana.

Sekitar tiga menitan kemudian, kali ini Ronaldo mencetak gol keduanya sekaligus menambah keunggulan buat Madrid jadi 3-1. Seolah laga final sudah berhenti sampai di situ.

Nyatanya, final tak berhenti sampai di situ. Juan Cuadrado dikerjai oleh Sergio Ramos berujung pada kartu merah. Ini juga berbau kontroversi. Pasalnya, Cuadrado tak sengaja menyenggol Ramos di pinggir lapangan.

Namun, berhubung Ramos jago acting melebihi aktor-aktor sinetron FTV, wasit pun terperdaya. Langsung saja Cuadrado diberi kartu kuning keduanya.

Bermain dengan 10 orang bikin klub belang-belang putih hitam kayak zebra cross itu makin memble. Tak ada lagi yang namanya tembok kokoh. Semua berubah jadi rempeyek saat Marco Asensio menggenapkan keunggulan Madrid di ujung pertandingan jadi 4-1. Selesai sampai di situ, perjuangan Juve pun tamat.

Jika dua tahun lalu, pada pertemuan terakhir trio BBC-nya Madrid (Benzema, Bale, Cristiano) gagal menembus BBC-nya Juve (Barzagli, Bonucci, Chiellini). Kali ini gantian, BBC-nya Madrid yang sukses mempermalukan BBC-nya Juve.

https://twitter.com/ZiedNabil/status/871232964201521152

Entah gimana, Madrid berubah di babak kedua. Menunjukkan kematangan dan pengalamannya bermain di level tertinggi. Ditambah pengaruh Zidane yang membakar semangat anak asuhannya pada waktu istirahat. Hal itu diakui oleh banyak pemain Madrid.

“Zidane memberi kami instruksi positif pada jeda pertandingan. Dia mengatakan bahwa percaya kepada kami,” ucap Ronaldo.

Marco Asensio, pemuda harapan bangsa yang hitungannya baru lulus kuliah, turut menambahkan. “Kami menjalani babak kedua dengan hasrat yang besar dan hal itu direfleksikan di lapangan,” ucapnya.

Mereka pun mencetak sejarah sekaligus mengajarkan kepada kita bahwa jangan percaya pada mitos atau kutukan. Melainkan percaya pada Tuhan yang akan memberikan keberuntungan dan keberkahan.

Tak ada yang namanya mitos atau kutukan dalam sepak bola. Semua hanya tren yang berbau kebetulan.

https://twitter.com/realmadrid/status/871245134796599296

Banyak banget mitos yang mereka patahkan. Pertama, soal tim yang tak pernah mempertahankan gelar juara berturut-turut. Kedua, soal tim yang menang adu penalti dengan skor 1-1 di final sebelumnya, maka berikutnya akan gagal.

Seperti yang dirasakan Juventus pada 1997 setelah dikalahkan Borussia Dortmund. Sebelumnya jadi juara usai imbang 1-1 lawan Ajax dan menang adu penalti. Hal yang sama dirasakan Manchester United (MU) pada 2009 dikalahkan Barcelona. Sebelumnya main imbang 1-1 lawan Chelsea dan menang adu penalti.

Mitos ketiga, siklus tujuh tahunan klub Italia jadi juara Liga Champions. Diawali dari Juve pada 1996, kemudian Milan pada 2003, dan Inter pada 2010. Hampir berlanjut lagi jika Juve jadi juara pada 2017, yang entah gimana, kebetulan atau tidak, bisa masuk lagi ke final, meski akhirnya gagal.

Mitos terakhir, berlaku bagi Juventus di mana setiap Mario Mandzukic mencetak gol maka akan berbuah kemenangan bagi “La Vecchia Signora“. Memang betul, setiap Mandzukic bikin gol, Juve tak pernah seri apalagi kalah. Nah, baru sekarang mitos itu terpatahkan.

“Kami senang karena ini tidak mudah mencapai hal-hal seperti memenangi liga dan Liga Champions. Kami mencapainya dengan bekerja keras dan optimistis. Ini tahun yang spektakuler,” tegas Zidane.

“Paa pemain telah membuat sejarah. Belum ada yang bisa melakukannya dan sekarang kami bisa. Hari ini merupakan hari bersejarah bagi seluruh Madridista. Mulai dari fans, pemain, saya, dan seluruh keluarga kami,” sambungnya lagi.

Dari lubuk hati yang paling dalam, mari ucapkan selamat kepada Real Madrid yang berhasil mematahkan semua mitos, sekaligus menjadi tim tersukses di Eropa dan dunia. Congratulations, Madrid!

Main photo: Twitter (@ChampionsLeague)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here