Sepakbola memang menjadi daya tarik bagi semua orang, tak terkecuali presiden kita, Presiden Jokowi. Presiden yang gemar membangun infrastruktur ini meresmikan Tol Soroja (Soreang-Pasirkoja). Yang menarik, Jokowi menggunakan bus Persib bersama manajemen dan pemain Persib Bandung.

Terdapat sembilan Pemain Persib Bandung yang ikut serta dalam rangka uji coba tol tersebut. Yaitu Atep, Tantan, Imam Arief Fadillah, Wildansyah, Gian Zola Nasrulloh, Henhen Herdiana, Jajang Sukmara, Muhammad Natshir, dan Fulgensius Billy Paji Keraf.

Seperti diutarakan Tantan, dia mengaku hanya bisa menyalami dan foto bersama saja. Boro-boro mau ajak omong soal negara. Tetapi, Presiden Jokowi sempat memuji bus tim “Maung Bandung” kepada Umuh Muchtar. Dia iri karena kantor nomor satu di negaranya itu tak punya bus secanggih Persib.

“Pak Presiden menyalami dan foto bersama saja. Tapi, beliau bilang ke Pak Haji (Umuh Muchtar), busnya bagus, Presiden saja tak punya bus semacam itu,” kata Tantan menirukan ucapan Jokowi kepada Umuh.

Menurut Yudiana, Sekretaris Persib Bandung, sebelum digunakan oleh Presiden Jokowi, bus “Maung Bandung” menjalani uji fisik sekaligus gladiresik persemian tol tersebut. Dia tak tahu mengapa Jokowi menggunakan bus Persib yang berwarna biru tersebut.

Mungkin biar ada muatan lokalnya, mungkin. Pasalnya, Jokowi bisa saja menggunakan bus-bus macam Lorena, Dewi Sri, Handoyo, dan Pahala Kencana yang biasa kebut-kebutan di Pantura. Tapi mungkin Jokowi takut kalau naik bus itu malah menghadapi maut. Mending naik bus Persib bisa lebih santai.

Usut punya usut, ternyata Jokowi ini kesemsem dengan bus yang katanya canggih itu. Ya, para warga Persib memang sangat bangga dengan bus pemainnya yang bermesin Hino RN series bermesin 7.684 cc, bus ini mampu menghasilkan tenaga 285 dk serta torsi 892 Nm.

Untuk tambahan kenyamanan skuat Persib, dipasang TV LED 30 inci di bagian depan dan ukuran 22 inci di bagian tengah. Kedua televisi tersebut melengkapi pemutar DVD dan tata suara 8 buah speaker dan satu subwoofer. Pokoknya nyaman dan ‘mevvah’.

“Alhamdulillah saat test drive lolos, dan bus Persib pun digunakan Pak Jokowi. Kami menerima informasi dari Paspampres, katanya dari staf Istana Kepresidenan ingin menggunakan bus Persib saat pembukaan Tol Soroja. Mungkin atas inisiatif Pak Jokowi sendiri,” ujar Yudiana, dikutip dari Bola.com.

Adapun bus tersebut biasa digunakan para pemain dan ofisial Persib saat bertanding. Bus tersebut juga tidak pernah dipakai atau disewa oleh Jose Mourinho untuk diparkir di depan gawang Manchester United (MU).

Sayangnya, ada kesedihan dibalik kegembiraan Jokowi naik bus Persib. Usep Tatang, selaku kondektur yang sudah sangat bersahabat dengan bus Persib sangat kecewa lantaran dia tak diperbolehkan ikut berada di bus Persib.

Padahal, dia dan bus Persib hampir tak pernah terpisahkan. Ke mana-mana selalu berdua kayak roda gerobak. Parahnya lagi, sudah tidak boleh ikut dia malah cenderung ditinggal sendiri di gerbang Tol Soroja. Beruntung ada truk pengangkut barang yang menyelamatkan nyawanya. Kalau tidak, bisa jadi ikan asin kelamaan nunggu di tol yang panas itu.

Alasannya tentu saja karena keamanan dan protokoler. Dia dilarang Paspamres, padahal sudah memakai baju rapi jali dengan harapan bisa salaman dengan Jokowi. Syukur-syukur bisa dibagi sepeda.

Sedih sekali perasaan saya. Saya sudah senang dan bangga akan melayani bapak Presiden. Tapi, ternyata tidak bisa masuk. Ini juga sudah pakai batik karena mau bertemu Presiden,” ucapnya, sedih, dikutip Liputan6. 

Presiden Jokowi memang tidak jauh-jauh dari sepakbola akhir-akhir ini. Pada peresmian venue Asian Games 2018, yakni lapangan hockey, lapangan latihan sepak bola Timnas Indonesia, lapangan panahan, yang diakhiri dengan peresmian arena akuatik.

Jokowi sempat mempertanyakan sepak bola Indonesia yang jarang menang di level senior. Hal ini dituturkan Sekjen PSSI, Ratu Tisha Desriana, di sela-sela acara peresmian tersebut.

“‘Kenapa ya, pemain yang muda-muda bisa menangan, tapi kalau sudah ke senior jadi kalahan’, Saya katakan kepada beliau, permasalahannya bukan pada jenjang pemain, melainkan pada jenjang kepelatihan yang terputus dari jenjang yang lebih muda ke jenjang selanjutnya,” ungkap Ratu Tisha kepada Bola.com. 

Lebih lanjut, dia menambahkan, “Antara pelatih yang satu dengan pelatih berikutnya. Hal itu yang menjadi sangat krusial saat ini karena guru yang baik akan menghasilkan murid yang jauh lebih baik.”

Tantangan yang diberikan oleh Presiden Jokowi, langsung ditanggapi PSSI dengan beberapa langkah yang dilakukan salah satunya melalui buku Filanesia yang menjadi kurikulum dalam pemberian kursus kepelatihan lisensi D dan C. Selain itu, PSSI terus memantau perkembangan pemain agar tidak terputus dan terpantau hingga level senior.

Main photo: Kompas

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here