Kolombia akhirnya berhak melaju ke babak berikutnya setelah berhasil mengalahkan Senegal dengan skor tipis banget 1-0. Sementara buat Senegal mereka harus menyingkir akibat kalah fair play dari Jepang.

Tampil di kandangnya Rusia yang jauh dari rumah sendiri, Kolombia sebenarnya main biasa-biasa saja. Padahal mereka mengincar poin demi meloloskan diri ke 16 besar.

Mereka sempat memiliki peluang dari tendangan bebas. Tapi saking bebasnya, Radamel Falcao malah mengarahkannya ke tangan kiper Senegal, Khadim N’Diaye. Ya namanya juga tendangan bebas.

Justru Senegal yang sejatinya cukup main seri tampil lebih menekan di babak pertama. Serangan yang digalang Sadio Mane dan kawan-kawan beberapa kali menembus pertahanan Kolombia. Yerry Mina dan kawan-kawan semacam lupa memakai cat lapis anti bocor soalnya mudah banget ditembus lawan.

Les Lions de la Téranga” sempat mendapat parsel berupa penalti meski lebaran sudah lewat. Wasit menunjuk titik putih usai Sadio Mane diganjar Davinson Sanchez dari belakang.

Seperti biasa, tayangan VAR diperlihatkan ke khalayak ramai. Wasit pun enggak jadi kasih parsel tersebut takut dikira gratifikasi, nanti bisa tercyduq KPK.

Setelah melihat tayangan ulang yang bisa diulang-ulang, Sanchez ternyata melakukan tekel yang sangat bersih meski tak sebersih bersinar Sunlight. Dia berhasil mendapatkan bola lebih dulu dari kakinya Mane. Akibatnya penalti cuma PHP buat Senegal.

Pertandingan dilanjutkan, kedua tim tidak banyak melakukan jual beli serangan. Mungkin uangnya sudah habis terpakai liburan lebaran kemarin. Lihat saja, sepanjang laga jumlah tendangan ke gawang kedua tim cuma ada lima. Itu juga kebanyakan pistol air.

Di babak kedua juga sama. Senegal tampil lebih ngotot tapi tak bisa berbuat apa-apa. Justru Kolombia yang akhirnya mencuri gol lewat sebuah situasi tendangan sudut.

Pada menit ke-73, tendangan pojok Juan Quintero disambut baik-baik oleh Yerry Mina lewat sebuah tandukan kepala yang maha dahsyat. Kalau komentator bilangnya adalah “towering header”. 

Memang betul, lompatan Mina menerjang begitu kuat, meranggas bak batang bonsai. Bahkan bola yang disundulnya pun begitu deras tanpa bisa dicegah N’Diaye. Kolombia bergembira, kelolosan Senegal tampak tinggal wacana.

Senegal yang berbaju “Ikatan Jomblo Lucu dan Imut” alias “Ijo Lumut” mencoba membalasnya dua menit kemudian. Mbaye Niang yang meloloskan diri di kotak penalti berhasil menembakkan tendangan jarak dekat. Sayang masih bisa diblok dengan sensasional oleh David Ospina.

Senegal akhirnya resmi undur diri dari perhelatan Piala Dunia 2018 kali ini. Di pertandingan lain, Jepang sebetulnya juga kalah 0-1 dari Polandia.

Setelah dihitung-hitung, jumlah poin mereka berdua itu sama. Jumlah selisih gol sama, produktivitas gol juga sama. Lalu dihitung secara head to head juga sama. Pertanyaannya kenapa Senegal yang tersingkir?

Ya, tim besutan bapak reggae Aliou Cisse yang mirip Heimdall itu harus tersingkir karena kalah fair play. Bukan cuma kalah dari Kolombia yang berkostum kuning, tapi dalam aturan FIFA, jika semuanya sama, maka akan dihitung jumlah kartu kuningnya.

Total Jepang hanya mendapat empat kartu kuning dari tiga laga. Sedangkan Senegal dapat enam. Jelas dalam hal ini bukan banyak-banyakan kartu, tetapi mana yang lebih sedikit.

Jelas setelah ini para pemain Senegal bakal alergi sama yang kuning-kuning. Contohnya marka jalan, seragam Golkar, anak UI, pisang Sunpride, sampai bungkus Indomie Kari Ayam.

Ini merupakan sejarah baru dalam Piala Dunia, kelolosan seseorang ditentukan sampai ke jumlah kartu. Pelajaran juga ke depannya agar main bola di Piala Dunia harus bersikap baik kepada setiap lawan. Ramah, rendah hati, dan banyak sedekah.

https://twitter.com/Sporf/status/1012366940558516224

Cisse sendiri ikhlas mendapati timnya tersingkir gara-gara fair play. Sebenarnya ya salah sendiri, kenapa harus kebobolan dari Kolombia. Jadi tak usah menyalahkan kartu kuning, apalagi kartu kuning diberikan wasit juga karena pelanggaran yang dilakukan pemain Senegal itu sendiri.

Meski begitu, Senegal boleh berbangga hati karena mereka masuk sejarah dengan menjadi tim pertama yang tersingkir akibat kalah fair play dan Jepang jadi tim yang pertama kali lolos dari grup gara-gara fair play.

“Ini adalah aturan sepakbola. Kami gagal lolos karena aturan fair play, kami memiliki poin lebih sedikit dalam fair play tapi hari ini saya bangga akan tim dan kerja keras mereka. Senegal gagal lolos karena kami tak layak. Inilah kehidupan. Kami sebenarnya lebih suka tereliminasi dengan cara lain, sayang sekali bagi kami tapi itulah aturannya,” kata Cisse, di-copas dari Goal. 

Dengan tersingkirnya Senegal, maka ini pertama kalinya Piala Dunia tanpa diwakili tim Afrika sejak 1982. Sebuah kemunduran besar.

Sedangkan bagi kubu Kolombia, tak disangka mereka malah jadi juara grup. Padahal situasinya cukup sulit buat mereka sebelumnya. Cuma berada di posisi ketiga terpaut satu poin dari Jepang dan Senegal.

“Tidak ada formula ajaib dalam sepakbola dan jawaban mengapa satu tim mengalahkan yang lain. Saya pikir kami kemenangan itu bukan sebuah kebetulan,” kata Pekerman yang artinya adalah “manusia Peker” itu.

https://twitter.com/Sporf/status/1012449369356951557

Main photo: @Deadspin

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here