Kapten Real Madrid, Sergio Ramos, ‘baper’ atas ulah yang dilakukan pendukung Sevilla kepadanya. Pemain yang namanya mirip merek beras itu mendapat cemoohan dari fans sepanjang pertandingan Copa del Rey yang berakhir imbang 3-3.

Ramos mengaku sakit hati atas perlakuan tersebut. Dia tidak mengerti dengan takdirnya sebagai mantan pemain Sevilla yang kini malah dicemooh mantan pendukungnya. Parahnya lagi, pendukung “Sevillistas” menghina ibunya.

Memang, yang namanya mantan sudah pasti menyakitkan. Apalagi kalau si mantan jauh lebih cakep dan sukses bersama pasangannya yang baru itu. Mungkin itulah yang dirasakan kubu Sevilla.

Apalagi, Ramos merupakan produk asli akademi Sevilla. Pada 2005, pemain yang saat itu masih seumur jagung itu pindah ke Madrid.

Bagi Ramos, dia tidak mengerti kenapa mantannya itu masih saja sakit hati. Padahal, Ramos merasa perpisahannya baik-baik, tanpa pernah ada rasa menjelekkan si Sevilla. Bahkan, pemain berusia 30 tahun itu mengaku masih mencintai Sevilla apa adanya.

Tapi sekali lagi, namanya mantan memang suka begitu. Meski sudah diputus baik-baik, tetap saja si mantan merasa sakit hati dan malah bisa berbuat yang tidak-tidak.

Sebut nama saya tiga kali! (Twitter: Real Madrid Facts)

“Saya tidak suka kepada fans di sebagian sektor. Mereka menghina saya dan ibu saya sejak menit pertama. Padahal stadion ini (Ramon Pizjuan) selalu menjadi rumah kedua saya dan selalu ada di hati saya. Tapi sekarang saya kapten Madrid dan saya membela tim saya,” katanya, sedih, meski tanpa berlinang air mata.

Hinaan terhadap ibunya memang cukup parah. Fans Sevilla mengeluarkan yel-yel atau nama kerennya chant seperti, “Matilah Sergio Ramos!” dan “Ramos anak pela**r”.

Tentu kata yang disensor pakai tanda bintang itu bukan “pelajar”, tetapi yang dimaksud adalah “pelacur”. Itulah mengapa Ramos sangat marah meski tak sampai berubah menjadi Super Saiya 3.

Ramos kemudian membalas sikap mantannya itu saat mencetak gol Panenka lewat titik penalti. Dia menghampiri tribun Sevilla sambil menaruh tangan di kupingnya seraya bergumam, “Mana suaranyaa..?” kaya MC-MC di acara Dahsyat atau Inbox.

Yang lagi sedih mana suaranyaa? (Twitter: Squawka Football)

Meski begitu, Ramos langsung meminta maaf. Dia mengeluarkan kode-kode yang mudah dimengerti anak kelas 1 SDN Menteng 01 sekalipun. Dia menunjuk semua tribun seraya memberikan pesan kepada fans Sevilla, “Tolong maafkan saya atas apa yang pernah saya lakukan selama ini.”

“Saya tidak melecehkan siapapun. Saya bahkan meminta maaf kepada David Soria (kiper Sevilla) atas penalti itu. Jika melihat tayangan ulang, para suporter akan tahu. Saya tidak merayakan gol di sini, tapi saya membalas mereka yang menghina ibu saya,” sambungnya.

Lebih lanjut, pemain yang sudah mempersembahkan 13 trofi kepada Madrid itu merasa iri dengan Dani Alves dan Ivan Rakitic yang selalu disambut hangat sehangat bodi Sarah Azhari. Dia juga meminta Presiden Sevilla untuk mengkaji kembali sikap-sikap dari suporternya itu.

“Saya seorang Sevillismo, itulah mengapa saya tidak mengerti dengan sikap itu. Padahal Rakitic dan Alves yang berasal dari sana dipuja bak dewa ketika kembali. Saya pikir Presiden Sevilla harus mengambil sikap agar orang seperti mereka tidak mencemarkan nama klub,” kata pemain berpostur 183 cm itu.

Ramos bermain sebanyak 45 kali bersama Sevilla dan mencetak tiga gol. Salah satunya dicetak ke gawang Madrid yang saat itu dikawal Iker Casillas melalui tendangan jarak jauh yang meluncur deras tanpa mengucapkan “Assalamu’alaikkum.”

Main photo credit: Sportal.co.nz

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here