Kroasia menciptakan sejarah besar, bahkan besar banget, setelah sukses melangkah ke final Piala Dunia untuk pertama kalinya. Padahal keikutsertaan mereka baru terjadi pada 1998, saat Bowo belum direncanakan lahir ke dunia ini.

Kesuksesan itu mereka raih usai mengalahkan Inggris dengan skor tipis 2-1. Meski skornya tipis, tidak sampai terpaut 10 gol, pengorbanan dan perjuangan mereka patut menuai pujian. “Vatreni” benar-benar mantul alias ‘mantap betul’.

Di babak pertama, Kroasia sebenarnya main kayak orang sekip. Bingung mau ke mana, main bolanya cuma gitu-gitu doang. Mungkin hal itu disebabkan oleh gol cepat Inggris saat pertandingan baru berjalan lima menitan.

Pemain Kroasia belum sempat bercanda haha-hihi. Mereka langsung dihajar oleh tendangan bebas asyik banget dari Kieran Trippier. Meski berposisi sebagai bek kanan, Trippier ternyata bisa juga mengeksekusi tendangan bebas layaknya bang Beckham.

Kiper Danijel Subasic tampak hanya formalitas saja melompat. Tangannya tidak dikerahkan dengan sesungguhnya. Mungkin biar kelihatan ada usaha saja.

Selanjutnya Inggris lebih banyak menunggu bola. Dari laga-laga sebelumnya memang begitu-begitu saja mainnya. Tidak ada greget-gregetnya.

Sedangkan Kroasia tampak bingung karena area Inggris tampak dipenuhi oleh orang-orang Inggris yang jago banget berbahasa Inggris tanpa harus ikut kursus di LIA atau English First.

Semuanya berkomunikasi dalam bahasa Inggris, tak ada yang memakai bahasa Urdu atau Swahili. Ini benar-benar pendekatan yang bagus, membuat orang bisa berbahasa Inggris adalah dengan memaksa mereka berkomunikasi dengan bahasa Inggris.

The Three Lions” sebenarnya berpeluang besar menggandakan keunggulan. Tapi mungkin mereka merasa satu saja sudah cukup. Macam istri saja, satu saja repot, apalagi punya dua.

Harry Kane yang lolos dari jebakan offside gagal menceploskan bola pada kesempatan pertama. Bola tendangannya mampu diblok oleh Subasic.

Tuhan kemudian memberikan kesempatan kedua buat Kane lantaran bola muntahan Subasic bisa dikuasainya kembali meski sudah rada ke pinggir lapangan. Alih-alih memasukkannya ke gawang, bola malah ditendangnya ke tiang gawang.

Beruntung bagi Subasic, bola pantulan mengenai kakinya tak masuk ke gawang sampai menciptakan gol bunuh diri. Selamat lah gawang Kroasia.

https://twitter.com/TrollFootball/status/1017164959141257216

Kroasia tidak membuat kesempatan berbahaya selama babak pertama. Seperti masih menerka-nerka mereka harus berbuat apa. Padahal tugasnya hanya satu: Mencetak gol.

Soalnya pertahanan Inggris ini lumayan cakap mainnya. Beberapa kali mereka sukses menyapu bola jauh-jauh hasil umpan terobosan atau crossing dari para pemain Kroasia. Kasih bola atas kena, bola bawah kena. Padahal atas atau bawah sama-sama enak.

Di babak kedua, baru lah tim yang memakai baju kotak-kotak macam taplak meja guru itu bereaksi. Performa mereka meningkat pesat. Entah habis makan apa saat istirahat pergantian babak.

Umpan Sime Vrslajko yang namanya beda sendiri dari rata-rata pemain Kroasia, melepaskan umpan rendang ke pusat perbelanjaan. Bola mau disundul sambil terbang oleh Kyle Walker, tapi ternyata kalah cepat oleh kaki Ivan Perisic yang lebih panjang dari leher Walker. Memang rada aneh kalau lehernya Walker lebih panjang dari kakinya Perisic.

Tak disangka bola meluncur deras ke gawang gara-gara hasil sontekan melayang Perisic. Publik tak menyangka, bisa jadi pemain Kroasianya juga tak menyangka itu gol. Soalnya lagi adem-ayem saja itu pertandingan.

Merasa bisa bikin gol, Kroasia jadi ketagihan meski tak sampai sakaw berat sampai menjual barang-barang orang tuanya. Keteguhan hati mereka bikin barisan pertahanan Inggris jadi gregori alias grogi.

