Oleh: Paundra Jhalugilang

Sebuah gagasan radikal mampu dikumandangkan Juventus pada awal 2017. Bak petir di siang bolong, tiba-tiba ramai lah linimasa penggila bola yang ada di muka bumi ini soal logo baru Juve. Memang tak sampai mengalahkan sidang Ahok, tapi berita ini jadi pusat perhatian masyarakat bola di Indonesia dan di dunia.

Juve tanpa mengucapkan kata permisi, tiba-tiba me-launching logo baru mereka. Lucunya, acara bertajuk “Black and White and More” itu dilakukan di kota tetangga, Milan, seolah ingin bikin iri tetangga. Tepatnya di Museo Nazionale della Scienza e Della Technologia Leonardo Da Vinci. Tidak tahu persis di sebelah mananya Jl. M.H Thamrin.

Yang menjadi perhatian adalah logo baru Juve yang benar-benar baru. Lain daripada yang lain. Berbeda dari logo-logo Juve sebelumnya, bahkan klub sepak bola pada umumnya, yang memperlihatkan kultur dan sisi sejarahnya. Contohnya di Indonesia yang kadang masih suka ada padi dan kapasnya, atau ikon dari kota dan provinsi terkait.

Sama dengan Juve, sebelumnya mereka punya gambar banteng lagi berdiri. Banteng diambil dari lambang kota Turin yang juga diidentikkan dengan klub pesaing, Torino. Tapi sekarang, tampilan logo baru lebih fresh. Menyegarkan kayak Bibie Julius kalau lagi memakai pakaian renang.

Logo Juve memang lebih modern dan kekinian. Hanya menampilkan dua warna kebesaran mereka, hitam dan putih. Huruf “J” kemudian membentuk perisai yang bermakna Scudetto sebagai pemegang gelar terbanyak.

Bahkan bagi para desainer, logo itu dianggap aplikatif untuk ditempelkan segala macam media. Tak lagi seperti logo-logo BUMN zaman dulu yang suka ada gambar kuda laut, perahu layar, kilat petir, hingga padi dan kapas.

Bahkan Manchester City yang juga baru saja mengganti logonya, masih tetap mempertahankan sisi historis dengan memunculkan gambar kapal Manchunian dan bunga mawar merah khas Lancashire.

Sayangnya, logo baru tersebut tak sepenuhnya diterima di sisinya. Maksudnya bagi masyarakat penggila bola dan suporter Juve sendiri. Seolah peluncuran ini malah backfire bagi image Juve yang sudah lama kental dengan warna belang-belang hitam-putihnya.

BACA INI JUGA DONG: Logo Juve Jadi Bahan Celaan: Ini Ujian, Memang Mengecewakan

Logo baru Juve jadi bahan olokan di media sosial. Beberapa langsung mengedit “sotosop” ala Kaskus, mempelesetkannya dalam banyak hal. Beberapa mencibir logo tersebut mirip dengan beberapa brand yang sudah ada sebelumnya. Kasarnya, menjiplak!

ju
Beberapa “sotosop” yang jadi becandaan. (Twitter: @FansNerazzurri)

Football Italia melansir bahwa olok-olok ini tak hanya dari fans tetangga. Tetapi juga dari suporter Juve sendiri. Mereka kecewa karena logo tersebut tak ubahnya seperti logo perusahaan. Bahkan bisa juga diidentikkan dengan perusahaan agency atau start up.

Ada juga yang bilang, tujuan perubahan logo tersebut hanya untuk kepentingan bisnis semata. Juventus menyebutnya dengan kata “logo”, padahal di klub sepakbola biasanya disebut dengan “lambang” (crest). Hal itu jadi sebuah kesalahan bagi netizen.

Secara tidak langsung, Juventini yang ada di muka bumi dan yang ada di planet lain, akan dianggap sebagai pelanggan, konsumen, customer, atau istilah semacam itu yang bisa Anda cari sendiri di kamus. Bukan sebagai fans atau suporter.

