Paris Saint Germain (PSG) masih ogah berbagi piala dengan tim yang berasal dari dusun, Les Herbiers. Meski sudah dapat trofi Ligue 1 dan Piala Liga, “Les Parisiens” masih mau lagi. Benar-benar kemaruk kayak Om Thanos.

Padahal, kenapa enggak kasihkan saja buat Les Herbiers. Kasihan mereka sudah jauh-jauh dari sisi barat Prancis untuk ke kota besar macam Paris, tapi tidak mendapatkan apa-apa. Apalagi, mereka ini main di divisi tiga.

Stadion Massabielle yang jadi markasnya saja cuma berkapasitas 5.000 orang dari total warga 15 ribuan. Masih kalah sama jumlah followers-nya Kai Attar Sugiono, anaknya Christian Sugiono dan Titi Kamal. Semua followers-nya tak akan muat kalau disuruh nonton Les Herbiers di Massabielle.

Sayangnya, PSG orangnya benar-benar kejam. Mereka masa bodoh dengan Les Herbiers yang enggak ada prestasi profesionalnya sama sekali. Mungkin masuk ke final Piala Prancis ini saja sudah prestasi besar buat mereka. Bahkan sekarang Herbiers sedang berjuang agar tak terdegradasi dari divisi tiga.

Bisa jadi main di stadion segede Gaban macam Stade de France ini jadi pengalaman pertama buat mereka. Kaki dan dengkul bisa-bisa gemetaran masuk ke lapangan ditonton puluhan ribu orang.

https://twitter.com/COPA90/status/993929771812827137

Benar saja, baru beberapa menit gawang mereka sudah terancam dari para penggawa PSG. Ya secara kualitas memang beda jauh, wajar kalau diserang melulu.

Baru empat menit tendangan Giovani Lo Celso sudah membentur tiang kanan kiper Matthieu Pichot. Mungkin dia masih rada enggak tegaan, jadi dibenturkan ke tiang saja.

Tiga menit kemudian, giliran Kylian Mbappe yang enggak tegaan. Dia menyamai pencapaian Lo Celso dengan menendang bola ke tiang. Bahkan akurasinya jauh lebih hebat dari Lo Celso, bisa menendang tepat ke titik tendangan benturan tiangnya Lo Celso.

Beberapa menit kemudian giliran Angel Di Maria yang punya peluang. Tapi dia anti-mainstream, enggak mau ikut-ikutan tren menendang ke tiang. Mendapatkan umpan lumayan rendang dari Dani Alves, dia menyambutnya dengan sundulan jidat tapi melambung terbang bersama angan-angan.

Lo Celso rupanya masih penasaran, ingin coba lagi apakah akurasinya benar-benar bagus atau tidak. Dia lalu sukses menendangnya lagi ke tiang sebelah kanan. Bedanya rada ke atas. Lo Celso kini unggul satu angka dibanding Mbappe dalam urusan pertendangan ke tiang gawang.

Sampai akhirnya, Lo Celso berhasil membuat gol dari percobaan ketiga. Andai percobaan ketiganya kena tiang lagi, dia pasti sudah mendapat payung cantik. Tendangan placing R2+Kotaknya sukses bersarang di jaring kanan kiper Pichot.

Les Herbiers yang pakai baju merah macam pegawai KFC ini benar-benar tak dikasih kesempatan buat menyerang. PSG enggak mau bagi-bagi.

Dani Alves tak mau kalah dalam perburuan tiang sebelah kanan. Tendangan bebasnya cuma mengenai jaring kanan saja, meleset sedikit dari tiang.

https://twitter.com/BBCMOTD/status/993965092684300290

Di babak kedua, gantian Edinson Cavani yang mencoba menyikat tiang kanan. Berhadapan satu lawan satu dengan Pichot, tendangannya ditepis oleh Pichot dan meluncur keluar sambil menyerempet tiang kanan.

Ini tiang kanan sungguh kasihan. Tidak salah apa-apa tapi digebuki terus. Kalau dicek lebih detail, sepertinya itu tiang sudah baret-baret banyak plesteran.

Tak lama dari kejadian itu, PSG sebenarnya bisa membuat gol usai kejadian ribet terjadi di depan gawang. Mbappe dapat bola sapuan yang kurang bersih dari bek Herbiers dengan enak menceploskan bola ke gawang.

Namun, setelah melihat tayangan VAR, wasit menganulirnya gara-gara Marquinhos handball saat huru-hara sebelumnya. Padahal sudah selebrasi segala macam, malunya kan lumayan.

Wasit ternyata masih baik hati buat PSG. Meski menganulir golnya, dia kasih gantinya dengan sebuah hadiah penalti. Cavani cukup jelas dilanggar Pichot sampai tersungkur.

Cavani sendiri yang mengambil tendangan penalti tersebut. Dia tak merasa sakit meski baru tersungkur akibat jegalan dari Pichot. Tendangannya lagi-lagi mengarah ke kanan, sialnya tak mengenai tiang. Kurang sedikit lagi.

Demikian lah pertandingan Yamaha Mio punya anak kosan melawan Yamaha YZR-M1 punyanya Valentino Rossi. Memang jauh tak berimbang. Tapi skor 0-2 bagi Herbiers tak sampai 0-10 saja sudah cukup bagus.

https://twitter.com/FOXSoccer/status/993974191538913280

“Ini adalah sebuah trofi dan buat kita, semua gelar itu adalah tujuan. Tim ini tampil bagus untuk mendapatkan trofi ini. Saya senang dengan jalannya musim ini. Mereka selalu ingin mencetak gol dan itulah mengapa saya senang. Kami akan menikmati kemenangan ini,” ucap pelatih Unai Emery.

Yang menarik, PSG mengajak serta kapten Herbiers, Sebastien Flochon, untuk turut mengangkat piala bersama-sama. Mungkin untuk menunjukkan rasa simpati dan respeknya dengan perjuangan Herbiers, klub kecil dari dusun.

Sejatinya wajah Flochon ini tidak gembira-gembira amat. Ya wajar namanya juga kalah, malah seolah-olah merasa dikasihani. Tapi lumayan, setidaknya Flochon merasakan angkat piala meski bukan haknya.

Namun, semua warga Herbiers tetap bergembira. Tak peduli menang atau kalah, jalan-jalan ke Paris saja sudah kayak liburan.

“Saya sangat bangga dengan tim ini, dan kota ini. Kami tak menyerah meski digempur oleh PSG yang kekuatannya jauh di atas kami. Kami bahkan hampir membuat gol. Saya benar-benar sangat bangga,” ujar pelatih Stephane Masala.

Selamat ya, PSG, atas raihan treble-nya, meski treble-nya lokal. Selamat ya, Herbiers, bisa masuk ke final merupakan sebuah penghargaan khusus.

https://twitter.com/PSG_inside/status/993980469048987648

Main photo: @ChampionsLeague

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here