Piala Konfederasi akan segera dimulai. Seperti biasa, turnamennya para raja ini tak akan segemerlap lampu disko di tempat dugem pinggir jalan Pantura. Tetap masih kalah pamor dari Piala Dunia atau Piala Eropa sekalipun.

Piala Konfederasi memang turnamen empat tahunan yang mempertandingkan para jawara dari setiap konfederasi di bawah naungan FIFA. Konsep ini harusnya sangat prestisius karena ya isinya adalah tim-tim juara dari tiap zona.

Mulai dari zona Eropa (UEFA), Afrika (CAF), Asia (AFC), Amerika Selatan (CONMEBOL), Amerika Utara dan Tengah (CONCACAF), Oseania (OFC), ditambah juara Piala Dunia dan tuan rumah.

Piala Konfederasi awalnya digelar pada 1992 dengan nama Piala Raja Fahd yang digagas di Arab Saudi sampai tiga kali. Di mana putra mahkota Arab Saudi, Sultan bin Fahd Abdulaziz Saud mendedikasikan gelarnya kepada sang ayah, Raja Fahd. Kemudian pada 1999, kompetisi ini resmi jadi agenda FIFA dan namanya berubah menjadi Piala Konfederasi.

Awalnya turnamen ini diselenggarakan tiap dua tahun sekali. Namun sejak 2005 diadakan tiap empat tahun sekali seperti layaknya Pekan Olahraga Nasional (PON) atau ulang tahunnya orang yang lahir pada tanggal kabisat.

Brasil merupakan tim yang paling rajin mengoleksi gelar turnamen ini. Mereka tak bosan mengumpulkan trofi sampai empat kali, yakni pada 1997, 2005, 2009, dan 2013. Disusul Prancis (2001 dan 2003), kemudian Argentina, Denmark, dan Meksiko masing-masing satu buah.

Sebenarnya, inisiasi bergulirnya Piala Konfederasi sudah ada dari 1980, tahun kelahirannya Bertrand Antolin sama Saipul Jamil. Saat itu bernama Kejuaraan Mundialito di Uruguay. Konsepnya sama, mempertemukan enam juara dalam satu kompetisi.

Namun, meski mengusung konsep berkumpulnya para juara, rupanya turnamen ini tetap kalah pamor dari Piala Dunia dan Piala Eropa. Bahkan, ada beberapa tim kurang serius-serius amat dalam mengarungi turnamen tersebut. Kadang hanya dijadikan turnamen pemanasan untuk Piala Dunia tahun berikutnya.

Sebut saja Jerman di Piala Konfederasi 2017 nanti. Pelatih Joachim Loew tak membawa bintang-bintang macam Toni Kroos, Mesut Oezil, Sami Khedira, Thomas Mueller, sampai Mats Hummels. Tujuannya untuk memberi pengalaman kepada pemain-pemain muda.

Bahkan, ada tim yang berani-beraninya menolak ikut serta dalam turnamen ini. Jadi seolah penting enggak penting. Jerman (lagi-lagi) pernah menolak ikut pada 1997 dan 2003 dengan alasan kurang waktu istirahat karena turnamen ini persis di antara tahunnya Piala Eropa dan Piala Dunia. Prancis juga pernah menolak pada 1999 dengan alasan yang sama.

Ada kemungkinan sepi peminatnya Piala Konfederasi karena tim yang bertanding hanya delapan biji. Kemungkinan tak mewakili representasi dari banyak negara. Dari sekian banyak warga Amerika Selatan tentu tak semuanya mau mendukung Cile sebagai representasi dari zona mereka.

Apalagi Australia yang mewakili Asia. Bagaimanapun secara benua, Australia adalah benua tersendiri yang statusnya cuma jadi tetangganya Asia. Jadi seolah ngaku-ngaku. 

Yang kedua, berhubung yang tanding cuma delapan tim, beda dengan Piala Dunia yang sampai 32 tim atau Piala Eropa sampai 24 tim, fans juga ogah-ogahan menontonnya karena mungkin tim jagoannya tak ada di turnamen itu. Pemain-pemain bintang jagoannya juga tak kumpul semua.

Yang ketiga, bisa jadi karena ketimpangan kekuatan. Sejauh ini yang jadi langganan adalah zona CONMEBOL atau UEFA karena memang mereka lah kiblat sepak bola dunia. Paling-paling diselingi Meksiko saja dari zona CONCACAF. Jadi seolah turnamen ini hanya milik mereka berdua, tambah Meksiko sebagai anak bawang.

Entah gimana, Piala Konfederasi juga punya mitos yakni tim yang juara Piala Konfederasi tak akan menjadi juara di Piala Dunia. Selalu saja gagal bagi tim-tim juara seperti Brasil dalam meraih gelar di Piala Dunia tahun berikutnya.

Apapun itu, kita nikmati saja pergelaran turnamen ini. Lumayan kan, daripada tak ada tontonan.

Main photo: Bild

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here