Juventus kembali gagal menjuarai Liga Champions untuk yang ketujuh kalinya. Itu gagal final apa tawaf di Kabah, sampai tujuh kali begitu. Kesedihan jelas terpampang pada wajah para pemain Juve terutama Gianluigi Buffon, serta fans-nya yang fanatik itu.

Kekalahan 1-4 dari Madrid di laga final semalam memang membuat pendukungnya pulang dalam larut kesedihan dan serba tak enak. Mau tidur tak enak, mau ngobrol tak enak, mau buka media sosial tak enak, mau makan pun tak bisa karena lagi puasa.

Sejatinya Juve tampil superior di babak pertama dan mampu mencetak gol spektakuler lewat Mario Mandzukic. Kedudukan imbang 1-1 sepertinya bakal percaya diri di babak kedua bisa memenangkan laga tersebut. Apalagi, tiap Mandzukic mencetak gol, Juve selalu pulang dengan kemenangan.

Namun, Tuhan berkehendak lain. “Si Nyonya Tua” sudah digariskan takdir untuk kalah lagi. Babak kedua mendadak Madrid menguasai pertandingan dan tanpa ampun membobol gawang Juve dengan sengaja.

Gawang Buffon yang tadinya cuma kebobolan tiga kali dan menjadi tim paling jarang kebobolan di Liga Champions musim ini, tiba-tiba kebobolan empat gol. Alhasil, jumlahnya jadi tujuh gol.

Pelatih Massimilliano Allegri mengakui bahwa 15 menit babak kedua bikin Juve tertekan. Bahkan tak mampu berbuat apa-apa ketika Casemiro mencetak gol lumayan keren. Mendadak, mental mereka nge-down.

“Kami menemui kesulitan di 15 menit pertama babak kedua. Kami kebobolan dan bukannya berjuang dengan sekuat tenaga untuk bertahan, kami menyerah. Itulah yang harus kami perbaiki untuk musim depan,” ujar Allegri dikutip detik.

Allegri pun tak mau larut dalam kesedihan. Memang tidak baik lama-lama bersedih, nanti bisa stres dan sakit. Mantannya Milan itu bahkan bertekad bakal kembali ke final musim depan. Jika beruntung.

“Bagaimanapun tidak ada gunanya mengeluh dan tenggelam dalam pertanyaan ‘mengapa’ dan ‘bagaimana jika’. Mari istirahat. Ini adalah musim yang berat, tapi Anda selalu dapat kesempatan kedua dalam hidup. Kami tidak akan berhenti di sini. Kami harus kembali ke final,” sambungnya.

Kekalahan ini juga langsung disambut sigap oleh presiden Juve, Andrea Agnelli. Bagaimanapun, menurutnya, tim asal kota Turin yang jauh banget dari Sidoarjo itu tetap membanggakan.

“Tugas saya untuk menilai musim ini dan kami sangat bangga dengan apa yang telah kami lakukan tahun ini. Kami bangga karena kami telah berkembang selama tujuh tahun terakhir dan kami sekarang berada di atas dengan yang terbaik di Eropa,” ucapnya, di-copas dari Kompas.

Satu per satu pemain dipeluknya. Mencoba menghibur namun gagal karena Agnelli bukanlah pria penghibur. Bahkan, Agnelli menegaskan bahwa Juve tidak kekurangan motivasi pada laga ini. Hanya memang, bagaimanapun Madrid tetap lebih kuat dan lebih matang, layak menang.

“Saya memeluk semua pemain malam ini. Tahun depan, kami harus lebih bertekad. Siapa pun yang berpikir kami akan kurang memiliki motivasi, sebaiknya berpikir ulang. Kebanggaan kami akan memotivasi kami untuk terus bertumbuh, dari hari ke hari, dari tahun ke tahun,” tuturnya.

Yang paling sedih, tentu saja Buffon. Meski berusaha tetap tegar dan tersenyum meski tatapan matanya kosong meratapi nasibnya yang entah kenapa kok sial banget. Di dalam hatinya sangat terluka

Begitu juga dengan segenap rakyat bola dan pendukung Juve malam itu yang ingin sekali melihat kiper gagah tersebut mengangkat piala Liga Champions pertama kali dalam hidupnya.

“Ini adalah kekecewaan besar karena kami menduga bahwa kami telah melakukan segala yang dibutuhkan untuk bermain di laga final dan memenangkannya. Tapi ternyata Madrid lebih layak menang. Mereka menunjukkan kelasnya, bagaimana cara memenangkan duel ini,” kata Buffon.

Lebih lanjut, cowok yang pandai berbahasa Italia itu mengungkapkan masih ada rasa penasaran dalam hatinya untuk juara Champions. Daripada nanti jadi mati penasaran, dia masih punya satu kesempatan lagi tahun depan.

“Secara alami jelas ada sedikit penyesalan karena semuanya seperti menjadi salah untuk kami. Saya masih memiliki kontrak setahun dengan Juve. Jadi, masih ada satu kesempatan lagi untuk memenangkan Liga Champions,” sambungnya.

Juve memang boleh gagal lagi. Kesempatan untuk meraih treble harus pupus untuk kedua kalinya. Memang treble itu tak semudah menggoreng chicken nugget. Bikin mereka jadi bahan bully-an bagi pendukung tim kompetitornya.

Dua kali peluang treble pun sirna. Jarang banget ada tim yang bisa kayak gitu selain Barcelona. Kalau hanya juara Liga Champions saja, tiap tahun selalu digelar dan tinggal tunggu waktu saja. Tapi kalau treble ini sangat sulit dilakukan.

Bahkan, mereka dicap sebagai tim paling looser setelah tujuh kali gagal dalam sembilan final. Belum ada tim yang seperti Juve, mental yang mendadak cupu di laga pamungkas.

Kesedihan makin menjadi-jadi setelah di Turin terjadi musibah. Ada sebuah alarm palsu yang dikiranya ada bom sehingga timbul kepanikan dan melukai lumayan banyak orang. Benar-benar mimpi buruk bagi Juventini.

Namun, Juve memang tak boleh larut dalam kesedihan. Mereka mesti bangkit, kalau perlu beli semua pemain Madrid dan Barcelona supaya bisa juara musim depan. Meski rasanya tak mungkin karena memang Juve bukan tim seperti itu.

Memang harus bersabar karena ujian memang mengecewakan. Tapi percayalah bahwa ujian adalah untuk menaikkan tingkat dan derajat seseorang. Siapa tahu, kegagalan saat ini hanya kesuksesan yang tertunda.

Jangan bersedih, Juve! La tahzaan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here