Oleh: Paundra Jhalugilang

Berita maut mengenai menu ‘Malaysian Rendang’ di stadion baru Tottenham Hotspur yang katanya mirip jamban itu belum juga reda. Warganet Indonesia yang super ‘duper’ sotoy masih saja marah-marah di media sosial.

Penyebabnya sudah jelas, merasa bahwa rendang yang asli Minang itu diklaim oleh orang Malaysia. Hal ini jelas menimbulkan kontroversi hati. Sekaligus kontroversi jari karena warganet sibuk mengetik keyboard HP-nya dengan sarat emosi.

Menu soal ‘Malaysian Rendang’ itu sebenarnya tidak salah. Soalnya, di Malaysia juga ada rendang, orang-orang Malaysia itu juga bikin rendang. Jangan geer kalau rendang cuma orang Indonesia doang yang bikin.

Justru kita lah yang harusnya banyak membaca dan memiliki pemahaman lebih ketimbang jadi orang pelit bahwa rendang itu dari Indonesia, lalu orang Malaysia tidak boleh pakai kata-kata ‘Malaysia’ sebelum atau sesudah kata ‘Rendang’.

Memang, orang Indonesia ini tersulut karena sebelumnya Malaysia pernah mengeklaim bahwa rendang adalah warisan budaya mereka. Itu terjadi pada 2012 saat pemerintah Malaysia ingin mencatatkan rendang ke akta Warisan Kebangsaan 2005 milik mereka.

Namun, banyak hal yang perlu diluruskan di sini. Termasuk soal klaim-klaiman rendang tersebut.

Kita tak perlu risau, tokoh kuliner Malaysia sudah mengakui kalau rendang itu berasal dari Indonesia. Mereka tidak pernah klaim kalau rendang itu berasal dari negara mereka.

Seperti dikutip Viva, Sous chef Hotel Equatorial, Kuala Lumpur, Azhar Alias, menyebut, jejak rendang dipastikan bisa dilacak dari Pulau Sumatera, Indonesia. “Adalah bagian dari kuliner Padang, yang dibawa oleh etnis Minangkabau ke Negeri Sembilan,” kata dia, seperti dimuat The Star. Orang Minang diketahui pindah ke pantai barat yang kini bagian Malaysia pada awal abad ke-15. 

Ashar Daud, Executive Sous Chef pada The 39 Restaurant di PNB Darby Park, KL, menyatakan hal senada. “Banyak masakan Malaysia memiliki akar di Indonesia atau dipengaruhi tradisi kuliner republik itu.” 

Jadi tak perlu lah kita klaim-klaim lagi soal rendang. Sudah jelas dan diakui bahwa rendang memang berasal dari Indonesia, bukan Malaysia.

Lagipula, warisan kuliner tidak bisa sembarang diklaim. Bahkan tidak bisa dipatenkan (sumur). Beda dengan seni dan budaya lain. Seperti misalnya batik, tari-tarian, atau lagu “Rasa Sayange” yang juga diklaim Malaysia. Kalau masalah itu kita bisa protes keras dan minta bukti apakah di Malaysia juga punya jenis tari-tarian yang sama dengan Indonesia.

Sedangkan kuliner, tidak jelas garis batasnya. Soalnya, sulit mengetahui siapa penciptanya dan adanya pencampuran budaya asing di dalamnya. Sate saja contohnya, berasal dari Gujarat dalam bentuk daging kebab, tapi kemudian dibawa ke Pulau Jawa dan diciptakan oleh orang Jawa dengan cara ditusuk-tusuk. Tapi tidak jelas siapa yang pertama kali membuat sate itu.

Rendang juga sama, sebenarnya memiliki pengaruh dari Portugis. Beratus-ratus tahun yang lalu, orang-orang Minang mengikuti cara memasak orang Portugis yang datang ke tanah Minang.

Teknik pengawetan daging ala Luso (budaya Iberia mencakup Portugis dan Spanyol) lantas dimodifikasi orang-orang Minang dengan cara memasaknya hingga tingkat kematangan tinggi untuk bekal orang Minang merantau. Makanya ‘rendang’ itu berasal dari kata ‘merandang’ yakni memasak santan hingga kering, supaya awet jalannya.

Setelah dibawa orang Minang ke Malaysia, maka terjadilah proses asimilasi di sana. Dengan segala bentuknya, rendang sudah jadi bagian dari keseharian orang Malaysia. Itulah kenapa mereka tulis ‘Malaysian Rendang’ yang berarti ‘Rendang Malaysia’ atau ‘Rendang khas Malaysia’.

https://twitter.com/Spurs_MAS/status/1114022369981607936

Jangan lupa, mereka juga tulis “Malaysian Chicken Curry” yang berarti “Kari Ayam Malaysia”. Semua orang tahu, kari itu dari India, tapi apakah orang India pada protes sampai-sampai menyerang akun Spurs Malaysia?