Langkah ini memang seperti lirik lagunya Raisa, serba salah. Maksudnya mau maju, malah dicela-cela orang, bahkan oleh suporternya sendiri.

sasaaa
Mirip sesuatu kah?

 

Gagasan Visioner

Juventus melalui Presiden Andrea Agnelli, memang secara terang-terangan menyebut perubahan ini bertujuan untuk bisnis. Mereka memandang bahwa Juve tak lagi dikenal sebagai klub sepak bola, melainkan sebuah usaha bisnis.

“Tujuan dari logo ini adalah untuk mengenalkan Juventus kepada masyarakat luas, baik itu kepada masyarakat sepak bola, atau masyarakat yang sama sekali tidak tertarik pada sepak bola. Jika masyarakat sudah mengenal Juventus, maka akan berpengaruh pada segala aktivitas bisnis Juventus pada masa depan,” tulis pernyataan resmi klub.

Jika diperhatikan secara lebih seksama, Juve memang sudah lama menyiarkan huruf “J” sebagai brand baru mereka. Hal itu sudah dimulai sejak penamaan stadion baru, Juventus Stadium, yang kini disebut J-Stadium.

Kemudian mereka mulai mendirikan hal lain dengan huruf “J”. Seperti J Medical, JTV, J-Museum, J Hotel, hingga J Cafe. Untunglah tidak keterusan sampai J-Ulia Perez dan J-Amal Mirdad. “La Vecchia Signora” memperkenalkan huruf “J” ketimbang nama “Juventus” itu sendiri.

Usut punya usut, Agnelli meneruskan ide visioner dari kakeknya, Gianni Agnelli, yang tertarik dengan kata-kata yang diawali dengan huruf “J”. “Saya merasa tertarik dengan kata-kata yang berawalan huruf J. Saya merasa senang ketika membaca koran yang diawali huruf J pada sebuah berita,” ucap Gianni ketika itu.

Juventus sepertinya ingin melekatkan huruf “J” dengan Juventus. Tiap orang lihat kata berawalan “J”, maka yang terlintas di benak mereka bukan Julia Perez, tapi Juventus.

Ada kata “Juara” yang terlintas adalah Juventus. Lihat kata “Jam” yang diingat adalah Juventus. Bahkan mungkin kata “Jijik” dan “Jorok” juga mungkin Juventus. Jika sudah seperti itu, maka Juve sudah berhasil mem-brainwash kita. Strategi branding mereka pun berhasil.

Adalah EMEA & LatAm, perusahaan konsultan bisnis yang ada dibalik konsep desain logo yang katanya memakan waktu setahun untuk dipikirkan Agnelli. Juve menjadi klub terdepan yang memiliki gagasan visioner, yang diawali dari perubahan logo mereka.

“Juventus menjadi klub terdepan dalam menerbitkan sebuah logo yang filosofis. Saya yakin identitas visual yang baru dalam bentuk logo ini akan membawa Juventus menuju masa depan cerah,” ungkap Chief Strategy Officer EMEA & LatAm, Manfredi Rizza, rada sok tahu.

Ketika klub lain masih mempertahankan aspek budaya dan sejarah, Juve ternyata sudah berpikiran maju. Mereka berpikir “Out of The Box” atau “Anti-Mainstream” layaknya pengusaha-pengusaha muda Start Up belakangan ini.

Dengan desain modern dan kekinian, mereka berani ambil risiko meninggalkan sisi budaya dan sejarah, demi meraup bisnis semata dan menyasar pasar lebih global. Apakah itu menyebalkan?

Tentu saja tidak. Bisnis merupakan aspek penting dalam kehidupan. Aktivitas dagang, jual-beli, sudah ada sejak zaman nabi. Sah-sah saja sebuah perusahaan mencari keuntungan, karena jika tidak bagaimana mereka mau survive.