Kelalaian mereka dalam menyapu bola dimanfaatkan oleh Perisic yang sempat mengeluarkan jurus gocekan Ronaldo kuncung lalu melepaskan tendangan menyusur tanah. Untung saja bola mengenai tiang. Padahal dari TV sudah terlihat bakalan gol.

Bola pantulan dari tiang diterima dengan gugup oleh Ante Rebic. Tak menyangka bakal mendapatkan bola sehingga tendangan susulannya cuma nyaman di pelukan Jordan Pickford.

Pertandingan berakhir imbang 1-1 dan harus diselesaikan saat itu juga. Tidak bisa keesokan harinya apalagi menunggu sampai bulan puasa.

Di babak perpanjangan waktu, kedua tim punya peluang besar untuk bikin gol kemenangan. Tandukan samping John Stones mengarah ke gawang ternyata bisa disapu dengan cermat oleh Vrsaljko yang namanya masih saja beda dari teman-temannya.

Kemudian di akhir babak pertama perpanjangan waktu, sontekan Mario Mandzukic masih bisa ditepis pakai paha montok Pickford yang namanya memiliki arti ‘mengambil mobil’. Sama-sama terjatuh akibat tabrakan, Pickford meledek Mandzukic supaya jangan cengeng. Dia belum tahu saja, beberapa menit setelah itu gantian Mandzukic yang meledek Pickford gara-gara mampu membobol gawangnya.

Ya, pada menit ke-110, Mandzukic dinobatkan sebagai pahlawan Kroasia untuk lolos ke final pertama kalinya. Hasil clearance Walker jatuhnya tidak jauh-jauh. Kemudian disundul oleh Perisic dengan asal-asalan.

Baik Stones dan kawan-kawan serta Mandzukic tak ada yang mengira bola sundulan tersebut mengarah ke gawang. Mandzukic bahkan lagi asyik-asyiknya jalan kaki tak memerhatikan sundulan Perisic.

Tapi namanya takdir dan insting seorang striker, meski kaget dia tetap mengejar bola dan langsung menendangnya ke gawang Pickford. Tak perlu dikontrol, langsung disikat bleh. 

Sejenak para warga Kroasia kegirangan merayakan gol tersebut. Sampai-sampai seorang juru kamera jadi korban kena tumpuk-tumpukan perayaan gol Mandzukic. Mandzukic dan Ivan Rakitic sampai meminta maaf kepadanya.

Sementara Inggris tak bereaksi apa-apa. Menatap skor dengan nanar sambil berkomat-kamit “It’s coming home.” Ya, mereka benar-benar pulang ke rumah tanpa trofi Piala Dunia. Berkat slogan yang digembar-gemborkan itu, bully pun tak terhindarkan.

Pelatih ‘Gerbang Selatan’ Gareth Southgate mengakui kekalahannya di babak ini. Inggris memang tampil lembek macam mainan Squishy seperti saat lawan Kolombia. Di babak knock out, empat gol yang mereka cipta tiga di antaranya dari bola mati.

Akan jadi beda jika Harry Kane dan kawan-kawan bermain lebih ngotot dan punya hasrat buat menang. Tapi sepanjang laga lebih banyak minta-minta kepada wasit daripada menendang ke gawang. Kendatipun demikian, Southgate tetap bangga.

“Tak ada yang menyangka kami bisa sejauh ini. Saat sudah di titik ini lalu Anda bermain baik di babak pertama, Anda pasti ingin ambil kesempatan ini. Kami menurun di babak kedua, dan akhirnya kalah begitu menyakitkan. Bagaimanapun saya tetap bangga kepada para pemain dan suporter. Suporter menunjukkan reaksi berbeda dibanding dua tahun lalu,” kata Southgate dikutip dari mana-mana.

Skor 2-1 sudah cukup buat Kroasia melangkah ke final. Sebuah pencapaian besar. Bahkan dalam sejarah Piala Dunia terakhir kali tim kuda hitam alias tim yang tak diunggulkan bisa masuk final terjadi pada Swedia tahun 1958.

Pelatih Zlatko Dalic mengaku terkesan dengan perjuangan anak asuhannya yang tak pantang menyerah. Meski sudah lelah dan rasa sakit sana-sini akibat benturan, Luka Modric dan kawan-kawan tetap bermain sampai titik darah penghabisan.

“Para pemain memperlihatkan kekuatan, stamina, dan energi mereka. Saya ingin melakukan pergantian, namun tidak ada satu pun pemain yang ingin diganti. Semua pemain mengatakan ‘saya siap, saya masih bisa berlari’,” ucap Dalic.

https://twitter.com/brfootball/status/1017145840354373633

Main photo: Squawka

4 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here