Oleh: Paundra Jhalugilang

Warga sepak bola Indonesia tiba-tiba dikagetkan dengan sebuah kabar yang entah menggembirakan atau tidak. Sumber utama para perajin meme, Edy Rahmayadi, tiba-tiba saja mengundurkan diri dari Ketua PSSI.

Memang belakangan lagi banyak angin dan hujan, kadang badai. Namun sepertinya tidak memengaruhi keputusan Om Edy untuk mundur.

Saat membuka kongres tahunan PSSI di Bali beberapa hari lalu. Sontak, hal ini mengagetkan warga bola se-Indonesia, dari Indomaret Sabang sampai Indomaret Merauke.

Menariknya, Edy mundur saat tagar #EdyOut sudah tak lagi berkumandang. Mungkin Om Edy ini sudah lama menyiapkan prank semacam ini. Dia sudah tahu suatu saat bakalan mundur, tapi kalau mundur pas lagi anget-anget-nya kegagalan timnas Indonesia di AFF 2018 kemarin, pasti tidak seru.

Serunya ya sekarang ini. Saat tabir pengaturan skor mulai terkuak, suara sumbang masyarakat mendesak mundur mulai berkurang. Satu per satu pengurus PSSI di-cyduq oleh pak Polisi.

Namun, apakah pengunduran Om Edy ini berjalan tepat? Sebetulnya, kepemimpinan Om Edy ini tidak seburuk yang warganet kira. Warganet kan memang sok tahu. Yang dilihat hanya prestasi saja. Timnas kalah, ketua PSSI yang bersalah.

Jika dilihat dari kiprah timnas, sebenarnya terlihat jelas ambisi besar Om Edy dalam membuat timnas yang tangguh. Pelatih sekelas Luis Milla didatangkan. Regenerasi timnas junior ke senior juga dilakukan secara bertahap.

Angkatan Evan Dimas di U-19 perlahan masuk ke U-23, bahkan ada yang sudah masuk timnas senior. Sistem seperti ini sudah sangat baik, bila dibandingkan sistem zaman dulu saat sekjen-nya masih Bapak Besoes. Bahkan pelatih Indra Sjafri tetap dipertahankan di timnas junior karena tahu kemampuan bapak berkumis itu dalam mencari talenta muda.

Namun memang, permasalahan di tubuh sepak bola Indonesia masih belum hilang. Skandal pengaturan skor, mafia, hingga perkelahian antar-suporter tidak bisa ditangani Om Edy dengan cepat. Mungkin sudah berusaha, tapi hasilnya belum terasa.

Ditambah lagi, warganet makin ilfeel setelah Om Edy terjun ke dunia politik dan terpilih jadi Gubernur Sumatera Utara. Masak iya harus pimpin tiga organisasi sekaligus? Belum lagi pernyataan-pernyataan kontroversial yang sangat lucu dari Om Edy menjadikannya sebagai top 10 bahan meme versi On The Crot. 

Kembali ke masalah utama, apakah pengunduran diri Om Edy ini dibutuhkan? Jawabannya sederhana. Butuh.

Penulis dapat menyimpulkan dari tayangan Mata Najwa bahwa ketegasan Om Edy ini sangat dibutuhkan di PSSI. Apalagi Om Edy ini merupakan sosok dari TNI yang harusnya bisa menancapkan kukunya di PSSI, dengan memberikan power yang begitu hebat.

Sebagian narasumber di Mata Najwa saat itu sepakat bahwa kinerja Om Edy sudah sangat baik. Bahkan Edy sudah beberapa kali ingin mundur ketika didesak warga, tapi selalu ditahan oleh para anggotanya.

Jadi kalau bertanya kenapa Om Edy ini susah banget mundur, yang salah memang bukan ketuanya, tapi ya anggota-anggotanya. Tidak mungkin lah Om Edy ini tidak tahu harus mundur ke mana. Semua sudah tahu kalau mundur itu pasti ke belakang. Melakukan itu tidak sulit, tinggal jalan mundur saja.

Jika diamati lebih jauh, sebagian besar warganet ini mengeluhkan rangkap jabatan Om Edy. Makanya menyuruh dia untuk mundur karena tahu Om Edy tak akan mampu memimpin dua organisasi besar sekaligus.

Hal senada disampaikan Bapak Sesmenpora, Gatot S. Dewa Broto, di acara Mata Najwa tersebut. Bapak Edy sebenarnya tidak melanggar peraturan dengan merangkap jabatan.

Hal itu lumrah terjadi seorang pemimpin daerah juga memimpin organisasi olahraga. Contohnya Alex Noerdin, gubernur Sumatera Selatan, merangkap ketua Perbakin. Contoh lain adalah Wiranto yang kini menjabat sebagai Menkopolhukam yang berbarengan dengan ketua PBSI.

Sayangnya, fans sepak bola di Indonesia jauh lebih besar dan lebih crazy dibandingkan penggemar olahraga menembak dan bulutangkis. Sepak bola sudah seperti agama dan candu. Bisa bunuh-bunuhan hanya demi membela klub masing-masing lalu menganggapnya mati syahid.

Belum lagi kompetisi sepak bola yang begitu besar. Dari liga amatir, Liga 3, sampai Liga 1. Jelas level kompetisi bulutangkis tak sebesar ini.

Makanya, Pak Gatot memberikan kritikan. Bagaimana mungkin Pak Edy bisa memantau anak buahnya di Jakarta sedangkan dia berada jauh di Medan?

Apalagi, ya kita semua tahu bahwa anggota-anggota Exco PSSI itu tidak bisa dipercaya. Buktinya sudah dua orang ditangkap gara-gara pengaturan skor. Jelas bahwa Exco PSSI itu ada beberapa yang ‘BGSD’ kalau memakai istilah anak zaman sekarang.

Jadi, mempercayakan kepemimpinan kepada Exco PSSI ya sama saja mempercayakan PSSI kepada para ‘BGSD’. Memang tak semua Exco seperti itu, tetap ada yang bersih. Tapi entah berapa banyak.

Oleh karena itu, pengunduran Om Edy tentu menjadi keputusan yang bijak. Biar kan Om Edy memimpin Sumatera Utara dengan tenang. Jika tetap ingin berkiprah di sepak bola, bisa sekalian memajukan sepak bola di Sumatera Utara. Siapa tahu dapat bibit-bibit unggul dari Medan dan sekitarnya.

Sekarang kita berharap, semoga yang jadi ketua PSSI berikut-berikutnya benar-benar punya ketegasan dan power yang kuat. Tidak lagi dari kalangan itu-itu saja.

Main photo: @Hengky_JN


Paundra fin

Paundra Jhalugilang

Penulis adalah pemuda harapan bangsa yang biasa-biasa saja. Bekas wartawan tanpa pengalaman yang melihat sepakbola dengan penuh pesona.

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here