Kroasia harus kembali bersusah payah untuk melaju ke babak berikutnya. Meski lawan-lawannya terlihat enteng, tapi ternyata mereka harus menempuh jalan berliku mana ada truk mogok segala kayak di jalanan Nagreg.

Tim berjuluk “Vatreni” itu harus kembali memainkan babak adu penalti untuk bisa melangkah ke semifinal. Setelah sukses lawan Denmark, mereka rupanya ketagihan untuk menjalani babak adu penalti lawan Rusia.

Tampil di kandang orang yang isinya kebanyakan orang Rusia, sempat membuat Luka Modric dan kawan-kawan rada gemetaran. Mungkin takut badan pemain Rusia besar-besar dan wajahnya seram-seram seperti mafia beras.

Mereka tertinggal lebih dulu lewat sebuah gol indah dari Denis Cheryshev yang bukan anggota tim Cherrybelle. Usai menerima operan standar dari Artem Dzyuba, Cheryshev mampu melewati Modric sebelum melepaskan tendangan melengkung ke gawang Danijel Subasic.

Gol tak disangka-sangka warga tuan rumah. Soalnya dikira bola bakal keluar, tapi ternyata enggak. Bahkan Subasic sendiri cuma bisa tertegun melihatnya. Memandanginya dengan penuh pesona.

Sayangnya, Kroasia berhasil membalasnya dengan cepat. Tak sampai menunggu wajib lapor 1×24 jam, mereka sukses menyamakan kedudukan hanya berselang beberapa menit.

Berawal dari pergerakan Mario Mandzukic yang menusuk di kotak penalti, lalu melepaskan umpan kentang alias kena tanggung. Masalahnya bola tidak menyusuri tanah, tapi tidak juga melambung tinggi untuk menyasar ke kepala layaknya umpan crossing. 

Bola yang diberikan mengambang sedada orang dewasa. Namun, umpan itu disambut nekat oleh Andrej Kramaric yang masih ngotot menyambutnya pakai kepala. Ternyata bola hasil sundulan maksanya bisa masuk ke gawang Igor Akinfeev. Tidak sia-sia rasa sakit di kepalanya.

https://twitter.com/elmensmag/status/1015728157725462528

Skor 1-1 terus bertahan sampai akhir babak kedua. Kedua tim masih malu-malu buat mencetak gol. Bahkan Kroasia sebenarnya punya peluang gede banget yang sekilas bisa menjadi gol.

Hasil pantul-pantulan bola depan gawang berhasil ada di kaki Ivan Perisic. Perisic lalu menendang bolanya ke gawang tapi mengenai tiang. Bola pantulan tiang sekilas masuk ke gawang, tapi ternyata hanya menyusuri depan garis gawang dan keluar lagi.

Pelatih Zlatko Dalic sudah siap-siap mau gaya, tapi enggak jadi. Takut tengsin seperti kena tipu doa Qunut saat sholat subuh.

Pertandingan dilanjutkan sampai babak tambahan. Di sinilah keseruan terjadi. Kroasia berhasil mencetak gol pada menit ke-101 lewat bek Domagoj Vida.

Hasil tendangan sudut Modric berhasil disundul lembut oleh Vida tanpa Loca itu. Dengan kepala berambut kuncir najisnya, bola sukses disundul masuk ke gawang secara perlahan yang cuma jadi tontonan para pemain Rusia. Vida yang wajahnya kayak penjahat kelas kakap di sinetron itu langsung merayakannya sambil buka bajunya kegerahan.

Sekilas Kroasia bakal memenangkan laga ini karena Rusia sudah jatuh mentalnya. Namun, jangan remehkan mental para pemain Rusia yang didukung sampai ke presidennya.

Pada menit ke-115, atau lima menit menjelang bubaran, “Sbornaya” berhasil menyamakan kedudukan sekaligus memperpanjang nyawa mereka. Ibarat kata dapat nyawa tambahan saat lagi main gim sebelum bertemu stage terakhir.

Mario Fernandes menyaingi Vida untuk memanfaatkan bola mati. Bedanya ini hasil tendangan bebas, bukan tendangan sudut. Tendangan bebasnya juga dilakukan atas nama Rusia sendiri, bukan Kroasia.

Tendangan Alan Dzagoev berhasil disundul tipis oleh Fernandes yang lagi-lagi membuat Subasic ini tertegun, tidak bekerja sama sekali. Kalau cuma diam saja mending jadi manekin Ramayana.

Cuma sayang, Fernandes ini semacam from hero to zero. Pada babak tos-tosan, dia malah gagal menjalankan tugas penalti. Mudah-mudahan tidak sampai menerima ancaman via WA oleh warga negaranya.

Berawal dari tendangan Fedor Smolov yang sok-sokan mau panenka, malah ditepis dengan mudah oleh Subasic. Lalu berturut-turut Brozovic dan Dzagoev bisa menjalankan tugasnya.

Penendang Kroasia, Mateo Kovacic, sempat gagal di tempat kedua setelah ditepis Akinfeev. Tapi di sinilah takdir kekalahan Rusia terjadi. Fernandes yang jadi algojo ketiga malah agak siwer bingung membedakan mana gawang mana papan skor. Tendangannya melebar, tanpa bisa diulang lagi.

Kroasia lalu berturut-turut sukses memasukkan bola yang ditutup oleh Ivan Rakitic. Seketika para pemain “Vatreni” yang masih pakai baju kotak-kotak motif Wadimor merayakan kesuksesannya lolos ke semifinal. Tak terkecuali pelatih Dalic yang malah menangis di bangku cadangan. Jadi laki-laki kok cengeng banget.

“Saya berkonsentrasi penuh di sepanjang pertandingan, tetapi setelah penalti Rakitic, emosi saya keluar. Saya merasa sangat lega. Kami bahagia, Kami juga membuat semua orang di Kroasia pulang dengan rasa bahagia. Kroasia berada di semifinal itu adalah kesuksesan besar,” kata Dalic tanpa berdalih, dikutip Goal. 

Kroasia menjadi tim kedua setelah Argentina yang berhasil menang adu penalti dua kali berturut-turut. Hal itu pernah dicapai Argentina pada 1990 dan berhasil mencapai ke final.

Sedangkan pelatih Rusia, Stanislav Cherchesov, yang wajahnya selalu serius kayak mau lamaran itu tetap meminta dukungan dari rakyatnya. Perjuangan Rusia sudah luar biasa, permainan modal semangat jadi agunannya. Patut diapresiasi.

“Saya percaya bahwa publik sekarang tidak hanya mulai percaya pada kami, tapi juga mencintai kami. Semua orang di Rusia kini jatuh cinta pada kami. Mereka tahu apa yang sudah timnas Rusia lakukan amatlah berharga. Kami bisa membuktikan seberapa besar nilai kami hanya dengan bekerja keras,” ucapnya sambil bersedih hati, dikutip Goal. 

Main photo: Squawka

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here