Sejak kepindahannya dari Arsenal ke Manchester United, Alexis Sanchez belum bisa gacor dan tampil dengan performa terbaiknya. Apalagi memenangkan lomba kicau se-kabupaten. Pemain yang dari kecil sudah jago bahasa Spanyol itu mengaku kesulitan untuk beradaptasi dengan gaya main MU.

Pada transfer musim dingin yang lalu, MU dan Arsenal telah menjalin kesepakatan barter yang isinya bukan tentang beras, gula, ataupun sembako lainnya. Melainkan menukar kedua pemain yaitu Sanchez dan Henrikh Mkhitaryan.

Walau didapat melalui proses tukar menukar, Sanchez akhirnya juga lumayan menguras pundi-pundi keuangan “The Red Devils”. Bagaimana tidak, sang pemain tidak cukup untuk dibayar nasi kotak dan selembar gocapan tiap pertandingan seperti penonton acara TV ataupun pendemo bayaran.

Tiap pekannya Sanchez diyakini mendapat bayaran hingga 450 ribu poundsterling. Bayangkan saja berapa banyak penonton bayaran yang bisa didatangkan dengan uang sebanyak itu. Lumayan bisa disuruh joget-joget hingga meramaikan suasana Old Trafford. Daripada cuma buat bayar Sanchez seorang diri.

MU sendiri sejauh ini belum bisa menikmati dana besar yang mereka keluarkan untuk sang pemain. Pemain asal Chile itu telah tampil sebanyak 18 kali di semua ajang dengan catatan tiga gol dan tiga assist saja.

Catatan tersebut tentu bisa dikatakan tidak mengesankan alias biasa-biasa saja alias standar alias sedang-sedang saja. Performanya bahkan mendapat kritik keras dari pemain legendaris MU, Paul Scholes. Ia menyebutkan bahwa Sanchez belum bisa menjadi sosok pembeda yang diharapkan oleh klub.

Sosok pemain berwajah ganteng tak konsisten itu memang masih sama seperti para pemain sepakbola pada umumnya. Kakinya hanya dua bukan tiga, kalau menyundul pun pakai kepala. Jadi sulit memang mengharapkan Sanchez bisa jadi pembeda kalau begitu-begitu saja.

Sanchez pun tidak menampik bahwa dirinya kesulitan untuk beradaptasi dengan gaya main MU. Padahal MU mainnya tidak terlalu banyak gaya. Kalau yang banyak gaya itu Young Lex. Banyak alasan saja si Sanchez ini. Kalau dulu disuruh orang tuanya pasti jawabnya “tar, sok, tar, sok” alias sebentar atau besok. Ujung-ujungnya tidak dilaksanakan juga.

“Saya pikir pada tiap laga yang saya mainkan, saya mungkin merasakan kesulitan untuk beradaptasi dengan gaya main tim dan saya sedang dalam proses mengenal rekan-rekan saya. Saya percaya kami harus berkembang di berbagai aspek” ungkapnya dikutip dari Detik.

Gaya bermain MU memang sebelumnya juga menjadi isu yang menerpa Mkhitaryan. Mantan gelandang Dortmund yang jadi alat tukar itu selama bermain di MU juga gagal moncer. Mkhitaryan katanya kurang nyaman dengan gaya bermain MU yang cenderung defensif.

“MU adalah klub besar yang selalu bercita-cita memenangi trofi-trofi besar dan itu yang sedang coba saya lakukan. Saya ingin mencoba, terus berkembang, dan melihat tim ini memenangi trofi. Saya percaya MU adalah tim yang sangat besar dalam skala dunia dan terlebih lagi di Inggris, di mana kami yang terbesar,” tutur Alexis tanpa Texas itu.

https://twitter.com/Football__Tweet/status/998510714246520834

Main photo: Twitter

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here