Begitulah dengan Juventus. Dalam sebuah ilmu brand dan marketing, Juve sudah meninggalkan pola “Fulfill Demand” atau bahasa mudahnya tak lagi sekadar memenuhi kebutuhan. Tetapi juga memasukkan unsur “Create Demand” di sana, atau menemukan gaya baru untuk memenuhi permintaan pasar yang tak terpikirkan orang.

Contoh yang mudah adalah Gojek. Tak pernah terpikirkan oleh kita bagaimana memesan ojek cukup lewat smartphone. Tapi Gojek mampu meng-create demand tersebut dengan gagasan yang inovatif dan radikal.

Mungkin orang brand dan marketing lebih paham soal itu. Penulis mah apa atuh, hanya remahan momogi saja.

Di sinilah, Juve sepertinya melihat kesempatan itu. Perubahan image mesti dimulai dari tampilan visual terlebih dahulu. Apalagi, image skandal pengaturan skor 10 tahun lalu masih belum bisa pergi dari Juve. Itulah mengapa, Juve mati-matian melakukan kampanye komunikasi sana-sini demi mengurangi citra negatif tersebut.

Cibiran di media sosial tentu mengingatkan kita pada cerita Bahtera Nabi Nuh yang terkenal itu. Bagaimana Nabi Nuh yang mendapat pesan dari Sang Pencipta agar membangun sebuah kapal, kemudian mendapat olokan dari warga sekitar. Padahal, Nabi Nuh sedang berpikir maju, yakni menyelamatkan manusia dari terjangan air bah.

Cibiran tersebut boleh saja dirasakan oleh Juventus dan pendukungnya. Tak akan habis bahan ledekan itu hingga sampai mereka bosan sendiri, atau sampai aplikasi Photoshop-nya kadaluarsa. Tapi, bukan tak mungkin dalam beberapa tahun ke depan, klub yang juga identik dengan warna merah jambu itu meraup banyak uang yang berujung pada kesuksesan dan prestasi.

720f7a52-2cb6-4a97-9fcc-0397fd4f18a6


New Logo and Identity for Juventus by Interbrand

New Logo and Identity for Juventus by Interbrand
Logo baru Juve memang didesain untuk ini. Lebih dari sekadar bola. (underconsideration.com)

Bukan tak mungkin, banyak anak-anak atau orang yang buta sepak bola, terkesan dengan logo simpel tersebut sehingga gampang tertarik dengan pernak-pernik Juventus dan membelinya.

Juve secara jelas tak hanya menyasar pecinta bola. Tapi juga masyarakat umum yang kurang mengerti-ngerti amat soal bola, tapi mau membeli pernak-perniknya karena dianggap bagus dari segi desain dan tampilannya. Bahkan untuk bergaya dan nongkrong di warkop sekalipun.

Bukan tak mungkin, klub-klub lain mengikuti jejak inovatif Juve yang anti-mainstream itu dengan mengganti logo mereka lebih kekinian. Hingga membuat fans tetangga juga ikut merasakan yang dirasakan fans Juventus saat ini.

Yang jelas, semua itu tidak bisa kita pikirkan sekarang. Kelihatannya mengawang-ngawang. Rasanya kok aneh logo klub sepak bola seperti logo perusahaan start up dan digital. Tapi, Juve menciptakan logo ini untuk masa depan.

Bedanya dengan kisah Nabi Nuh, warga yang mencibirnya tak merasakan penyesalan karena langsung merasakan kematian. Kalau zaman sekarang, yang pada nyinyir baru berasa nyinyir-annya itu salah ketika Juve meraup buahnya pada masa depan.

Apakah gagasan visioner nan radikal ini mampu mengingatkan kita kembali pada cerita Nabi Nuh? Kita tunggu saja.


paundraPaundra Jhalugilang

Penulis adalah pemuda harapan bangsa yang biasa-biasa saja. Bekas wartawan tanpa pengalaman yang melihat sepakbola dengan penuh pesona. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here