Itu juga sama seperti ‘American Pizza’. Pizza dikenal dari Italia, tetapi saat masuk ke Amerika dan dimodifikasi di sana, maka lahirlah ‘American Pizza’. Apakah orang Italia marah makanannya dipakai embel-embel ‘Amerika’? Jelas tidak.

Perkara ada orang Malaysia ngaku-ngaku rendang dari negara mereka ya biarkan saja. Kita tidak bisa menyumpal mulut orang Malaysia satu per satu. Lagipula, mereka juga merasa rendang sebagai bagian dari budaya mereka karena proses sejarah itu tadi.

Contohnya kayak musik keroncong saja. Selama ini kita tahunya keroncong itu asli Indonesia. Padahal aslinya dari kebudayaan Portugis. Namun kita tahunya tetap “Indonesia”. Ya karena sudah menjadi bagian kebudayaan kita juga selama bertahun-tahun.

Makanya, yang bisa dilakukan khusus kuliner ini hanya didaftarkan ke warisan kuliner dunia yang diakui, dan itu sudah dilakukan Indonesia saat mendaftarkan rendang ke UNESCO pada 2010.

Enggak Boleh Pakai Kata “Rendang”!

Kalau memang alasannya seperti “American Pizza” itu tadi, berarti kita juga bisa bikin ‘Indonesian Sushi’ dong, kan sudah jelas Sushi itu dari Jepang, lalu kita klaim ‘Indonesia’ di depannya.”

Ya bisa saja, asal Sushi sudah bertahun-tahun berada di Indonesia, lalu terjadi percampuran budaya, bahkan melahirkan sebuah Sushi yang berciri khas Indonesia.

Misalnya, Sushi Indonesia tidak pakai kecap shoyu, tapi pakai bumbu rujak. Kalau mau greget, pakai sambal geprek. Lalu isinya bukan ikan, tapi justru nasi lagi karena orang Indonesia kan sukanya nasi. Makan nasi, lauknya nasi. Terserah deh.

Semua orang sudah tahu Sushi itu dari Jepang. Maka jadi menarik jika kita tulis “Indonesian Sushi”, seperti apa itu sushi-nya orang Indonesia. Yang sebenarnya kita sudah lama tahu bahwa sushi-nya orang Indonesia adalah lemper.

Image result for malaysian rendang tottenham

Kemudian muncul argumen,

Kalau memang di Malaysia juga ada rendang, kenapa yang dipilih di stadion baru Spurs itu adalah ‘Rendang Malaysia’, kenapa mereka enggak tulis ‘Rendang Padang’ yang lebih original.”

Jawabannya kemungkinan ada dua. Pertama, mungkin karena Inggris merasa punya sisi historis lebih kuat dengan Malaysia. Bagaimanapun Malaysia kan bekas jajahan Inggris, dikasih merdeka cuma-cuma enggak kayak kita. Jadi secara asas proximity, ya mereka lebih pilih rendang Malaysia ketimbang Indonesia.

Kemungkinan kedua, stadion Spurs itu sudah seperti mal, bahkan ada hotelnya. Mereka menyewakan tennant-nya kepada siapapun yang mau sewa. Kebetulan yang menyewa adalah orang Malaysia, mereka dirikan kafe dengan masakan Malaysia di sana. Jadi ya terserah mereka dong.

Kalau kita mau protes, ya kita juga sewa spot di sana, bikin kafe saingan khas Indonesia, kalau perlu sebelahan, tulis besar-besar “KETOPRAK BETAWI ASLI INDONESIA” atau “RENDANG ORI INDONESIA” di menunya.

POKOKNYA, MALAYSIA ENGGAK BOLEH PAKAI KATA ‘RENDANG’, SUDAH JELAS ORANG MINANG DULUAN YANG MENCIPTAKANNYA DI INDONESIA,” begitulah seruan warganet setelah coba diruwat diberi penjelasan soal ‘Malaysian Rendang’.

Bro, kalau begitu cara berpikirnya, harusnya kita tidak boleh memakai istilah “BAKSO MALANG” atau “BAKSO WONOGIRI”. Soalnya Bakso itu asli dari China, yang menciptakan orang China, dibawa pedagang China ke Indonesia. Lalu terjadi akulturasi dan terciptalah “Bakso Malang” atau “Bakso Wonogiri”.

