Pemain muda harapan bangsa milik Bayern Muenchen, Joshua Kimmich, mengungkapkan bahwa dirinya merupakan penganut garis keras aliran tertentu. Aliran yang dimaksud bukan aliran sekte keagamaan atau aliran sungai Cisadane. Tapi aliran gaya bermain pemain idolanya.

Kimmich memang sudah menjelma menjadi bintang baru di persepakbolaan Jerman. Usai tampil gemilang di Piala Eropa lalu, pemain kelahiran 1995 itu melanjutkan kegemilangannya bersama Muenchen musim ini. Dari 13 pertandingan, Kimmich sudah menciptakan tujuh gol. Wow, fantastis!

Apalagi, pemain yang direkrut dari Leipzig itu bisa dikatakan sebagai pemain serba bisa. Bisa jadi gelandang, bisa bek tengah, bisa bek kanan, bisa terpeleset, hingga bisa mencetak gol ke gawang sendiri.

Kimmich rupanya sangat mengidolakan gaya permainan bintang Spanyol dan Barcelona, Xavi, sejak masih piyik. Ya, saat Kimmich lagi sibuk main kelereng di Stuttgart, Xavi memang sudah menjuarai Liga Champions bersama Barcelona.

“Xavi adalah anutan saya sejak kecil. Dia adalah pemain yang sangat bagus secara teknik dan memiliki jiwa kepemimpinan,” ujarnya seperti dikutip Goal yang mengutipnya lagi dari situs resmi UEFA. “Dia tahu bagaimana melakukan kombinasi dengan rekan setim dan selalu ingin melayani mereka.”

Kimmich yang wajahnya masih polos seperti belum mengenal seks itu merasa memiliki banyak kesamaan dengan Xavi. Meski tidak seganteng Xavi, dia menjadikan Xavi sebagai role model karena punya fisik yang mirip dengannya.

Maksudnya, Xavi memiliki postur yang tidak terlalu tinggi jika dibandingkan kebanyakan pemain Eropa. Tingginya hanya 170 cm, sama dengan tinggi badannya Raisa.

Sementara Kimmich sebenarnya masih lebih tinggi dari Xavi, yakni 176 cm. Tetapi posturnya terbilang mungil, tidak terlalu kekar seperti Ade Rai. “Saya juga menjadikannya anutan karena Xavi tidak memiliki fisik yang setara dengan kebanyakan pemain lainnya,” sambungnya.

Menganut Aliran Lahmrian

Kimmich juga mengidolakan kapten timnya di Muenchen, Phillip Lahm. Itulah yang membuatnya bisa bermain di posisi mana saja. Lahm memang dikenal bisa bermain di sisi kanan maupun kiri. Bahkan kerap menjadi gelandang bertahan.

“Lahm juga anutan saya. Sangat sedikit pesepakbola di dunia yang memiliki level konsistensi seperti dia,” tambah pemain bernomor punggung 32 itu.

Namun, Kimmich Sepertinya masih jauh lebih komplit, spesial pakai telur. Dia juga bisa menjadi bek tengah meski posturnya mungil meski tak semungil Oompa Loompa. Posisi yang mungkin belum pernah dicoba oleh Lahm.

Hal itu terjadi pada musim lalu saat Kimmich dipaksa oleh Pep Guardiola karena Bayern mengalami krisis bek tengah. Dia terpaksa diduetkan oleh David Alaba, yang notabene juga seorang bek sayap.

Tetap Merendah

Meski sudah digadang-gadang jadi pemain hebat, Kimmich tetap membumi alias down to earth. Dia sadar betul bahwa dirinya hanya jadi ampas kopi di sela-sela gigi bila dibanding Thomas Mueller dan kawan-kawan.

“Cuma karena saya main reguler dan mencetak satu atau dua gol, saya masih bukan apa-apa dibandingkan Manuel Neuer, Thomas Muller atau Xabi Alonso,” tuturnya.

Kimmich bahkan bercerita bahwa tahun lalu belum ada orang yang mengenalnya. Dia memang datang ke Allianz Arena dengan status dari pemain divisi dua.

“Nama saya lebih sering muncul di media dan saya lebih sering dimintai foto. Itu tidak terjadi setahun lalu, ketika saya berada di bus tanpa seorang pun tahu siapa saya,” Kimmich menjelaskan.

Memang perlu dicari tahu bus apa yang dia tumpangi. Jangan-jangan memang bus sedang mogok sehingga isinya hanya dia sendirian. Atau jangan-jangan Kimmich naik bus Pantura Lorena dan Dewi Sri yang tentu saja dirinya akan dianggap sebagai ‘bule’ biasa. Bukan pemain Muenchen.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here