Lazio akhirnya melepas kangen nan rindu dengan babak 16 besar Liga Champions. Mereka melepas rindu setelah 20 tahun lamanya tak bertemu. Sampai sudah kesemutan itu kaki saking lamanya.

Tim biru langit itu lolos ke babak 16 usai menahan imbang Club Brugge dengan skor 2-2. Mereka menemani Borussia Dortmund yang menjadi juara grup dengan catatan unbeaten.

Terakhir kali Lazio main di 16 besar UCL memang terjadi 20 tahun lalu. Zaman di mana Corona masih jadi nama tipe mobil Toyota. Belum berubah jadi virus.

Namun, Lazio melaluinya dengan olahraga jantung sehat dan kondisi nyaris kalah di menit-menit akhir. Sudah lesss banget itu fans Lazio melihat peluang Brugge di akhir-akhir.

Anak asuh Simone Inzaghi unggul lebih dulu melalui gol Joaquin Correa di menit ke-12. Ia menyambar bola liar hasil tembakan Luis Alberto yang sempat ditepis kiper Simon Mignolet yang suka dipelesetkan namanya jadi mikrolet.

Namun tiga menit kemudian, Brugge menyamakan kedudukan lewat gol copy paste Lazio. Prosesnya mirip-mirip. Tendangan Noa Lang ditepis Pepe Reina kemudian disambar Ruud Vormer.

Tak lama kemudian Lazio unggul lagi lewat kaki Ciro Immobile dari titik putih. Immobile mendapatkan voucher itu setelah dirinya diselengkat Clinton Mata yang bukan presenter acara Bukan Empat Mata.

Namun di babak kedua, tepatnya menit ke-76, jantung Lazio berdegup kencang setelah Brugge menyamakan kedudukan melalui Hans Venaken. Dag-dig-dug ser sudah berawal dari menit ini.

Kalau sudah begini, 15 menit rasanya lama banget. Padahal kalau jam istirahat sekolah, baru juga duduk di kantin sudah bel masuk lagi.

Brugge langsung ngegas demi mengembalikkan kedudukan. Mereka butuh menang untuk lolos ke babak 16 besar yang jarang-jarang itu.

Memasuki menit kedua injury time, fans Lazio bernapas lega setelah tiang gawang mendadak hidup setelah menyelamatkan tembakan jarak dekat Charles De Ketelaere. Seolah ada malaikat yang meniupkan ruh ke tiang gawang Lazio itu.

Wajar jika pemain Lazio menyambut gembira dengan kemenangan di pertandingan olahraga jantung ini. Rasanya sudah seperti juara Piala Dunia.

“Satu-satunya penyesalan karena tidak bisa merayakannya dengan fans kami karena saya bisa membayangkan apa yang bisa terjadi di Olimpico malam ini. Kami memberikan pada mereka kegembiraan dan kami bahagia melakukannya,” ujar Simone Inzaghi, dikutip Ligaolahraga.

“Kualifikasi ini seperti sebuah trofi bagi saya, kami kesulitan, jadi akan ada analisis mengenai saat terakhir di pertandingan, kami bisa tampil lebih baik lagi namun layak dirayakan sekarang. Kami akana segera fokus di liga lagi, Sabtu kami akan melakoni pertandingan penting melawan Verona.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here