Berarti kita juga tidak boleh pakai “SOTO PADANG”, “SOTO LAMONGAN”, “SOTO KUDUS” dan ‘soto-soto’ yang lainnya di daerah-daerah Indonesia. Kenapa? Soalnya soto itu juga dari China, aslinya bernama “Jao To”.

Berarti kita juga tidak boleh pakai “KLAPERTART MANADO”. Sudah jelas dari namanya Klapertart itu dari Belanda, tapi ditambahi kata “Manado” di belakangnya.

Kemudian ada “MAKASSAR BAKLAVE”. Baklave adalah kue pastry asli dari Turki. Tapi sekarang jadi oleh-oleh khas Makassar, bahkan sekelas Irfan Hakim ikutan bisnis kue tersebut dan dipatenkan jadi brand. Harusnya orang Turki itu marah karena namanya diklaim orang Indonesia. Harusnya namanya adalah “Turkish Baklave”, bukan “Makassar Baklave”.

Mohon maaf, bukan bermaksud menyinggung orang Makassar, ini hanya contoh analogi saja. Supaya bisa mematahkan argumen para warganet yang darurat membaca itu.

Image result for makassar baklave

Lantas boleh kah kita menyebut “Makassar Baklave”, “Soto Padang”, “Bakso Wonogiri”, dsb itu? Ya boleh. Meski masakan aslinya berasal dari negara lain, tapi sudah dimodifikasi dan dikreasikan lagi oleh orang sini. Bahkan, kue Baklava asli Turki itu juga sudah dimiliki negara-negara lain dengan ciri khas negara masing-masing dengan isian yang berbeda-beda.

Kalau begitu, nanti bisa-bisa dunia lebih tahu rendang dari Malaysia ketimbang Indonesia.”

Tak perlu risau. Warga dunia pelan-pelan sudah tahu kalau rendang itu dari Indonesia. Rendang bahkan sudah diakui jadi makanan paling lezat sedunia oleh CNN global. Jadi ketika kita tulis “Rendang” otomatis yang ada di benak orang luar negeri adalah “Indonesia”. Kalau bahasa brand-nya adalah ‘Top of Mind”.

Wajar kalau orang Malaysia menulisnya dengan kata “Malaysian Rendang” untuk membedakan diri mereka dengan rendang asli dari Indonesia. Soalnya kalau tulisnya “Rendang” doang, sudah pasti dikira dari Indonesia.

Justru harusnya kita bangga, kata “Rendang” dipakai di negara lain. Kalau perlu, nanti ada “Italian Rendang”, “American Rendang”, sampai “Nigerian Rendang”.

Tapi orang luar negeri kebanyakan tahunya rendang itu dari Malaysia, tidak tahu kalau dari Indonesia.”

Ya kalau begitu sama seperti soto itu tadi. Orang luar negeri tahunya soto itu dari Indonesia. Bakso juga demikian, tahunya dari Indonesia, jarang yang tahu kalau dari China.

Tapi masak iya banyak yang enggak tahu rendang dari Indonesia? Sebagian besar atau sebagian kecil orang? Dari mana kita tahunya? Banyak temen asing kalian yang bilang begitu?

Rendang itu sudah 4 tahun berturut-turut dinobatkan sebagai masakan terlezat sedunia lho. Kebangetan kalau masih enggak tahu rendang itu dari Indonesia.

Kalau di-search di Google English, sudah banyak yang tahu rendang itu dari Indonesia. Di Wikipedia Inggris juga sudah tertulis dari West Sumatera, Indonesia. Sudah banyak juga website-website kuliner global yang memberikan resep rendang dan ditulis “Indonesian Rendang”. Sudah pernah masuk Master Chef juga dan bikin heboh.

Kalau memang benar banyak yang mengira dari Malaysia, berarti kesalahan bukan pada kita, melainkan teman ‘asing’ kalian yang kurang membaca atau kurang pemahaman.

Tapi bukan berarti kita diam saja. Kita juga harus rajin menjaga kualitas kuliner bangsa kita sendiri sembari terus memasarkan dan memamerkan kuliner kita ke negara lain. Warisan budaya kita ada ribuan jumlahnya, tidak mudah kita patenkan dan dicatat satu persatu ke warisan budaya Indonesia.

Tapi juga bukan berarti harus marah-marah di media sosial sampai menyerang akun Tottenham Hotspur. Tapi ya gitu, beberapa pembaca artikel ini juga paling masih nyinyir dan tetap emosi. Ngotot buat apa kita bangga nama “Rendang” dipakai orang Malingsia.

Ya namanya juga Indonesia.

Main photo: Hai-online


Paundra Jhalugilang

Penulis adalah pemuda harapan bangsa yang biasa-biasa saja. Bekas wartawan tanpa pengalaman yang melihat sepakbola dengan penuh pesona.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here